Apa yang sebenarnya membuat sebuah generasi disebut maju? Apakah cukup dengan memiliki teknologi yang semakin canggih, pendidikan yang semakin tinggi, akses informasi yang nyaris tidak terbatas, dan kehidupan yang jauh lebih nyaman dibanding generasi sebelumnya? Atau kemajuan seharusnya diukur dari sesuatu yang lebih sulit dilihat: keberanian berpikir, keteguhan prinsip, integritas, dan kemampuan membayangkan masa depan bangsa?
Pertanyaan semacam itulah yang terasa kuat dalam buku Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, yang disusun oleh Suwidi Tono dan diterbitkan PT Perspektif Media Komunika atau Visi Gagas Komunika sekitar 2009. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dan esai yang menghadirkan kritik sosial sekaligus refleksi terhadap kualitas intelektual, moral, politik, dan kebangsaan generasi penerus Indonesia.
Isi Buku
Judul buku ini tentu sengaja dibuat provokatif. “Lebih bodoh” tidak harus dimaknai sebagai perbandingan kemampuan akademik antara manusia masa kini dengan manusia pada zaman Soekarno-Hatta. Persoalannya lebih mendasar: mengapa generasi yang memiliki fasilitas jauh lebih lengkap justru kerap dianggap kehilangan sesuatu yang dahulu dimiliki para pendiri bangsa?
Generasi Soekarno-Hatta hidup dalam situasi yang serba terbatas. Teknologi komunikasi belum berkembang seperti sekarang. Akses terhadap informasi internasional tidak semudah membuka telepon genggam. Indonesia bahkan belum menjadi negara merdeka. Di tengah keterbatasan tersebut, para tokoh pergerakan mampu membaca perubahan geopolitik, menyusun gagasan kebangsaan, memperdebatkan ideologi, dan membayangkan sebuah negara yang pada saat itu bahkan belum berdiri.
Soekarno, Hatta, dan tokoh-tokoh sezamannya tidak sekadar memikirkan bagaimana memperoleh kemerdekaan. Mereka juga memperdebatkan seperti apa Indonesia setelah merdeka. Perdebatan tentang demokrasi, ekonomi, pendidikan, nasionalisme, hubungan internasional, hingga posisi Indonesia di tengah pertarungan kekuatan dunia menunjukkan bahwa kemerdekaan dipahami sebagai proyek besar yang membutuhkan gagasan.
Di sinilah buku tersebut melontarkan kritik kepada generasi setelahnya. Kemajuan teknologi dan pendidikan formal seharusnya membuat masyarakat semakin mampu berpikir kritis. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis melahirkan kedalaman berpikir. Banyaknya informasi bahkan dapat menjadi persoalan baru ketika masyarakat lebih mudah mengonsumsi daripada mengolah, lebih cepat bereaksi daripada menganalisis, dan lebih gemar mengikuti arus daripada mempertanyakan ke mana arus tersebut membawa mereka.
Kritik buku ini juga menyentuh persoalan kepemimpinan. Alih-alih terjadi regenerasi yang sehat, pergantian kekuasaan sering kali terasa berputar di sekitar kelompok elite yang sama. Wajah politik boleh berganti, partai dapat berganti nama atau koalisi, tetapi jaringan kekuasaan dan kepentingan tertentu tetap memiliki kemampuan untuk bertahan.
Persoalannya bukan sekadar siapa yang berkuasa, melainkan bagaimana sebuah bangsa memastikan munculnya generasi baru yang memiliki kapasitas untuk memimpin. Regenerasi seharusnya tidak berhenti pada pergantian usia atau munculnya wajah baru di panggung politik. Regenerasi membutuhkan pergantian gagasan, keberanian moral, kompetensi, dan cara pandang terhadap kepentingan publik.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini juga menyoroti paradoks pembangunan Indonesia. Secara fasilitas, masyarakat modern memiliki banyak keunggulan dibanding generasi awal kemerdekaan. Pendidikan lebih mudah diakses, teknologi semakin maju, informasi tersedia dalam hitungan detik, dan dunia semakin terbuka. Namun, kemajuan material tersebut tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas etika publik.
