Ada sesuatu yang menyedihkan dari sebuah hubungan yang perlahan kehilangan kehangatannya. Tidak selalu ada pertengkaran besar, pengkhianatan, atau perpisahan dramatis.
Terkadang, dua orang masih tinggal bersama, menjalani rutinitas yang sama, bahkan merencanakan masa depan, tetapi entah bagaimana perasaan di antara mereka sudah tidak lagi seperti dulu. Pertanyaan tentang perubahan itulah yang coba diangkat dalam April, Come She Will (2024), film Jepang yang menghadirkan kisah cinta dengan nuansa melankolis dan penuh perenungan.
Film garapan Tomokazu Yamada ini mengikuti kehidupan Fujishiro Shun (Takeru Satoh), seorang psikiater yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Sakamoto Yayoi (Masami Nagasawa). Dari luar, kehidupan Shun tampak berjalan baik. Ia memiliki pekerjaan yang stabil, pasangan yang akan segera dinikahinya, dan masa depan yang seharusnya terasa menjanjikan.
Namun, semuanya mulai berubah ketika Shun menerima surat dari Haru Iyoda (Nana Mori), perempuan yang pernah menjadi cinta pertamanya sepuluh tahun lalu. Surat tersebut dikirim dari Salar de Uyuni, Bolivia, dan berisi kenangan tentang hubungan mereka di masa kuliah.
Seiring waktu, surat-surat lain kembali datang dari berbagai belahan dunia. Pada saat bersamaan, Yayoi tiba-tiba menghilang tanpa memberikan penjelasan yang jelas.
Dua kejadian tersebut membuat Shun kembali berhadapan dengan masa lalu yang selama ini mungkin tidak benar-benar selesai. Ia mulai mengingat hubungannya dengan Haru, mempertanyakan perasaannya terhadap Yayoi, sekaligus mencari tahu alasan di balik kepergian perempuan yang seharusnya menjadi teman hidupnya.
Hal yang paling menarik dari April, Come She Will adalah keberaniannya membicarakan cinta dari sudut pandang yang tidak selalu romantis. Film ini tidak hanya memperlihatkan bagaimana seseorang jatuh cinta, tetapi juga bagaimana perasaan tersebut bisa berubah seiring berjalannya waktu.
Kita sering kali membayangkan bahwa cinta yang tulus akan bertahan selamanya. Namun, kenyataannya, hubungan tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Perasaan yang dahulu membuat kita bersemangat bertemu seseorang bisa berubah menjadi rutinitas.
Perhatian yang dulu terasa istimewa perlahan menjadi sesuatu yang biasa. Bahkan, berada di samping orang yang kita cintai belum tentu membuat kita merasa benar-benar dekat dengannya. Karakter Shun menjadi gambaran menarik dari seseorang yang tampak memiliki kehidupan sempurna tapi kesulitan memahami perasaannya sendiri.
Takeru Satoh berhasil membawakan sosok pria yang cenderung tertutup dan menyimpan banyak hal tanpa mengungkapkannya secara langsung. Ekspresinya yang tenang justru memperlihatkan kekosongan emosional yang sedang dialaminya.
Sementara itu, Masami Nagasawa memberikan warna tersendiri melalui karakter Yayoi. Meskipun tidak selalu menjadi pusat perhatian dalam cerita, kehadirannya menyimpan banyak pertanyaan tentang bagaimana rasanya berada dalam hubungan yang perlahan kehilangan keintiman.
Nana Mori juga tampil menarik sebagai Haru, sosok dari masa lalu yang membawa kembali kenangan sekaligus perasaan yang belum sepenuhnya selesai. Dari segi visual, film ini memiliki daya tarik yang sangat kuat. Perjalanan Haru ke berbagai tempat seperti Bolivia, Praha, dan Islandia menghadirkan pemandangan alam yang begitu indah.
Lanskap yang luas, langit yang dramatis, serta suasana setiap lokasi seolah menjadi representasi dari perasaan manusia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Namun, saya merasa film ini memiliki beberapa kekurangan. Alurnya bergerak cukup lambat dan menggunakan beberapa garis waktu yang terkadang membuat cerita terasa kurang mudah diikuti.
Selain itu, sejumlah konflik tidak mendapatkan penjelasan sedalam yang mungkin diharapkan penonton. Ada bagian yang terasa lebih mengutamakan suasana daripada pengembangan karakter.
Meski demikian, April, Come She Will tetap menawarkan pengalaman menonton yang menarik, terutama bagi mereka yang menyukai film romantis dengan pendekatan filosofis. Film ini tidak memberikan jawaban sederhana mengenai cara mempertahankan cinta. Sebaliknya, ia justru mengajak kita mempertanyakan apakah cinta bisa benar-benar berakhir, atau manusia hanya perlahan berhenti merawatnya.
Pada akhirnya, menurut saya, bagian paling menyedihkan dari film ini bukanlah ketika seseorang pergi, melainkan ketika dua orang masih memiliki kesempatan untuk bersama, tetapi tidak lagi tahu bagaimana cara saling mencintai.
April, Come She Will mengingatkan kita bahwa jatuh cinta mungkin merupakan sesuatu yang bisa terjadi tanpa direncanakan, tetapi mempertahankan cinta membutuhkan kesadaran dan usaha. Sebab, mencintai seseorang bukan hanya tentang bagaimana kita memulainya, melainkan bagaimana kita terus memilih untuk hadir ketika perasaan tidak lagi terasa sama seperti hari pertama.
Baca Juga
-
Ulasan Exhuma: Tentang Dosa Masa Lalu yang Tak Bisa Dikubur Sedalam Apa Pun
-
After The Storm: Bahagia Tak Harus Menunggu Semua Impian Menjadi Kenyataan
-
Review Shoplifters: Bahwa Keluarga Tak Selalu Dibentuk oleh Hubungan Darah
-
Review Unlocked: Satu Ponsel Hilang, Seluruh Kehidupan Berubah Jadi Teror
-
Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review The Intern: Sindiran Budaya Kerja Korea yang Dikemas Komedi
-
Anomali: Memoar Seorang Bipolar, Kisah Perjuangan Mengenali Diri di Tengah Gejolak Mental
-
Adventures of Huckleberry Finn: Berani Menjadi Baik, Walau Harus Sendirian
-
Review Fatal Proximity to Him: Poster Bikin Kepincut, Eksekusi Agak Kecut
-
Ulasan Exhuma: Tentang Dosa Masa Lalu yang Tak Bisa Dikubur Sedalam Apa Pun
Terkini
-
Selamat Malam, Para Pemenang
-
Cedera saat Syuting Drama, Jo Aram Absen sebagai Presenter di KGMA 2026
-
Galeri Penuh Screenshot Materi Kuliah? 5 Cara Agar Tak Cuma Disimpan
-
Kerja Keras tapi Gaji Pas-pasan, Mengapa Upah Minimum Selalu Diperdebatkan?
-
Otaku Vampire's Love Bite Karya Kreator Kamisama Kiss Dapat Adaptasi Anime