Saya baru saja menonton Resident Evil (2026) di bioskop kemarin malam. Awalnya, saya mengira film ini akan membawa saya pada formula horor zombie yang cukup familiar.
Karakter utama menjalankan sebuah misi, kemudian berhadapan dengan sekumpulan makhluk mengerikan yang harus dikalahkan. Namun, film ini ternyata tidak hanya mengandalkan kengerian dari para zombinya. Di tengah situasi yang kacau, Resident Evil juga menghadirkan karakter utama yang lucu dan kikuk.
Film ini mengikuti Bryan (Austin Abrams), seorang medical courier yang mendapat tugas mengantarkan sebuah paket medis ke Raccoon City General Hospital.
Perjalanannya berubah menjadi mimpi buruk setelah ia tidak sengaja menabrak seorang perempuan di tengah jalan. Perempuan tersebut ternyata telah terinfeksi, dan sejak saat itu Bryan terseret ke dalam wabah yang semakin meluas.
Dengan durasi 94 menit, film ini membawa kita seolah berada pada satu perjalanan panjang yang berlangsung dalam satu malam penuh kekacauan. Suasana malam, salju, jalanan yang sepi, dan minimnya rasa aman membuat perjalanan Bryan yang semakin mencekam.
Saya juga menyukai bagaimana film ini tidak terburu-buru membawa Bryan menjadi sosok pahlawan. Film ini membawa kita mengikuti perjalanan Bryan sebagai orang biasa yang sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dihadapinya.
Namun, justru Bryan adalah hal yang paling menarik bagi saya. Bryan bukan tipikal karakter utama film zombie yang selalu terlihat tenang dan siap menghadapi bahaya. Bryan beberapa kali menunjukkan sikap canggung dan kebingungan ketika berhadapan dengan situasi yang tidak masuk akal. Justru dari situlah humor film muncul.
Ocehan Bryan menjadi salah satu bagian yang membawa film ini terasa lebih ringan. Ketika harus menembak gembok, menghadapi anjing zombie, atau sekadar terpaku melihat parasit yang bentuknya sangat menyeramkan, reaksinya terasa seperti seseorang yang benar-benar tidak siap menghadapi semua kegilaan tersebut. Di tengah film yang dipenuhi jumpscare dan makhluk mengerikan, keputusan-keputusan kecil Bryan justru menjadi hiburan tersendiri.
Akan tetapi, sisi manusiawi Bryan tidak berhenti pada humor. Ketika menemukan seorang gadis kecil di dalam sebuah bus, ia memilih untuk menolongnya. Setelah sepanjang perjalanan berhadapan dengan zombie, kehadiran seorang anak kecil mungkin membuat Bryan merasa akhirnya menemukan seseorang yang masih bisa diselamatkan. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa di tengah situasi yang mengancam nyawa, empatinya masih bekerja.
Sayangnya, keputusan itu justru menjadi salah satu kesalahan terbesar Bryan. Gadis kecil tersebut ternyata sudah terjangkit virus dan kemudian menggigitnya. Sejak saat itu, perjuangan Bryan berubah. Ia bukan hanya berusaha mengantarkan penawar, tetapi juga berusaha melawan waktu sebelum parasit mengambil alih tubuhnya.
Salah satu adegan yang paling emosional bagi saya adalah ketika Bryan merekam pesan suara untuk pacarnya. Ia mulai menyadari bahwa parasit telah menyebar di dalam tubuhnya dan kemungkinan dirinya tidak akan selamat. Adegan tersebut memperlihatkan sisi Bryan yang sebelumnya tertutupi oleh humor dan sikap awkward. Di balik semua ocehannya, ternyata ada seseorang yang takut kehilangan hidupnya dan ingin meninggalkan sesuatu untuk orang yang ia sayangi.
Sayangnya, perjuangan Bryan tidak berakhir seperti yang kita harapkan. Bryan akhirnya berhasil mencapai lantai 28 rumah sakit. Para ilmuwan kemudian menggunakan senyawa yang dibawanya untuk membuat obat penawar. Namun, tepat ketika Bryan sudah berada di ambang keselamatan, tubuhnya mengalami mutasi yang tidak terkendali. Ia berubah menjadi makhluk yang selama ini berusaha ia hindari.
Bagian ini menurut saya menjadi salah satu keputusan paling menyebalkan sekaligus menarik dari film. Bryan sudah berjuang sepanjang perjalanan untuk membawa sesuatu yang dapat menyelamatkan manusia, tetapi ketika akhirnya sampai di tujuan, dirinya sendiri justru menjadi ancaman terbesar.
Para ilmuwan berusaha menyuntikkan obat tersebut kepada Bryan, tetapi perubahan tubuhnya membuat situasi menjadi kacau. Ia membunuh para ilmuwan dan pada akhirnya obat penawar tersebut jatuh dari gedung.
Bagi saya, akhir tersebut menjadi antiklimaks yang cukup pahit. Setelah mengikuti perjuangan Bryan sepanjang film, kita berharap penawar yang dibawanya akhirnya dapat digunakan. Namun, film justru memilih meninggalkan kita dalam situasi yang jauh lebih buruk. Perjuangan Bryan bagai usaha yang berakhir sia-sia.
Secara sinematik, Resident Evil menurut saya berhasil memberikan pengalaman horor yang menyenangkan di bioskop. Desain monster dan parasitnya terlihat mengerikan, musiknya membantu memberi ketegangan, sementara penempatan kamera membuat beberapa adegan terasa seperti sedang memainkan sebuah video game. Pergerakan kamera dan sudut pandangnya membuat saya seolah ikut berada dalam perjalanan Bryan.
Baca Juga
-
Memahami Duka dan Continuing Bonds dalam Voicemails for Isabelle
-
Dekonstruksi Road Trip Kriminal yang Segar dan Nyeleneh dalam Film Idiots
-
Menyingkap Filosofis dan Makna Tersirat di Balik Film The Sheep Detectives
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Membedah Teka-teki dan Teror Psikologis dalam Film The Whisper Man
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Reborn Rookie: Ketika Kehilangan Segalanya Membawa Perubahan Baik
-
Review Lagu Sesi Potret: Penyesalan Perantau yang Sering Menunda Pulang
-
Review Serial Ted Lasso Season 3: Akhir Kisah Persahabatan Roy dan Jamie
-
TKW Mencari Surga: Potret Kehidupan Tenaga Kerja Wanita yang Tak Banyak Diketahui Orang
-
Tahun Itu Berlalu Begitu Cepat Vol 2: Ketika Masa Lalu Kembali Mengusik
Terkini
-
LBH Yogyakarta di BET 2026: Krisis Ekologi Picu Kekerasan Gender
-
5 Fakta Menarik Drama Between Steps, Karya Terakhir Sutradara Legendaris
-
Ketika Pemerintah Memuja UMKM, tapi Gagal Menyediakan Pekerjaan yang Layak
-
Tak Hanya Enak Dimakan, 5 Sheet Mask Alpukat Korea Ini Buat Kulit Glowing!
-
Jo Bo Ah Dilirik Gantikan Lee Chung Ah di Drama Aksi The Obedient Killer