Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
TKW Mencari Surga. (Dok. pribadi/ Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Ada sesuatu yang membuat saya tertarik mengambil novel TKW Mencari Surga karya Asa Suzhanty dan Abd. Aziz Ana. Alasannya sederhana: judulnya. Tidak banyak novel yang menjadikan kehidupan tenaga kerja wanita (TKW) sebagai pusat cerita. Di tengah dominasi novel remaja dan romansa, kisah perempuan desa yang merantau ke Timur Tengah demi memperbaiki nasib terasa cukup menarik untuk diikuti.

Tokoh utama novel ini adalah Fatma, seorang santri yang baru lulus madrasah aliyah dan bercita-cita melanjutkan kuliah. Namun keterbatasan ekonomi membuat mimpinya kandas. Ayahnya justru memaksanya menerima lamaran Farhan, putra seorang mandor kebun teh yang dianggap mampu menjamin masa depannya.

Harapan akan kehidupan yang lebih baik ternyata tidak terwujud. Setelah setahun menikah tanpa kehadiran anak, Fatma mulai menerima tekanan dari suami dan keluarga mertuanya. Keadaan semakin memburuk ketika Farhan berselingkuh dan akhirnya menceraikannya.

Merasa tidak ingin menjadi beban keluarga, Fatma memilih bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Akan tetapi, kehidupan di negeri orang jauh dari bayangannya. Ia menghadapi majikan yang kasar, gaji yang tidak dibayarkan, hingga ancaman pelecehan. Situasi semakin rumit ketika Fatma harus hidup tanpa kepastian dan berhadapan dengan berbagai persoalan hukum sebelum akhirnya menemukan jalan untuk kembali ke Indonesia.

Bagi saya, bagian yang paling menarik dari novel ini bukanlah kisah cintanya, melainkan gambaran tentang bagaimana orang-orang kecil sering kali tidak memiliki banyak pilihan ketika berhadapan dengan mereka yang lebih berkuasa. Fatma berangkat bukan untuk mengejar kemewahan, melainkan karena tidak ingin terus menjadi beban bagi orang tuanya.

Sesampainya di Arab Saudi, ia justru berhadapan dengan kenyataan bahwa seorang pekerja rumah tangga sangat rentan mengalami ketidakadilan. Ketika gajinya tidak dibayar, ketika ia mengalami kekerasan, bahkan ketika hampir menjadi korban pelecehan, Fatma tidak memiliki posisi yang cukup kuat untuk melawan.

Keadaan yang sama juga dialami Fitri, teman sesama TKW yang menerima hukuman atas tuduhan yang sebenarnya tidak sepenuhnya dapat ia bantah. Melalui tokoh-tokohnya, novel ini memperlihatkan bahwa bagi orang kecil, kebenaran saja kadang tidak cukup ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki kuasa, uang, atau kedudukan yang lebih tinggi.

Novel ini juga mengingatkan bahwa menjadi TKW bukan sekadar soal bekerja dan mengirim uang ke kampung halaman. Ada rasa takut, kerinduan, dan ketidakpastian yang harus ditanggung jauh dari keluarga. Bagian-bagian semacam ini membuat saya lebih memahami sisi kemanusiaan para pekerja migran yang selama ini sering hanya dipandang dari jumlah uang yang mereka kirimkan.

Meski demikian, saya merasa novel ini memiliki beberapa kelemahan. Konflik yang dialami Fatma terasa terlalu bertumpuk hingga kadang sulit dipercaya. Setelah mengalami perceraian, ia harus menghadapi majikan yang kejam, hampir menjadi korban pelecehan, hidup sebagai pekerja ilegal, hingga berurusan dengan aparat. Penderitaan yang datang tanpa henti membuat cerita terasa lebih mirip sinetron daripada kehidupan nyata.

Selain itu, novel ini dipenuhi berbagai kebetulan yang terlalu memudahkan penyelesaian konflik. Banyak tokoh ternyata saling memiliki hubungan keluarga atau keterkaitan tertentu. Ketika Fatma berada dalam kesulitan, jalan keluar sering kali muncul melalui tokoh yang kebetulan terhubung dengan masalah yang sedang dihadapinya. Akibatnya, beberapa bagian cerita terasa kurang meyakinkan.

Tokoh antagonisnya juga cenderung digambarkan hitam-putih. Nyonya Wafa dan Baba Khalid hampir tidak memiliki sisi baik yang membuat mereka terasa manusiawi. Sebaliknya, tokoh-tokoh yang membantu Fatma hampir selalu hadir sebagai sosok yang baik hati. Padahal karakter yang lebih kompleks biasanya membuat cerita terasa lebih hidup.

Terlepas dari kelemahan tersebut, saya tetap menikmati novel ini karena mengangkat tema yang jarang saya temukan dalam bacaan populer. Saya juga menyukai kutipan-kutipan yang ditempatkan di awal setiap bab. Salah satu yang paling berkesan berbunyi, "Mungkin hari ini kita memiliki rencana yang sangat matang. Namun sematang apa pun rencana itu, jika Tuhan tidak menghendakinya, rencana tersebut hanya akan menjadi rencana."

Sebagai seseorang yang memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kisah Fatma membuat saya lebih bersyukur. Sebab, ada orang-orang yang harus mengubur mimpinya terlebih dahulu hanya untuk membantu keluarganya bertahan hidup.

Identitas Buku

Judul: TKW Mencari Surga
Penulis: Asa Suzhanty dan Abd. Aziz Ana
Penerbit: Laksana
Cetakan Pertama: 2018
ISBN: 9786024073589