Setelah membaca buku kumpulan cerita pendek Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia, saya merasa seperti baru saja keluar dari sebuah dunia yang bentuknya sulit dijelaskan. Bukan dunia yang sepenuhnya nyata, tetapi juga bukan dunia khayalan yang benar-benar jauh dari kehidupan sehari-hari.
Di tangan Agus Noor, kenyataan dan imajinasi justru saling berkelindan. Kemiskinan bisa menjadi bahan lelucon, kesedihan bisa dipetik seperti buah, kematian bisa dibicarakan dengan cara yang jenaka, sementara cinta bisa hadir dalam bentuk yang ganjil dan tragis.
Buku ini menghimpun 9 karya yang memperlihatkan luasnya eksplorasi Agus Noor sebagai cerpenis. Sembilan judul tersebut adalah Empat Cerita Buat Cinta, Kartu Pos dari Surga, Permen, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia, 20 Keping Puzzle Cerita, Cerita yang Menetes dari Pohon Natal, Episode, Variasi bagi Kematian yang Seksi, dan Perihal Orang Miskin yang Bahagia.
Setelah merampungkan semuanya, saya memahami mengapa buku ini terasa berbeda dari kumpulan cerpen pada umumnya. Agus Noor tidak sekadar bercerita. Ia seperti membongkar bahasa, mengacak kenyataan, lalu menyusunnya kembali menjadi sesuatu yang kadang membuat saya tersenyum, kadang mengernyitkan dahi, dan pada bagian tertentu justru membuat dada terasa sesak.
Di antara bagian cerpen yang paling membekas bagi saya ialah Pemetik Air Mata, bagian pertama dari Empat Cerita Buat Cinta. Kisah ini membawa saya ke dunia para peri yang bertugas memetik air mata manusia. Air mata tidak lagi sekadar tanda kesedihan, melainkan sesuatu yang bisa dipetik, disimpan, bahkan menjelma benda berharga.
Cerita tersebut juga menarik karena berkaitan dengan Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma. Sandra yang dahulu masih kanak-kanak dalam cerita Seno hadir kembali sebagai perempuan dewasa. Agus Noor seperti membuka pintu dari sebuah cerita lama, lalu memasuki ruangan baru dengan tokoh dan persoalan yang telah berkembang.
Dari sini saya melihat salah satu ciri menarik Agus Noor, bahwa ia tidak takut bermain dengan teks, tokoh, ingatan, maupun karya sastra yang telah lebih dahulu dikenal pembaca.
Setelah kisah penuh air mata, saya bertemu Permen. Cerpen ini menurut saya salah satu cerita paling menarik dalam buku. Permen menjadi metafora kehidupan, termasuk cinta, perselingkuhan, kesedihan, dan cara manusia menikmati hidup.
“Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati.” (hlm. 43).
Dialog ini sederhana, tetapi menjadi semakin menarik ketika cerita terus bergerak. Agus Noor kemudian membalik makna kemanisan tersebut menjadi sesuatu yang getir.
“Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara yang luar biasa?” (hlm. 48).
Bagi saya, inilah salah satu kepiawaian Agus Noor. Ia bisa mengambil benda yang sangat sederhana (permen) kemudian membuatnya berbicara tentang persoalan yang jauh lebih besar.
“Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar.” (hlm. 50).
Saya suka cara Agus Noor membuat benda sehari-hari terasa seperti pintu menuju perenungan. Kita membaca tentang permen, tetapi sesungguhnya sedang membaca tentang hidup.
Kemudian tibalah saya pada cerpen yang menjadi judul buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia. Cerita ini membawa kembali Sukab dan Alina, dua nama yang tentu terasa akrab bagi pembaca karya Seno Gumira Ajidarma. Maneka menjadi bagian dari dunia tersebut dan menerima kiriman sepotong bibir yang absurd sekaligus mengerikan.
“Sepotong bibir! Semula Maneka menyangka itu bibir mainan dari karet. Tapi, saat menyentuhnya, ia segera tahu, itu bibir sungguhan.” (hlm. 61).
