Bayangkan seorang atlet muda sedang berada di puncak kariernya. Seleksi tim nasional sudah di depan mata, beasiswa kuliah tinggal selangkah lagi, lalu mendadak selembar alat tes kehamilan mengubah seluruh peta hidupnya. Di titik inilah film Sunshine karya Antoinette Jadaone mulai menusuk perasaan penontonnya.
Film Filipina produksi 2024 ini menyoroti kisah Sunshine, seorang pesenam muda yang diperankan oleh Maris Racal. Ketika kehamilan tak direncanakan muncul tepat menjelang seleksi nasional, urusan olahraga perlahan bergeser menjadi background saja. Fokusnya berganti ke persoalan tubuh perempuan yang kerap diperebutkan dan diatur-atur oleh keluarga, agama, hukum, hingga masyarakat.
Hebatnya, Sunshine sukses melakoni European Premiere di ajang Berlinale ke-75 pada Februari 2025 dalam program Generation 14plus. Tidak pulang dengan tangan kosong, film ini memboyong piala Crystal Bear for the Best Film dari juri muda.
Dalam piagam pujiannya, juri Berlinale menyanjung cara film ini memotret persoalan sosial-politik yang berat lewat atmosfer yang gelap, namun tetap menyimpan harapan dan terasa dekat dengan batin penonton.
Toronto International Film Festival 2024 juga mencatat bagaimana film ini menaruh urusan kesehatan, budaya religius, dan seretnya akses hak reproduksi sebagai menu utama. Demi menyelamatkan masa depannya, Sunshine terpaksa berburu obat aborsi ilegal sebagai jalan pintas yang ditempuh karena hukum Filipina memang mengharamkan tindakan tersebut.
Konteks sosial di dunia nyata membuat film ini terasa makin jleb. Data Philippine Statistics Authority pada Sensus 2020 merekam 78,8 persen penduduk Filipina adalah pemeluk Katolik Roma yang taat.
Sementara pada 2022, masih ada 5,4 persen remaja perempuan usia 15–19 tahun yang mengalami kehamilan. Angka ini memang menyusut dibanding tahun 2017, tapi bukan berarti masalahnya sudah selesai begitu saja.
Di sinilah hukum datang sebagai tembok tebal. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Revised Penal Code) Filipina lewat Act No. 3815 (Pasal 256–259) tegas mengkriminalisasi aborsi. Aturan lain, yaitu Republic Act No. 10354 tahun 2012, juga mengatakan hal serupa bahwa aborsi tetap ilegal dan pelakunya bisa diseret ke penjara.
Uniknya, undang-undang yang sama sebetulnya mewajibkan negara menyediakan pendidikan kesehatan reproduksi dan akses kontrasepsi.
Di sinilah elemen realisme magis Antoinette Jadaone memegang peran kunci. Sosok gadis misterius yang mendadak sering muncul tiap kali Sunshine berburu obat aborsi bisa dibaca sebagai wujud ketakutan, rasa bersalah, sekaligus benturan moral di kepalanya. Kehadiran tokoh ini sukses mengubah konflik Sunshine menjadi dialog batin dengan dirinya sendiri.
Film ini juga enggan terjebak dalam moralitas hitam-putih. Sunshine tetaplah manusia biasa yang punya rasa takut, ambisi, kebingungan, sekaligus impian. Status hamil tidak lantas menghapus identitas dirinya sebagai seorang atlet. Sebaliknya, tekanan sosial yang ada justru memaksa tubuh dan masa depannya untuk saling sikut memilih salah satu.
Urusan pilih-memilih ini makin klop kalau kita intip materi resmi WHO tentang aborsi. WHO menegaskan bahwa jurus membatasi akses sama sekali tidak bakal melenyapkan praktik aborsi.
Hambatan terhadap layanan yang aman justru sukses mendorong perempuan nekat menempuh prosedur berbahaya yang berisiko perdarahan, infeksi, hingga cedera organ. Solusi sejatinya, menurut WHO, tetaplah pendidikan seksual dan kemudahan akses kontrasepsi.
Itulah mengapa cerita Sunshine terasa begitu getir. Film ini memperlihatkan bagaimana urusan privat seorang perempuan bisa mendadak diseret menjadi urusan hukum, agama, dan kelas sosial begitu si empunya raga kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
Pada akhirnya, nasib malang Sunshine adalah sebuah tragedi yang membuat sebuah pilihan hidup terasa seperti barang mewah. Di situlah film ini memberikan pukulan paling telak: ketika masyarakat sibuk menghakimi keputusan seorang perempuan, sistem besar yang menjebaknya dalam pilihan sulit itu justru melenggang bebas dari pengadilan.
Baca Juga
-
Ilusi Kekayaan Individual: Saatnya Literasi Finansial Jadi Gerakan Warga
-
Seni Perlawanan di JABFest 2026: Lomba Mewarnai Jadi Cara Lawan Impunitas
-
Soroti Pendidikan, Ugoran Sebut Aksi Kamisan Kini Jadi Kampus Rakyat
-
Berhenti Sebut Kampungan: Menyoal Arogansi Kota Lewat Kasus Omakase Tepe
-
Mitos Ikan Pembersih: Sapu-Sapu Monster Invasif Penghancur Ekosistem
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Dilizzy: Ketika Cinta, Luka dan Mimpi Terbentur Kasta serta Restu
-
Review Lobang Buaya: Saat Hantunya Cuma Alibi untuk Misteri Pembunuhan Berdarah
-
Bukan Sekadar Cerita, Ini Petualangan Search and Find di Kota Tikus
-
Memahami Takdir, Keberanian, dan Kebijakan dalam Novel 'The Alchemist'
-
Review Djamin Setia Selamanya: Saat Kesetiaan Mengalahkan Ego Sendiri
Terkini
-
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, John Herdman Keluar dari Bayang-bayang STY?
-
Ilusi Kekayaan Individual: Saatnya Literasi Finansial Jadi Gerakan Warga
-
Mengintip Keseruan TNT Fighter: Komunitas Stunt Fighting yang Buka Jalan ke Layar Lebar
-
4 Barrier Sunscreen Andalan Buat Kulit Kering Cegah Dehidrasi dan Iritasi
-
Sinopsis Hide and Seek, Drama Jepang Dibintangi Fukushi Sota dan Shida Sara