Lintang Siltya Utami | Agustian Pamungkas
How to Be a Friend karya Marcus Tullius Cicero. (Gramedia)
Agustian Pamungkas

Kalau membahas soal pertemanan, kita mungkin lebih sering memikirkan pengalaman pribadi daripada membaca nasihat dari seseorang yang hidup ribuan tahun lalu. Namun, How to Be a Friend karya Marcus Tullius Cicero justru membawa pembahasan tentang persahabatan dari sudut pandang yang berbeda. Buku yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada 2023 ini merupakan terjemahan dari karya klasik Cicero berjudul De Amicitia, yang secara khusus membahas arti dan nilai sebuah persahabatan.

Cicero tidak melihat persahabatan hanya sebagai hubungan antara dua orang yang sering menghabiskan waktu bersama. Dalam buku ini, ia membahas bagaimana sebuah hubungan bisa terbentuk karena adanya rasa saling menghargai, kepercayaan, dan kedekatan yang tidak didasarkan pada keuntungan semata.

Pemikiran tersebut menarik karena dalam kehidupan sehari-hari, kita memang bisa bertemu dengan orang yang dekat karena kepentingan tertentu, tetapi hubungan seperti itu belum tentu bertahan ketika kepentingannya sudah tidak ada.

Pembahasan kemudian mengarah pada bagaimana seseorang memilih teman. Cicero melihat bahwa persahabatan yang baik tidak bisa dibangun secara sembarangan. Ada pertimbangan mengenai karakter seseorang dan bagaimana ia bersikap kepada orang lain. Kedekatan saja tidak selalu cukup untuk membuat sebuah hubungan menjadi persahabatan yang benar-benar kuat.

Hal lain yang dibahas adalah bagaimana menjaga hubungan ketika persahabatan sudah terbentuk. Menjadi teman bukan berarti harus selalu menyetujui semua tindakan orang yang kita sayangi. Ada situasi ketika seseorang justru perlu mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar temannya. Kejujuran dan kesetiaan menjadi bagian dari hubungan tersebut, terutama ketika keduanya sedang menghadapi persoalan.

Cicero juga membahas persahabatan yang tidak dibangun atas dasar pamrih. Menurut pemikirannya, hubungan yang paling berarti bukan ketika seseorang berteman hanya karena ada sesuatu yang bisa didapatkan dari orang lain. Persahabatan yang lebih dalam muncul ketika dua orang saling menghargai dan menikmati keberadaan satu sama lain tanpa terus menghitung apa yang sudah diberikan atau diterima.

Menariknya, gagasan seperti ini ditulis Cicero pada zaman Romawi kuno, tetapi pembahasannya masih berkaitan dengan kehidupan sekarang. Perubahan zaman membuat cara orang berkomunikasi semakin mudah, tetapi hubungan yang dekat dan benar-benar saling memahami tetap membutuhkan perhatian. Karena itu, pembahasan tentang bagaimana menemukan, menjaga, dan menghargai seorang teman masih menjadi bagian penting dalam buku ini.

Buku How to Be a Friend karya Cicero ini sukses mengubah pandangan Saya tentang hubungan antarmanusia. Awalnya, Saya mengira buku filsafat klasik yang ditulis sebelum masehi akan terasa berat dan membosankan. Nyatanya, pemikiran Cicero yang diterjemahkan dengan apik ini justru terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan modern kita saat ini.

Di dalam buku ini, Cicero menekankan bahwa sahabat sejati adalah cerminan dari diri kita sendiri. Saya sepakat dengan poin bahwa persahabatan yang tulus tidak boleh didasari oleh motif mencari keuntungan pribadi atau sekadar social climbing. Menemukan orang yang bisa diajak berbagi tanpa ada topeng dan kepura-puraan di zaman sekarang memang menantang, dan buku ini memberikan kompas yang jelas untuk itu.

Hal lain yang menyentuh adalah bagaimana buku ini mengajarkan cara menyikapi konflik dengan kepala dingin. Hubungan pertemanan tidak selamanya mulus, dan Cicero dengan bijak mengingatkan kapan kita harus bertahan dan kapan harus merelakan sebuah hubungan demi kebaikan bersama. Bahasanya yang mengalir membuat lembar demi lembar buku ini terasa seperti obrolan mendalam dengan seorang mentor yang bijaksana.

Pesan moral paling berharga dari buku ini adalah persahabatan sejati hanya bisa tumbuh di atas fondasi kejujuran dan kebajikan. Melalui buku ini, kita diingatkan untuk tidak hanya sibuk menuntut orang lain menjadi teman yang baik, tetapi juga berkaca apakah kita sudah menjadi sahabat yang tulus bagi mereka. Buku tipis ini sangat layak dibaca bagi siapa saja yang ingin merawat hubungan yang lebih bermakna di tengah dunia yang makin individualis.