Hubungan sesama jenis bukannya penyimpangan, ya? Memang. Namun, di film garapan Park Chan-wook berlatar tahun 1930-an ini, hubungan sesama jenis justru jadi media perlawanan perempuan yang tertindas.
The Handmaiden bercerita tentang Lady Hideko yang menjadi korban tipu daya Count Fujiwara dengan bantuan Sook-hee. Sook-hee menyamar sebagai pelayan pribadi Hideko untuk membantunya menjalankan rencana tersebut. Namun, semakin dekat dengan Hideko, rencana yang awalnya sudah disusun dengan matang justru mulai berubah.
Di balik hubungan yang penuh tipu daya, ternyata ada dua perempuan yang sama-sama berusaha keluar dari kehidupan yang selama ini dikendalikan oleh laki-laki melalui hubungan terlarang.
Dua Korban yang Sedang Cari Jalan Keluar
Sook-hee awalnya datang ke rumah Lady Hideko bukan dengan niat baik. Ia dimanfaatkan oleh Count Fujiwara untuk menjadi pelayan Hideko sekaligus membantu menjalankan rencana penipuan. Sook-hee diminta membuat Hideko percaya kepada Fujiwara sampai akhirnya mau menikah dengannya untuk mengeruk harta kekayaan Hideko.
Di sisi lain, Hideko melihat Fujiwara sebagai kesempatan untuknya kabur dari jeratan sang paman, Kouzuki. Ia muak menjadi perempuan yang patuh dengan menjadi objek pemuasnya dan para tamu. Selama ini ia selalu hidup di bawah kendali pamannya yang menjejalinya dengan bacaan dan tontonan erotis sejak kecil.
Dengan dalih Fujiwara, Hideko dan Sook-hee semakin dekat dan menjalin hubungan yang lebih dari sekadar majikan-pelayan. Mereka membuat rencana 'gila' untuk menghirup napas kebebasan.
Hubungan Terlarang Sook-hee dan Hideko Mengubah Segalanya
Awalnya, kedekatan Sook-hee dan Hideko sama-sama dilandasi kepentingan. Namun, semuanya berubah ketika perasaan di antara mereka mulai tumbuh.
Keduanya kemudian menyadari bahwa mereka sebenarnya berada dalam posisi yang hampir sama. Sook-hee dimanfaatkan Fujiwara untuk mendapatkan kekayaan Hideko, sedangkan Hideko selama ini dikendalikan oleh pamannya dan kemudian kembali dimanfaatkan oleh Fujiwara. Tubuh, uang, bahkan keputusan tentang hidup mereka seolah selalu berada di tangan laki-laki.
Seakan trauma dengan laki-laki, mereka jadi menganggap perempuan adalah satu-satunya sosok untuk bergantung.
Cinta sebagai Bentuk Perlawanan
Dari sinilah hubungan Sook-hee dan Hideko mulai memiliki makna yang lebih besar. Cinta yang dipupuk dengan dendam dan trauma melahirkan wujud perlawanan yang kuat. Mereka tidak lagi melihat satu sama lain sebagai alat untuk mencapai tujuan masing-masing, tetapi sebagai sekutu. Keduanya justru bekerja sama untuk membalikkan permainan yang sejak awal dibuat oleh para laki-laki di sekitar mereka.
Jujur saja saya sedikit terkejut saat menonton film ini karena hubungan Hideko dan Sook-hee bisa dibilang cukup eksplisit. Namun, dari sini saya malah melihat kalau kedua perempuan ini saling menaruh cinta dan kepercayaan yang besar. Apalagi, kalau diingat-ingat awal pertemuan mereka tidak didasari niat yang baik. Itulah mengapa, rencana 'pembebasan' mereka di akhir cerita bisa berhasil.
Tag
Baca Juga
-
Di Tanah Lada: Apakah Mati Jadi Jalan Keluar Terbaik untuk Ava?
-
Mengupas Sisi Lain Dewi Ayu di 'Cantik Itu Luka': Pelacur yang Menolak Tunduk pada Takdir
-
Bosan Makan Nasi? Intip 3 Cara Pengolahan Sorgum sebagai Alternatif Karbo
-
5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
-
Hadiah Natal dengan Pengorbanan Manis Nan Ironis dalam The Gift of the Magi
Artikel Terkait
-
Mengupas Karakter Kim Seon-ho di 'The Childe': Tersenyum Lebar tapi Bikin Merinding!
-
Review 'Python Island': Ambisi Manusia, Kutukan Dewi Ular, dan CGI Kasar yang Bikin Tepok Jidat
-
Review 'Lucky Strike': Saat Taktik Pura-Pura Mati Jadi Satu-Satunya Jalan Selamat dari Pasukan SS
-
Review 'Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?': Mengupas Pengorbanan Sunyi Seorang Ibu yang Bikin Dada Sesak
-
Visual Apik vs Plot Padat: Menimbang Film Thriller 'The Vvaan', Worth It Ditonton?
Ulasan
-
The Revolt of Arabia: Mengenal Revolusi Arab dan Perubahan Kekuasaan di Hijaz
-
Semangat Muda: Ketika Tan Malaka Membaca Indonesia dari Pertarungan Kelas
-
Review Serial American Classic: Kisah Kehidupan Teater Kecil yang Unik
-
Skenario Sang Jenderal: Runtuhnya Tembok Kebohongan Ferdy Sambo
-
Novel Zero Byte: Ketika Deadline Skripsi dan Perjodohan Datang Bersamaan
Terkini
-
Kayu Terus Tergerus, Hutan Kehilangan Penyimpanan Karbon Alami
-
Menang Harga Mati, Ini Skenario Lolos Timnas Indonesia dari Fase Grup FIFA ASEAN Cup
-
Pelajaran Kartu Merah Thom Haye: Timnas Butuh Kurikulum VAR
-
Curah Hujan Tinggi tapi Kekeringan, Ahli UGM Ungkap Masalah Air Jawa Barat
-
5 Gaya OOTD Kasual ala Park Jinyoung GOT7, Kece untuk Daily Outfit!