Saya menikmati keganjilan cerita ini. Ada cinta, sensualitas, darah, imajinasi, dan absurditas yang bercampur menjadi satu. Agus Noor seperti mengambil serpihan dunia Seno, lalu memberinya kehidupan baru dengan gaya dan persoalannya sendiri.
Bagian lain yang cukup menguji konsentrasi saya adalah 20 Keping Puzzle Cerita. Bentuknya pendek-pendek dan terpotong seperti kepingan puzzle. Pembaca dituntut menyusun sendiri hubungan antarkeping cerita. Bagi saya, bagian ini menunjukkan bahwa cerpen tidak harus selalu bergerak lurus dari awal menuju akhir.
Hal serupa juga terasa dalam Episode dan Variasi bagi Kematian yang Seksi. Khusus yang terakhir, gagasannya cukup unik, bahwa bagaimana jika manusia mengetahui kapan, di mana, dan bagaimana dirinya akan mati?
“Bukankah tak ada yang lebih menyenangkan selain kita tahu kapan, di mana, dan bagaimana kita mati? Kita bisa mempersiapkan segalanya sendiri.” (Variasi bagi Kematian yang Seksi)
Percakapan tersebut terdengar sederhana, tetapi justru membuat saya berhenti sejenak. Kematian yang biasanya dibicarakan dengan takut dan muram, oleh Agus Noor malah dibawa ke wilayah yang ganjil, bahkan sedikit jenaka.
Namun, cerpen yang paling kuat menancap bagi saya tetap Perihal Orang Miskin yang Bahagia. Cerpen ini menggunakan satire untuk membicarakan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Agus Noor tidak berkhotbah. Ia justru membuat pembaca tertawa terlebih dahulu, kemudian sadar bahwa yang ditertawakan sebenarnya cukup menyakitkan.
Tokohnya memperoleh Kartu Tanda Miskin dan justru merasa lega karena kemiskinannya akhirnya mendapatkan pengakuan resmi.
“Aku sudah resmi jadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan Kartu Tanda Miskin, yang baru diperolehnya dari Kelurahan.
“Lega rasanya, karena setelah bertahun-tahun hidup miskin, akhirnya mendapat pengakuan juga.” (hlm. 153).
Kemudian muncul kalimat yang membuat satire itu semakin tajam:
“Nanti, bila aku pengin berbelanja, aku tinggal menggeseknya.” (hlm. 153).
Saya tertawa ketika membacanya, tetapi setelah itu justru terasa getir. Kemiskinan yang seharusnya menjadi persoalan serius malah dibuat seperti sebuah identitas yang bisa dibanggakan. Di situlah kekuatan satire Agus Noor bekerja.
Cerita ini juga terasa relevan dengan kehidupan sosial hari ini. Kemiskinan kerap tidak hanya menjadi persoalan ekonomi, tetapi juga menjadi angka, statistik, data, program, bahkan bahan pembicaraan dalam berbagai forum. Agus Noor mengajak kita melihat persoalan tersebut dari sudut yang tidak biasa.
Relevansi buku ini bagi generasi muda masa kini menurut saya cukup kuat. Anak muda hidup di tengah banjir informasi, konten pendek, humor, meme, dan berbagai bentuk komunikasi yang serba cepat. 20 Keping Puzzle Cerita, misalnya, memperlihatkan bagaimana cerita yang sangat pendek tetap bisa meninggalkan ledakan makna. Sementara Perihal Orang Miskin yang Bahagia mengajarkan bahwa kritik sosial tidak selalu harus disampaikan dengan bahasa berat.
Buku ini juga menarik bagi siapa saja yang sedang belajar menulis. Agus Noor menunjukkan bahwa benda sederhana bisa menjadi gagasan besar. Permen bisa menjadi metafora kehidupan. Kartu pos bisa menjadi simbol kerinduan. Bibir bisa menjadi pusat kisah cinta yang absurd. Air mata bisa dipetik. Bahkan kematian bisa dijadikan permainan imajinasi.
Meski demikian, saya tidak merasa semua cerpen dalam buku ini mudah ditaklukkan. Cerita yang Menetes dari Pohon Natal, Episode, dan beberapa bagian 20 Keping Puzzle Cerita membutuhkan konsentrasi lebih.
