Persahabatan paling menyakitkan bukan yang berakhir karena pertengkaran, melainkan yang perlahan berubah karena hidup membawa dua orang ke arah berbeda.
Forgotten Island memahami rasa itu sejak awal, lalu membungkusnya dengan portal misterius, pulau penuh makhluk mitologi Filipina, dan petualangan yang tampak ringan. Sayangnya, semakin cerita berjalan, semakin terasa film ini punya emosi besar yang justru dimainkan terlalu aman. Kok bisa? Kepoin, yuk!
Forgotten Island merupakan produksi DreamWorks Animation dan didistribusikan Universal Pictures. Joel Crawford dan Januel P. Mercado menjadi sutradara sekaligus penulis skenario, sementara Mark Swift bertindak sebagai produser. Film ±109 menit ini dibintangi H.E.R. sebagai Jo, Liza Soberano sebagai Raissa, Dave Franco sebagai Raww, Lea Salonga sebagai Manananggal, Jenny Slate sebagai Batiba, Manny Jacinto sebagai Bungi, Dolly de Leon, Jo Koy, dan Ronny Chieng. Di Indonesia, film ini sudah rilis dengan klasifikasi 13+.
Dikisahkan Jo dan Raissa, dua sahabat sejak sekolah dasar yang kini lulus sekolah menengah dan akan menempuh jalan hidup berbeda. Jo lebih spontan dan dekat dengan cerita-cerita folklor yang dia ketahui dari keluarganya, sementara Raissa punya arah masa depan yang lebih terencana. Raissa bersiap pergi ke Amerika Serikat untuk mengejar pendidikan, sementara Jo menghadapi kenyataan bahwa kebersamaan mereka yang terasa permanen sebentar lagi berubah.
Pada malam terakhir sebelum perpisahan itu, keduanya menemukan portal misterius yang membawa mereka menuju Nakali, pulau fantastis di Filipina yang dihuni makhluk dari cerita rakyat. Mereka bertemu Raww, weredog yang membantu, sekaligus menghadapi Manananggal sebagai ancaman utama. Bersama makhluk lain, Jo dan Raissa mencari jalan pulang.
Masalah terbesar muncul ketika harga untuk kembali adalah kenangan seluruh persahabatan mereka. Semakin dekat jalan keluar, semakin besar risiko mereka saling melupakan.
Konsep Kehilangan Kenangan Jauh Lebih Menarik Ketimbang Formula Persahabatan
Sebenarnya, konsekuensi kehilangan kenangan seharusnya terasa mengerikan dan membuat penonton cemas saat Jo dan Raissa mulai melupakan detail kecil satu sama lain. Sayangnya, film lebih sering memakai gagasan tersebut sebagai mesin menuju klimaks. Konsepnya kuat, dampaknya belum sekuat ide dasarnya.
Hal serupa terasa pada konflik Jo dan Raissa. Ketakutan Jo sangat mudah dipahami karena dia melihat kepergian Raissa sebagai ancaman terhadap hubungan yang penting dalam hidupnya. Raissa pun punya alasan untuk melangkah maju. Konflik tersebut manusiawi, hanya saja film cenderung menjaga keduanya tetap berada di wilayah yang aman. Rasa egois, iri, marah, atau kecewa saat sahabat memilih jalan berbeda belum diberi ruang besar.
Terlepas dari itu, dunia Nakali tetap adi daya tarik besar. Folklor Filipina jelas jadi daya pikat, sementara karakter seperti Raww, Batiba, Bungi, dan Manananggal membuat perjalanan terasa ramai dan seru buat diikuti. Betewe, keterlibatan ratusan seniman Filipina dan Amerika serta animasi 2D gambar tangan dalam beberapa bagian memperkuat karakter visualnya, lho
Begitulah, Sobat Yoursay. Bagiku, Forgotten Island punya hati yang jelas. Film menyentuh gagasan bahwa tumbuh dewasa berarti menerima perubahan dalam hubungan. Hanya saja, gagasan tentang kehilangan kenangan sebenarnya menawarkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang digali film ini.
Aku menyukai Jo dan Raissa, menikmati Nakali, dan menghargai folklornya. Setelah semuanya selesai, yang tertinggal justru kesan bahwa film ini punya bahan untuk membuat persahabatan mereka jauh lebih menyakitkan, tapi memilih berhenti beberapa langkah sebelum terjadi. Yang jelas, ini bukan film yang buruk kendati ada beberapa kekurangan. Tentunya, Sobat Yoursay yang kepo bisa langsung ke bioskop. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review The Love Hypothesis: Fake Dating yang Manis, Romantis, dan Humoris
-
Review Skenario Sang Jenderal: Kupas Kasus Sensitif yang Mengguncang Publik
-
Review Film Unabomber: Masa Lalu Ted Kaczynski yang Dibongkar dari Dua Arah
-
Review Bisikan Desa Gringsing: Slow-Burn yang Bikin Misterinya Ngeri Banget
-
Review A Sun: Pilih Kasih dan Ekspektasi Orang Tua yang Menorehkan Luka
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ribuan Followers tapi Kesepian? Buku Klasik Tahun 1936 Ini Punya Jawaban Menohok Buat Gen Z!
-
Mengupas Sisi Lain Dewi Ayu di 'Cantik Itu Luka': Pelacur yang Menolak Tunduk pada Takdir
-
Marah Itu Wajar, I Hate Everything! Mengajarkannya dengan Cara Lucu
-
Absolute Value of Romance: Tentang Seorang Remaja dan Halunya yang Kejauhan
-
Review 'Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?': Mengupas Pengorbanan Sunyi Seorang Ibu yang Bikin Dada Sesak
Terkini
-
Bahaya Makanan Ultra-Proses Bagi Gen Z: Bikin Kenyang Sesaat, Merusak Mental Kemudian
-
Bocoran LEGO One Piece Netflix 29 September & Update Arc Elbaph!
-
Hari Kesetaraan Upah: Sudahkah Kerja Perempuan Dihargai Setara?
-
Hempas Kusam! 5 Toner Pad Korea Vitamin C untuk Kulit Lembut dan Cerah
-
Bahaya Terselubung Investasi Rp30,4 Triliun Microsoft: Jangan Sampai Bumi Kita yang Haus!