Mukjizat selalu punya cara untuk membuat manusia terpukau. Satu peristiwa luar biasa bisa langsung mengubah cara seseorang memandang tokoh yang menyaksikannya. Persoalannya, kekaguman seringkali membuat manusia di balik mukjizat itu luput dari pandangan.
Hanuman Ansh berada tepat di zona itu. Film ini membawa kisah Neem Karoli Baba, atau Maharaj-ji, si tokoh spiritual yang penuh kasih, pengabdian, pelayanan, serta berbagai kisah mukjizat yang dikaitkan dengan dirinya. Filmnya ingin memperkenalkan sosok tersebut ke penonton luas, sekaligus menyampaikan nilai moral terkait mencintai sesama, membantu orang lain, hidup jujur, dan mengabdikan diri pada Tuhan.
Sayangnya, semakin banyak keajaiban yang diperlihatkan, makin terasa sisi manusianya belum digali sedalam itu. Penasaran, kan? Yuk, kepoin bareng!
Hanuman Ansh merupakan drama biografi spiritual garapan Vishal Chaturvedi yang sudah rilis di Indonesia sejak 26 September 2026 dengan durasi sekitar 150 menit. Film ini diproduksi oleh Swambhu Media Network bersama Holy Cow Home Productions. Vishal Chaturvedi menangani penyutradaraan, cerita, skenario, dan dialog. Film ini juga berkaitan dengan bukunya, Divine Detour: That Changed My Life.
Pemerannya terdiri atas Shobhinaw Satyaa sebagai Neem Karoli Baba, Vihaan Shedge sebagai Maharaj-ji muda, Hunny Bakshi sebagai Baba pada usia 65 tahun, Chandan Anand sebagai Dr. Ram Nandan Bhosale, Purnima Tiwari sebagai Ram Dulari, Anil Rastogi sebagai Mahantji, Gulshan Pandey sebagai Inspector Dharam Singh, serta Mannish Chaudhary, Nikhil Dubey, Neha Paranjape, Rudra Sen, dan sejumlah pemeran lainnya.
Ceritanya dimulai dari Lakshman, anak yang mengalami kehilangan ibunya. Kesedihan itu kemudian jadi titik awal perjalanan spiritual yang panjang. Dia membawa rasa kehilangan itu dalam pencarian Tuhan, menjalani kehidupan sebagai pengembara, melewati berbagai pengalaman spiritual, hingga akhirnya dikenal sebagai Neem Karoli Baba.
Perjalanannya kemudian dipenuhi berbagai kisah yang dikaitkan dengan mukjizat dan pengalaman spiritual Baba. Orang-orang datang membawa persoalan. Sebagian mencari pertolongan. Sebagian lainnya ingin memahami sosok yang perlahan menjadi guru spiritual bagi banyak orang. Di tengah semuanya, film terus menempatkan kasih dan pelayanan sebagai inti kehidupan Baba.
Mukjizat Membuat Baba Terlihat Istimewa, tapi Sosoknya Kurang Tersentuh
Film spiritual memang punya kesempatan untuk membicarakan manusia dari sisi yang jarang disentuh film biografi biasa. Sayangnya, Hanuman Ansh lebih sering memperlihatkan hasil perjalanan spiritual daripada proses yang membentuk ‘manusia’ di baliknya.
Kita tahu Baba kehilangan sesuatu, mencari Tuhan, kemudian menjadi sosok penuh kasih. Kita juga tahu banyak orang menganggap pengalaman bersamanya sebagai sesuatu yang luar biasa. Namun, proses batin menuju semua itu bergerak terlalu cepat.
Bahkan, mukjizat dalam film ini pun jadi persoalan menarik. Mukjizat jauh lebih mudah dibuat mengagumkan ketimbang mengolah konflik batinnya. Peristiwa luar biasa bisa langsung menunjukkan kesan istimewa. Sebaliknya, memperlihatkan keraguan, ego, kemarahan, luka, kegagalan, atau pergulatan batin, tampak enggan memperlihatkan karakter terlihat rapuh.
Akibatnya, Neem Karoli Baba lebih sering muncul sebagai sosok yang WOW ketimbang sebagai ‘manusia’ yang sedang berproses. Padahal, bagian paling menarik dari perjalanan spiritual seseorang biasanya berada sebelum dirinya sampai pada titik tersebut.
Kebaikan juga bukan sesuatu yang muncul begitu saja setelah seseorang menemukan Tuhan. Kebaikan harus berhadapan dengan ego, kepentingan, rasa sakit, kemarahan, dan berbagai kelemahan manusia. Ketika film terlalu cepat menyampaikan bahwa jawabannya adalah kasih, pesan moralnya memang indah, tapi proses untuk mempercayainya sebagai sesuatu yang sulit diperjuangkan jadi kurang terasa.
Keterbatasan teknis seperti editing dan visual efek masih bisa dimaklumi kok, toh daya pikat yang dijual film ini memang ada pada pesan spiritualnya. Maka dari itu, mumpung masih tayang di bioskop, jangan sampai dilewatkan. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review Never After Dark: Licik Memainkan Formula Horor yang Sudah Familier
-
Review Film The Scout: Karakternya Menarik Kendati Emosinya Tertahan
-
Review Heart of the Beast: Trauma Disorot tapi Nggak Sedalam Petualangannya
-
Review Forgotten Island: Emosinya Kuat, tapi Konfliknya Terlalu Main Aman
-
Review The Love Hypothesis: Fake Dating yang Manis, Romantis, dan Humoris
Artikel Terkait
Ulasan
-
Hati-Hati Kena Mental, Review Film 'Verity' Hadirkan Ketegangan Erotis dan Plot Twist Berlapis
-
Review Serial Candy Caddy: Kisah Caddy Golf Melawan Stigma Sosial
-
Melawan Lupa, Menepis Stigma: Membaca Luka yang Tertinggal di Prahara 1965
-
Pelajaran Merelakan dari Lagu Percuma Mahalini: Ketika Usaha Tak Lagi Didengar
-
Ulasan Minggat: Lima Sekawan Hadapi Penyeludup Misterius di Pulau Kirrin!
Terkini
-
Kontroversi Film The Assassin(s) Meluas, Artis yang Memuji Ikut Diserang
-
Mengupas Sengketa Ijazah Gibran: Potensi Bencana Ketatanegaraan di Balik Putusan MK
-
Kulit Auto Adem dan Lembap! 6 Cica Sheet Mask Korea untuk Redakan Kemerahan
-
Lelah Jadi Konselor Gratisan Pasangan? Waspada Taktik Weaponized Incompetence!
-
Sinopsis The Silent Storm, Dracin Kriminal Thriller Dibintangi Jing Bo Ran