Korupsi, pragmatisme politik, penyalahgunaan kekuasaan, dan kepentingan jangka pendek menjadi gejala yang membuat pertanyaan dalam buku ini terasa relevan: apakah sebuah bangsa benar-benar maju jika perangkatnya modern tetapi kualitas kehidupan publiknya tidak ikut berkembang?
Meski demikian, perbandingan antara generasi Soekarno-Hatta dan generasi sekarang juga tidak boleh diterima secara mentah. Setiap zaman memiliki persoalannya sendiri. Generasi pendiri bangsa menghadapi kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan, sementara generasi sekarang menghadapi persoalan yang berbeda: ketimpangan, disinformasi, perubahan teknologi, kompetisi ekonomi global, krisis lingkungan, serta kompleksitas demokrasi. Karena itu, kekuatan buku ini bukan terletak pada kesimpulan bahwa generasi sekarang benar-benar “lebih bodoh”. Nilai pentingnya justru terdapat pada pertanyaan yang mengusik. Apakah kemajuan zaman telah membuat kita semakin matang sebagai bangsa, atau hanya semakin nyaman sebagai individu?
Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta dapat dibaca sebagai sebuah tamparan intelektual. Buku ini mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tidak otomatis melahirkan kecerdasan sosial, pendidikan tinggi tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan, dan kemajuan ekonomi tidak dengan sendirinya melahirkan integritas. Tantangan terbesar sebuah generasi bukan sekadar mewarisi kemerdekaan, melainkan membuktikan bahwa ia layak meneruskan cita-cita yang dahulu diperjuangkan dengan keterbatasan, keberanian, dan gagasan besar.
Identitas Buku
- Judul: Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta
- Editor: Suwidi Tono
- Penerbit: Visi Gagas Komunika
- Tahun Terbit: 2009
- Tebal: viii + 188 halaman
- Kategori: Kritik Sosial, Politik, Intelektual
Baca Juga
-
Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto
-
Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah
-
Batavia Awal Abad ke-20: Menyusuri Wajah Jakarta Era Kolonial
-
Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur
-
Efisiensi atau Pindah Beban? APBN Hemat di Kertas, Rakyat Mahal di Lapangan
Artikel Terkait
-
Tren Joki Baca Buku: Melorotnya Literasi atau Jadi Ladang Cuan Kutu Buku?
-
Dunia Boleh Terburu-buru, sedangkan Aku Hanya Ingin Membaca Pelan-Pelan
-
Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah
-
Batavia Awal Abad ke-20: Menyusuri Wajah Jakarta Era Kolonial
-
Bad Days Aren't Forever, Pelukan Kecil untuk Hari-hari yang Tidak Baik
Ulasan
-
He's Just Not That Into You: Ketika Kita Terlalu Sibuk Mencari Alasan
-
Review Empat Musim Pertiwi: Pulang untuk Melawan Luka dan Stigma
-
Ketika Jatuh Cinta Berubah Jadi Dilema: Menyelami Kepedihan 'I LIKE U' Karya NIKI
-
Ulasan Film Hasut: Teror Horor Psikologis yang Menguji Paranoia dan Realita
-
Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto
Terkini
-
Akhir Era Naik Kelas Otomatis: Mendikdasmen Kaji Ulang Kebijakan Demi Cegah Fenomena RMS
-
Dilema Sandwich Generation: Ketika Memilih Diri Sendiri Terasa Sangat Egois
-
Sinopsis Whisper of Time, Drama China Dibintangi Huang Xuan dan Liu Hao Cun
-
Sinopsis The Exorcist: Martyrs, Scarlett Johansson Hadapi Pembunuh Berantai
-
Tragedi Karhutla dan Nasib Ojol: Saat Jalanan Berubah Jadi 'Kamar Gas' Beracun