Sekar Anindyah Lamase | Ken Hitana
Cover Buku The Castle (Goodreads)
Ken Hitana

Bagaimana perasaanmu saat akan dipanggil ke suatu tempat untuk urusan pekerjaan, tapi tidak pernah benar-benar sampai ke tujuan? Kamu tahu alasan kedatanganmu, tetapi semakin berusaha mencari kepastian, semakin banyak hal yang justru terasa membingungkan.

Situasi tersebut dialami K., tokoh utama dalam Kastil atau The Castle karya Franz Kafka. Ia datang ke sebuah desa untuk menjalankan pekerjaan sebagai juru ukur tanah setelah mengaku mendapat panggilan dari pihak kastel. Namun, alih-alih bisa langsung bekerja, K. justru menghadapi berbagai aturan dan birokrasi yang membuat statusnya di desa tersebut tidak pernah benar-benar jelas.

Semakin jauh, perjalanan itu malah membawa K. pada pencarian dan pengakuan jati diri, bukan lagi masalah pekerjaan.

Kastel yang Terasa Dekat, Tapi Tak Bisa Digapai

Ilustrasi Kastel (unsplash/Cederic Vandenberghe)

The Castle dibuka dengan K. yang melakukan perjalanan dinas menuju suatu desa karena dipanggil oleh pihak kastel. Belum pernah ke sana, ia banyak bertanya pada warga sekitar tentang kastel itu. Bukannya dapat petunjuk, K. justru semakin bingung dengan informasi simpang siur dari mereka.

Ironisnya, kastel tersebut sebenarnya tidak terasa jauh. K. bahkan dapat melihat keberadaannya. Tetapi, untuk benar-benar berhubungan dengan orang-orang di dalamnya terasa seperti perkara yang hampir mustahil. Setiap kali K. merasa sudah menemukan jalan untuk mendapatkan kepastian, muncul aturan, pesan, atau perantara baru yang kembali membuatnya berada di titik awal.

Tokoh yang Semakin Menjauhkan K. dari Tujuannya

Ilustrasi Orang Tersesat (unsplash/The Prototype)

Dalam perjalanan mencari jalan menuju kastel, K. sebenarnya tidak sepenuhnya sendirian. Ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki hubungan dengan kastel dan bahkan mencoba memanfaatkan hubungan tersebut untuk mendapatkan kepastian, seperti Frieda.

Frieda merupakan mantan kekasih Klamm, salah satu petinggi kastel. Karena itu, K. berusaha menggali banyak informasi mengenai kastel darinya. Bahkan K. sampai menjalin hubungan romantis dan bertunangan dengannya. Mengetahui niat awalnya, Frieda memutuskan hubungannya dengan K.. Apakah K. mendapat sesuatu tentang kastel? Tentu saja, tidak.

Berbicara soal Klamm, ia adalah pejabat tinggi kastel. Oleh karena itu, Klamm jadi orang yang sangat dicari-cari K. saat ini. Sebelum itu, K. juga mencari informasi tentang Klamm dari beberapa warga desa. Namun, mereka justru memberikan penjelasan yang tidak jelas tentangnya. Deskripsi fisik Klamm pun berbeda-beda di setiap orang yang ditemuinya.

Semakin Lama, K. Terjebak dalam Ketidakpastian

Ilustrasi Papan Penunjuk Jalan (unsplash/Robert Ruggiero)

Semakin lama berada di desa, K. tidak hanya kesulitan mendapatkan akses ke kastel, tetapi juga mulai kehilangan kepastian tentang status dirinya sendiri. Kepala desa bahkan menjelaskan bahwa kedatangan K. sebagai juru ukur merupakan kesalahan administratif.

Di sinilah pencarian K. mulai terasa mendalam. Ia tidak lagi sekadar mencari kastel atau pekerjaan sebagai surveyor, tetapi juga mempertanyakan dirinya sendiri. Siapakah ia di desa itu? Apa tujuannya? K. mulai merasa ragu dan asing dengan tempat itu.

Saya sama frustasinya dengan K. saat membaca novel ini. Apalagi setiap K. mulai mencari tahu tentang kastel dan akhirnya sia-sia. Saya sempat mengira K. akan tetap sampai di kastel meskipun sad ending. Ngomongin ending, novel ini tidak memilikinya. The Castle berakhir di tengah kalimat yang terputus. Unik banget, bukan? Tapi, dari sini saya justru melihat tulisan khas Kafka atau Kafkaesque yang membahas tentang keterasingan. Mau coba baca?