M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Poster film Lucky Strike (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Lucky Strike (2026) merupakan thriller perang yang disutradarai oleh Rod Davis Lurie, dengan naskah yang ditulis bersama Marc Frydman. Dibintangi Scott Eastwood dalam peran utama sebagai Kapten John Castle, film ini juga menampilkan Colin Hanks, Aunjanue Ellis-Taylor, dan Taylor John Smith.

Di Indonesia, Lucky Strike tayang perdana di bioskop pada 14 Agustus 2026 dengan klasifikasi 13+. Hingga akhir September 2026, film ini masih diputar di sejumlah bioskop, termasuk Cinema XXI. Seperti halnya di XXI Royal Plaza Surabaya jadwal penayangan mencakup pukul 12:20, 16:30, dan 20:50. Kusarankan memeriksa situs resmi XXI, CGV, atau Cinépolis untuk jadwal terbaru di kota masing-masing, karena ketersediaan dapat bervariasi ya, Sobat Yoursay.

Kisah Heroik Prajurit AS di Garis Musuh Jerman

Tangkapan layar adegan di film Lucky Strike (IMDb)

Berlatar pada Desember 1944 di tengah Pertempuran Bulge (Battle of the Bulge), kisah ini mengikuti seorang tentara Amerika Serikat yang terperangkap di belakang garis pertahanan Jerman setelah pasukannya dihancurkan. Hanya dilengkapi radio portabel Motorola SCR-300 yang dijuluki Lassie serta sebatang rokok Lucky Strike, Castle harus menempuh jarak sekitar 30 kilometer menuju titik kumpul pasukan Sekutu di Elsenborn sambil menghindari pasukan SS yang bergerak di kawasan Ardennes yang membeku.

Film ini terinspirasi dari peristiwa nyata dan menekankan tema ketahanan individu, kecerdikan, serta peran teknologi komunikasi di medan perang. Castle, seorang insinyur yang sesungguhnya berhak atas penangguhan dinas militer, memilih bergabung karena rasa tanggung jawab. Setelah unitnya dihancurkan oleh tembakan senapan mesin dan half-track SS saat mencoba memblokir jalan strategis, ia menjadi satu-satunya penyintas yang terluka. Perjalanan soliter tersebut menjadi inti narasi, di mana ia harus memanfaatkan akal, keterampilan mata-mata, dan radio untuk mengacaukan pergerakan musuh sekaligus mencari jalan pulang.

Review Film Lucky Strike

Tangkapan layar adegan di film Lucky Strike (IMDb)

Dari segi produksi, Lucky Strike menampilkan sinematografi yang kuat dengan palet warna pudar khas film perang, pengambilan gambar panjang yang imersif, serta desain produksi yang autentik. Musik karya Larry Groupé mendukung ketegangan, meskipun terkadang terasa klasik. Penampilan Scott Eastwood dinilai solid dalam menggambarkan kelelahan fisik dan keteguhan mental, meskipun beberapa catatanku tentang kurangnya karisma untuk menopang hampir seluruh durasi film yang berfokus padanya. Colin Hanks memberikan sentuhan tegas sebagai kolonel, sementara Aunjanue Ellis-Taylor tampil mengesankan dalam adegan bingkai pasca-perang.

Respon kritikus untuk film ini bisa dibilang campur aduk sih. Dengan skor 61% di Rotten Tomatoes, para kritikus sepakat kalau film ini menyajikan aksi bertahan hidup yang lumayan tegang, tapi sayangnya kurang punya ciri khas dibanding film PD II pada umumnya. Skor Metacritic-nya juga pas-pasan di angka 50/100. Aku dan penonton yang lain memang dimanjakan dengan adegan aksi yang keren, tapi sayangnya tertahan oleh dialog yang kaku dan nuansa cerita yang kelewat mirip Saving Private Ryan atau 1917.

Salah satu adegan aksi paling menegangkan terjadi ketika Castle terpaksa berpura-pura mati di medan tempur di antara mayat-mayat tentara. Seorang tentara Nazi menghampirinya dan bahkan buang air di atas helm yang dikenakannya, sementara mayat di sampingnya tiba-tiba membuka mata dan hampir membongkar tipuannya. Ketegangan dibangun melalui close-up mata yang penuh ketakutan serta suara napas tertahan, menciptakan momen yang sangat mencekam dan menggambarkan keputusasaan survival secara realistis. Adegan lain yang intens melibatkan Castle menyembunyikan diri di ruang bawah tanah sebuah keluarga yang memberinya perlindungan; ketika tentara Jerman mengancam anggota keluarga, ia keluar dan terlibat baku tembak.

Adegan paling emosional muncul dalam pertemuan Castle dengan keluarga yang menyembunyikannya. Setelah membantu mereka, ia menyaksikan konsekuensi yang tragis—sang ibu tewas dan putrinya trauma—yang memperkuat beban moral perang. Momen ini menyentuh karena memperlihatkan kemanusiaan di tengah kekerasan. Framing pasca-perang, di mana Castle dewasa mengunjungi Rose Caldwell (Aunjanue Ellis-Taylor), sang pencipta radio yang menyelamatkannya, juga menyentuh. Adegan penutup yang tenang, dengan Castle memandang Lassie sebagai kenang-kenangan, memberikan resolusi emosional tentang rasa syukur dan warisan teknologi yang tak terlihat.

Overall, Lucky Strike menawarkan pengalaman perang yang fokus pada perjuangan individu daripada skala epik besar. Kekuatannya terletak pada set piece ketegangan dan komitmen terhadap autentisitas, meski narasi episodik dan elemen klise mengurangi dampak keseluruhan. Buat kamu penggemar genre perang yang menghargai cerita survival personal, film ini layak ditonton. Durasi sekitar 103 menit membuatnya padat, dan penampilan Eastwood menjadi daya tarik utama. Dengan masih tersedia di bioskop Indonesia hingga akhir September 2026, penonton memiliki kesempatan untuk menyaksikannya di layar lebar sebelum beralih ke platform digital.

Film ini mengingatkan bahwa keberanian sering kali muncul dalam bentuk sederhana: ketekunan, kecerdikan, dan sedikit keberuntungan—sesuai dengan judulnya.

Rating pribadi: 8/10.