Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster serial Last Seen (IMDb)
Ryan Farizzal

Last Seen adalah miniseri thriller Australia yang baru-baru ini tayang di Apple TV, diadaptasi dari novel The Dispatcher karya Ryan David Jahn oleh Kris Mrksa dan disutradarai Christian Schwochow. Serial enam episode ini dibintangi Patrick Brammall sebagai Ian Ridley, mantan detektif yang kini bekerja sebagai dispatcher darurat.

Kehidupan Ian hancur 11 tahun lalu saat putrinya yang masih kecil, Maggie, menghilang tanpa jejak di kota pesisir fiktif Port McKenna. Kini, satu-satunya yang membuatnya bertahan adalah keyakinan keras kepala bahwa Maggie masih hidup. Ketika ia menerima panggilan darurat dari seorang remaja yang diyakininya adalah Maggie, Ian rela melakukan apa saja demi menemukan dan menyatukan kembali keluarganya yang retak.

Sajian Drama Kriminal yang Penuh Plot Terduga

Salah satu adegan di serial Last Seen (IMDb)

Premisnya terdengar familiar—kisah pencarian anak hilang yang sudah sering diangkat—tapi Last Seen berhasil melampaui formula standar. Ia tidak sekadar mengejar twist demi twist, melainkan menggali trauma, rasa bersalah, dan insting perlindungan orang tua yang terdistorsi. Setting Victoria, Australia, dengan lanskap pesisir yang suram dan hujan, memberi nuansa visual yang kuat dan atmosferik. Schwochow mengarahkan dengan percaya diri, memberi ruang bagi pengembangan karakter sebelum plot berputar kencang. Panggilan yang mengubah segalanya baru datang di akhir episode kedua, sehingga aku pun sempat merasakan beban kesedihan Ian sebelum aksi dimulai.

Review Serial Last Seen

Salah satu adegan di serial Last Seen (IMDb)

Patrick Brammall menyampaikan penampilan terbaiknya. Ia menangkap keputusasaan, kerapuhan, sekaligus sisa humor gelap dari pria yang pernah bahagia. Ian bukan pahlawan sempurna; ia alkoholik yang sedang mencoba pulih, keras kepala, dan kadang merusak hubungan di sekitarnya demi harapan yang tipis. Maxine Peake sebagai Jenna Reid dan Brendan Cowell sebagai Henry Reid memberikan dukungan solid sebagai pasangan yang menyimpan rahasia berat.

Chloe Jean Lourdes, dalam debut layarnya, sangat mengesankan sebagai remaja yang terjebak di tengah konflik identitas dan keluarga. Jessica Wren sebagai mantan istri Ian, Debbie, juga menyentuh dalam menggambarkan cara berbeda menghadapi kehilangan yang sama.

Overall, serial ini sebagai salah satu thriller terbaik tahun ini deh. Kekuatannya terletak pada psikologi karakter dan konsekuensi emosional dari setiap keputusan, bukan hanya kejutan plot. Ada momen-momen yang membuat jantung berdegup.

Last Seen dirilis secara global di Apple TV (Apple TV+) mulai 9 September 2026. Dua episode pertama (The Dispatcher dan The Call) tayang bersamaan, dilanjutkan satu episode setiap Rabu: episode 3 (16 September), 4 (23 September), 5 The Prophet (30 September), dan finale The Choice (7 Oktober 2026). Saat ini, empat episode sudah tersedia, dan episode berikutnya akan rilis sesuai jadwal. Di Indonesia, serial ini bisa ditonton langsung melalui aplikasi Apple TV atau tv.apple.com dengan langganan Apple TV+ . Subtitle bahasa Indonesia tersedia.

Salah satu momen yang paling menusuk adalah ketika Ian, di tengah kerja sebagai dispatcher, harus menenangkan orang lain yang sedang panik sementara di dalam dirinya sendiri masih bergolak harapan dan keraguan tentang Maggie. Ada juga adegan antara Ian dan Debbie yang menunjukkan dua cara berbeda memproses kehilangan yang sama—satu yang menolak melepaskan, satu yang mencoba membangun hidup baru.

Interaksi subtler antara Sarah (Lourdes) dan Jenna (Peake) juga sangat menyentuh: kehangatan yang tumbuh dari kebohongan, lalu retaknya ketika kebenaran mulai menguak. Momen-momen ini tidak bergantung pada dialog berat, melainkan pada ekspresi wajah, keheningan, dan musik yang lembut namun menusuk. Aku pun merasakan beratnya kehilangan yang tidak pernah selesai dengan cara yang sangat manusiawi.

Paruh tengah serial ini menjadi titik balik dengan eskalasi konflik yang begitu tinggi, khususnya saat Ian membawa kasus ini langsung ke rumah Henry dan Jenna. Dinamika antar tokoh mulai retak di bawah tekanan besar, sebelum akhirnya meledak dalam perkelahian fisik yang serba cepat dan kacau. Senjata muncul, luka terjadi, dan keputusan-keputusan putus asa diambil dalam hitungan detik.

Adegan aksi ini bukan sekadar chase atau tembak-menembak; ia terasa konsequential karena setiap gerakan membawa konsekuensi emosional yang besar bagi semua pihak. Ada juga momen pengungkapan yang mengubah segalanya—ketika identitas dan kebohongan bertabrakan—yang membuatku sampai menahan menahan napas. Serial ini pintar menahan diri dari over-dramatisasi, sehingga saat ketegangan meledak, dampaknya lebih dalam.

Last Seen bukan thriller yang menjanjikan akhir bahagia yang rapi. Ia jujur tentang fakta bahwa masa kecil yang tidak bisa dikembalikan, dan pilihan dalam situasi ekstrem selalu meninggalkan bekas. Dengan penampilan kuat, penulisan yang peka, dan arah yang percaya diri, serial ini layak ditonton bagi penggemar drama kriminal yang lebih dalam dari sekadar teka-teki.

Jika Anda memiliki langganan Apple TV+ di Indonesia, segera tonton episode yang sudah rilis dan ikuti penutupnya minggu depan. Kisah tentang harapan, kebohongan, dan batas yang dilanggar demi cinta ini akan tinggal di pikiran lama setelah kredit penutup.