Kebebasan berbicara merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat. Setiap orang berhak menyampaikan pendapat, memberikan kritik, atau mengungkapkan sesuatu yang dianggap tidak sesuai. Namun, kebebasan tersebut tetap memiliki batas berupa tanggung jawab. Sebab, perkataan yang tidak dipikirkan dengan baik dapat menimbulkan persoalan, terlebih jika digunakan untuk menyebarkan fitnah dan menjatuhkan orang lain.
Persoalan inilah yang menjadi salah satu pokok cerita dalam novel Bungkam Suara karya J. S. Khairen. Melalui sebuah negara rekaan bernama Negara Kesatuan Adat Lemunesia (NKAL), penulis menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat dengan sistem pemerintahan dan aturan yang berbeda dari dunia nyata. Negara ini memiliki sejarah kerajaan-kerajaan kecil yang kemudian bersatu, serta sistem kepemimpinan yang melibatkan Raja Utama dan Pemangku Adat.
Salah satu aturan yang menarik perhatian adalah Hari Bebas Bicara (HBB). Pada hari tersebut, masyarakat diperbolehkan menyampaikan perkataan secara bebas tanpa takut mendapatkan konsekuensi hukum. Aturan ini sekilas tampak memberikan ruang bagi rakyat untuk mengutarakan pendapat. Namun, ketika kebebasan tersebut disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah dan memecah belah, persoalan justru semakin meluas hingga menyentuh kehidupan masyarakat dan pemerintahan.
Gagasan HBB menjadi daya tarik tersendiri karena membawa pembaca pada persoalan yang tidak asing dalam kehidupan sekarang. Melalui latar fiksi, novel ini menyinggung berbagai keadaan di ruang digital, seperti penyebaran kabar yang belum jelas kebenarannya, pembentukan opini, hingga penggunaan suara publik untuk kepentingan tertentu. Pembaca pun dapat melihat bahwa persoalan dalam cerita tidak sepenuhnya jauh dari kenyataan yang terjadi di sekitar kita.
Kekuatan novel ini terletak pada keberanian penulis mengangkat persoalan sosial dan politik melalui dunia rekaan. Sistem pemerintahan NKAL, aturan adat, serta istilah-istilah khusus yang digunakan memberikan ciri tersendiri pada cerita.
Selain itu, gaya penceritaan yang memadukan sindiran dan humor membuat persoalan yang cukup serius terasa lebih ringan untuk diikuti. Kritik yang disampaikan juga tidak hanya berhenti pada persoalan kebebasan berbicara, tetapi mengajak pembaca memperhatikan bagaimana opini masyarakat dapat dipengaruhi oleh pihak yang memiliki kepentingan.
Meski demikian, novel ini memiliki beberapa bagian yang mungkin membutuhkan perhatian lebih. Banyaknya tokoh, istilah khusus, dan persoalan politik yang saling berkaitan dapat membuat pembaca sedikit kesulitan memahami cerita pada awalnya. Beberapa karakter pendukung juga terasa belum mendapat ruang pengembangan yang cukup. Bagi pembaca yang menyukai alur sederhana, kepadatan konflik tersebut mungkin membuat proses membaca terasa lebih lambat.
Terlepas dari hal tersebut, Bungkam Suara menawarkan bahan renungan yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Novel ini mengingatkan bahwa tidak semua informasi yang ramai dibicarakan dapat langsung dipercaya. Kita perlu berpikir kritis, memeriksa kebenaran kabar, dan tidak mudah terbawa opini yang sengaja dibentuk untuk kepentingan tertentu. Selain itu, suara masyarakat seharusnya menjadi sarana menyampaikan kebenaran dan memperjuangkan keadilan, bukan alat untuk merugikan pihak lain.
Pada akhirnya, kebebasan berbicara bukan hanya tentang hak untuk menyampaikan sesuatu, tetapi juga kesediaan untuk bertanggung jawab atas apa yang diucapkan. Di negeri yang menyediakan satu hari untuk bebas berbicara, justru terlihat bahwa persoalan terbesar bukanlah ketika suara dibungkam, melainkan ketika setiap orang merasa suaranya paling layak untuk didengar.
Semoga novel Bungkam Suara karya J. S. Khairen ini dapat mengajak pembaca lebih bijak dalam menggunakan suara dan kebebasannya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang digital. Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Bungkam Suara
Penulis: J. S. Khairen
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2023
Tebal buku: 366 halaman
ISBN: 978-602-05-2981-3
Baca Juga
-
Mendidik Anak dengan Kasih Sayang ala Nabi dalam Happy Islamic Parenting
-
Mengulik Makna Kedukaan: Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring
-
Ulasan Novel Para Priyayi, Menjadi Terhormat Bukan Sekadar soal Jabatan
-
Ulasan Novel Bumi: Petualangan Tiga Sahabat Menjelajahi Dunia Paralel
-
Belajar Menghargai Pengorbanan Orang Tua dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bedah One Piece Chapter 1197, Saat Haki Sanji Jadi Tameng Luffy di Elbaf
-
Strawberry, Ice Cream, and You: Luka Keluarga yang Tak Mudah Disembuhkan
-
Review Buku The Alchemist: Meniti Mimpi antara Takdir dan Realita Pilihan
-
Ulasan Robohnya Surau Kami: Ketika Kesalehan Kehilangan Makna
-
Eccentric! Chef Moon: Saat Kuliner Pedesaan Sembuhkan Dua Jiwa yang Patah
Terkini
-
CODE GEASS: Star Chaser Aspal Umumkan Jadwal Tayang 2027, Seiyuu, dan Staf
-
Nasib Generasi Sandwich: Bisakah Berbakti Tanpa Mengorbankan Masa Depan?
-
Bebas Kering! 5 Rekomendasi Body Lotion Shea Butter yang Nyaman di Kulit
-
Shin Min Ah, Lee Jin Uk, dan Yoo Teo Dipastikan Bintangi Wed Thurs Fri
-
Review Godzilla Minus Zero: Ketika Teror Monster Menjadi Alegori Trauma