Beberapa cerita terasa sengaja dibuat berliku dan tidak langsung memberikan jawaban kepada pembaca. Bagi pembaca yang terbiasa dengan alur sederhana, pengalaman semacam ini mungkin cukup melelahkan.
Namun, justru di situlah saya melihat keberanian Agus Noor. Ia tidak selalu ingin pembacanya memperoleh jawaban dengan cepat. Beberapa cerita seperti mengajak pembaca tinggal lebih lama di dalam teks, menebak-nebak, kemudian menyusun sendiri makna yang tercecer.
Setelah selesai membaca buku ini, saya merasa Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia bukan sekadar kumpulan cerita tentang cinta. Buku ini juga berbicara tentang kepedihan, kesunyian, kematian, kemiskinan, keluarga, perselingkuhan, religiositas, kekerasan, dan ingatan. Semuanya dibungkus dengan bahasa yang puitis, imajinatif, terkadang lucu, tetapi sering kali menyimpan luka.
Saya juga menikmati bagaimana Agus Noor memperlakukan bahasa sebagai ruang bermain. Ia tidak sekadar menggunakan bahasa untuk menyampaikan cerita, tetapi menjadikan bahasa itu sendiri sebagai bagian dari cerita. Karena itu, beberapa kalimat terasa seperti gambar yang hidup di kepala.
Intinya, saya merasa buku ini cocok dibaca perlahan. Tidak perlu terburu-buru mengejar halaman terakhir. Beberapa cerpen mungkin langsung dipahami, sementara yang lain baru terasa maknanya setelah buku ditutup.
Identitas Buku
- Judul: Sepotong Bibir Paling Indah Di Dunia
- Penulis: Agus Noor
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Cetakan: I, 2010
- Tebal: 166 Halaman
- ISBN: 978-979-1227-88-9
- Genre: Fiksi / Kumpulan Cerpen
Baca Juga
-
Buku Hakim Sarmin Presiden Kita: Membaca Politik Lewat Tawa dalam Dua Lakon
-
Intip Spek Huawei Mate 90 RS Ultimate: Kamera Periskop 200 MP dan Zoom Optik 12x Jadi Sorotan
-
HONOR Pad V9 Resmi Hadir: Tablet Tipis dengan Layar 144Hz dan Baterai Jumbo 10.100 mAh
-
HUAWEI MatePad Air 2026: Tablet Tipis dengan Layar OLED 144Hz dan AI untuk Kerja Lebih Cerdas
-
iQOO Pad Ultra Segera Rilis: Bawa Kipas Pendingin Internal dan Touch Sampling 5.000Hz
Artikel Terkait
-
Novel Cake Shop: Aksi Stalk Crush Berujung Temukan Pelanggan dan Cinta Baru
-
Karena Aku Perempuan: Empat Wajah Cinta yang Tak Pernah Sederhana
-
Tahun Itu Berlalu Begitu Cepat Vol 1: Bayang-bayang Cinta yang Tak Selesai
-
5 Zodiak yang Dikenal Mudah Jatuh Cinta, Gampang Baper dan Cepat Terpesona
-
Review Drawn Together: Kisah Cinta Pengawal Pribadi Penuh Ketegangan Seru!
Ulasan
-
Kupas Tuntas 'Palu Arit di Ladang Tebu', Bukti Nyata Tragedi 1965 Tak Sekadar Hitam Putih!
-
Visual Apik vs Plot Padat: Menimbang Film Thriller 'The Vvaan', Worth It Ditonton?
-
Hidden Gem Sarapan di Tangerang! Wajib Coba Nikmatnya Katupek Pitalah di Bopet Nan Katuju
-
Bedah Lirik 'Pertiwi' Yura Yunita: Sindiran Keras Buat Penguasa yang Berpesta Tanpa Empati!
-
Review Drama Cases Between Us, Memecahkan Kasus Kejahatan di Era Republik
Terkini
-
Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam
-
Senja yang Meminjam Fajar
-
Bedah Makna Lagu 'Stuck' ENHYPEN: Kisah Cinta Egois Sang Vampir yang Berujung Bahaya
-
Ngeri! Puncak Bonus Demografi 2030 Bisa Jadi Bencana Lingkungan Kalau Kita Terus Abai
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?