Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
Kupu-Kupu Kertas (Instagram/andirianto_official)
Dian Haerani

Bagaimana jadinya kalau orang yang paling kita cintai justru lahir dari keluarga yang dianggap sebagai musuh oleh keluarga kita?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang membuat Kupu-Kupu Kertas terasa lebih dari sekadar film romance. Dibintangi Amanda Manopo sebagai Ning dan Chicco Kurniawan sebagai Ihsan, film arahan Emil Heradi ini membawa kisah cinta ke tengah situasi Indonesia pada 1965, ketika konflik antarkelompok di Banyuwangi semakin memanas.

Ning dan Ihsan adalah dua anak muda yang saling jatuh cinta. Masalahnya, mereka berasal dari keluarga dengan latar belakang yang berseberangan. Ning tumbuh di keluarga yang dikaitkan dengan PKI, sementara Ihsan berasal dari keluarga NU.

Awalnya, perbedaan tersebut bukan persoalan besar bagi keduanya. Bukankah cinta memang sering kali datang tanpa bertanya kita berasal dari keluarga mana? Namun, keadaan di sekitar mereka perlahan berubah.

Ketegangan antarkelompok semakin meningkat. Konflik mengenai lahan, kabar politik, serta kekerasan membuat masyarakat berada dalam situasi yang penuh kecurigaan. Sampai akhirnya, sebuah tragedi menimpa keluarga Ihsan dan membuat hubungan keduanya berada di titik yang jauh lebih sulit.

Kupu-Kupu Kertas mengubah pertanyaan sederhana tentang cinta menjadi sesuatu yang lebih berat. Apakah kita masih bisa mencintai seseorang ketika keluarganya dianggap bertanggung jawab atas luka keluarga kita?

Dan kalau orang yang kita cintai tidak melakukan kesalahan tersebut, apakah ia tetap harus menanggung akibat dari pilihan orang-orang sebelum dirinya? Ihsan berada dalam posisi yang sulit.

Di satu sisi, ia kehilangan anggota keluarga dan harus berhadapan dengan rasa marah serta duka. Di sisi lain, Ning adalah seseorang yang ia cintai dan tidak bisa begitu saja ia anggap sebagai musuh. Konflik batin inilah yang membuat karakter Ihsan menarik untuk diperhatikan.

Chicco Kurniawan tidak hanya membawa Ihsan sebagai sosok laki-laki yang sedang jatuh cinta. Ia juga memperlihatkan perubahan seorang anak muda yang tiba-tiba harus berhadapan dengan kenyataan bahwa konflik yang selama ini mungkin terasa jauh ternyata telah menghancurkan keluarganya sendiri.

Menurut saya, justru di sinilah kekuatan emosional film ini.

Kupu-Kupu Kertas seolah mengingatkan bahwa kebencian sering kali tidak berhenti pada orang yang melakukan kesalahan. Ia bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui cerita keluarga, trauma, dan ingatan tentang siapa yang dianggap sebagai 'lawan.'

Anak-anak yang lahir setelah sebuah konflik bahkan bisa saja mewarisi kebencian terhadap sesuatu yang tidak pernah mereka alami sendiri. Bukankah hal seperti itu juga masih bisa kita temukan dalam kehidupan sekarang? Kita terkadang menilai seseorang berdasarkan kelompoknya.

Padahal, manusia seharusnya tidak sesederhana label yang melekat pada dirinya. Ning bukan ayahnya. Ihsan bukan keluarganya. Dan pilihan seseorang tidak otomatis menjadi pilihan orang yang dicintainya.

Namun, tentu saja, film ini tidak sedang mengatakan bahwa cinta dapat dengan mudah menghapus semua konflik. Justru sebaliknya. Hubungan Ning dan Ihsan semakin sulit ketika kekerasan mulai masuk ke dalam kehidupan pribadi mereka.

Ada titik ketika cinta tidak lagi cukup hanya dengan mengatakan, “Aku mencintaimu.” Karena mencintai seseorang dalam situasi seperti ini berarti harus berhadapan dengan ketakutan, keluarga, lingkungan, bahkan kemungkinan kehilangan nyawa.

Di sisi lain, Kupu-Kupu Kertas juga memiliki sisi yang cukup menarik dari segi genre. Film ini tidak hanya bergerak sebagai drama romantis, tetapi juga memasukkan unsur thriller dan sejarah untuk membangun ketegangan. Latar Banyuwangi pada 1965 menjadi ruang tempat hubungan kedua tokohnya diuji.

Karena itu, jangan berharap film ini hanya berisi adegan manis antara dua orang yang sedang jatuh cinta. Namun, justru karena itulah kisah cinta Ning dan Ihsan terasa tragis. Mereka tidak gagal mencintai satu sama lain.

Mereka hanya hidup di tengah keadaan yang membuat cinta tersebut menjadi semakin sulit untuk dipertahankan.

Bagi saya, Kupu-Kupu Kertas menarik ketika dilihat bukan hanya sebagai cerita tentang dua orang yang berbeda latar belakang, tetapi sebagai cerita tentang manusia yang terjebak dalam konflik yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Pada akhirnya, mungkin itulah alasan judul Kupu-Kupu Kertas terasa cukup simbolis. Kupu-kupu identik dengan sesuatu yang indah dan rapuh. Sementara kertas bisa terlihat sederhana, tetapi mudah robek ketika mendapat tekanan.

Begitu pula dengan cinta.

Ia bisa terasa begitu indah ketika semuanya baik-baik saja. Tetapi ketika tekanan datang dari keluarga, sejarah, konflik, dan kebencian, cinta pun bisa menjadi sesuatu yang sangat rapuh.