Sekar Anindyah Lamase | Fairus Farizki
Tampilan lima tetua pemegang kekuasaan tertinggi Pemerintah Dunia (Gorosei) dalam salah satu adegan anime One Piece. (Wikimedia/One Piece)
Fairus Farizki

Waktu masih bocah dulu, saya melihat One Piece ini cuma tontonan seru-seruan yang isinya si Luffy, kapal kayu, rebutan harta karun, ketemu orang-orang aneh, lalu baku hantam sambil ketawa-ketiwi. Begitu sudah dewasa, rasanya kok Eiichiro Oda diam-diam menyelundupkan kuliah politik sepanjang ribuan episode ke dalam bungkus petualangan bajak laut.

Makin ke sini ceritanya makin kompleks, urusan di dunia One Piece adalah urusan yang benar-benar menjadi cerminan konflik di dunia nyata. Ada hal lain yang diperebutkan, sesuatu yang justru paling ditakuti oleh orang-orang yang sedang duduk di kursi empuk kekuasaan, yaitu pengetahuan dan sejarah yang disembunyikan.

Oda menggambarkan dengan pas bagaimana Pemerintah Dunia (World Government) menjaga tahtanya. Di samping memang mereka menggunakan otot tentara atau pasal-pasal hukum, mereka juga menggunakan corong propaganda dan sensor informasi. 

Ada Im-sama, Gorosei, sampai kaum manja nan menyebalkan Tenryuubito yang bikin struktur birokrasi di sana kelihatan banal, seolah-olah kekuasaan absolut mereka itu sudah takdir alam yang tidak bisa diganggu gugat sama sekali.

Di sinilah analisis Michel Foucault kalau kita gunakan untuk membedahnya. Foucault pernah menulis bahwa yang namanya praktik kekuasaan tersebar luas dalam kehidupan sehari-hari melalui aturan, kebiasaan, dan bahasa yang kita anggap “normal”. 

Contohnya simpelnya seperti kita yang otomatis menginjak rem ketika kita bertemu dengan lampu merah di jalanan, padahal mungkin saja jalanan itu kosong dan tidak ada polisi yang berjaga di sekitarnya. Tetapi, itulah bagaimana sebuah praktik “kekuasaan” bekerja, kita secara otomatis “mendisiplinkan” diri sendiri karena aturan sosial tersebut sudah tertanam di kepala kita tanpa sadar. 

Hal ini menjadi sangat pas apabila kita melihat urusan Abad Kekosongan (Void Century) di dunia One Piece. Sejarah penting sengaja dibikin gelap gulita selama ratusan tahun. Masyarakat di dunia One Piece tidak pernah diberi tahu kebenaran yang sesungguhnya di balik fenomena itu. 

Tapi untungnya, ada batu Poneglyph yang masih berfungsi mirip harddisk purba yang tidak bisa diformat atau dihapus begitu saja. Kalau harddisk-harddisk tersebut dikumpulkan, maka akan terdapat sebuah jalinan cerita rahasia di balik misteri Void Century. 

Sialnya, siapa pun yang ketahuan mencoba membaca isi Poneglyph itu akan langsung dicap sebagai musuh negara, mirip seperti Indonesia yang menuduh siapapun warga yang memberontak akan di cap sebagai kriminal PKI tanpa proses peradilan.

Nasib apes itu menimpa Arkeolog Ohara. Cuma gara-gara meneliti sejarah yang dilarang, para sarjana di sana diburu seperti kriminal, lalu pulaunya diratakan dengan tanah lewat serangan Buster Call. Lewat bab-bab cerita Ohara, Oda memperlihatkan dengan gamblang bagaimana nasib buku dan pengetahuan akan musnah ketika berhadapan langsung dengan moncong meriam Pemerintah Dunia.

Makanya, Pohon Pengetahuan di Ohara itu bukan cuma gedung perpustakaan gede. Waktu pohon itu dibakar habis, sebetulnya penguasa di sana sedang mencoba membakar kemungkinan lahirnya cerita sejarah versi lain.

Lihat juga Nico Robin. Bocah perempuan ini menjadi buron oleh orang sepenjuru dunia hanya karena dia bisa membaca Poneglyph. Cukup dengan modal mengeja tulisan di batu terlarang itu, dia sudah sukses bikin gemetar rezim kebenaran yang sudah mapan berabad-abad.

Belakangan, giliran Vegapunk yang bikin ulah. Lewat siaran globalnya, si ilmuwan jenius ini blak-blakan membuka rahasia masa lalu dunia sekaligus ramalan air laut yang bakal membanjiri daratan. Cerita di Pulau Egghead ini menjadi bukti mutakhir, bahwa sepintar-pintarnya penguasa menyembunyikan kebenaran, data ilmiah dan fakta sejarah suatu saat pasti bakal terbongkat juga.

Sampai di titik ini, One Piece sebenarnya adalah kisah tentang penguasa yang gemetar kalau rakyatnya sudah mulai pintar dan tahu banyak hal. Memang, bajak laut di cerita ini tidak semuanya berhati malaikat. Banyak juga yang kelakuannya ajaib, serakah, dan sama gilanya.

Tapi cita-cita kebebasan yang dibawa Luffy ini selalu saja menabrak tembok besar bernama sistem, si kelompok atas yang selalu mendikte bagaimana orang bawah harus menjalani hidup. Apalagi kalau melihat Pasukan Revolusioner, yang pergerakannya sudah terang-terangan mau membongkar tatanan itu.

Makanya, kalau dipikir-pikir, perang paling besar di dunia One Piece itu adalah perang yang memperebutkan kebenaran. Pemerintah Dunia sibuk menggembok sejarah rapat-rapat, Robin bergerilya membacanya, dan Vegapunk nekat menyebarkannya. Sementara Luffy dan krunya terus berlayar di tengah dunia yang sudah tidak percaya pada dongeng bentukan pemerintah.

Foucault dulu pernah bilang, di mana ada kekuasaan yang menindas, di situ pasti bakal lahir perlawanan. Oda berhasil menyulap teori itu menjadi petualangan yang asyik bahwa ketika informasi disumbat oleh penguasa, usaha mencari kebenaran secara mandiri sudah otomatis menjadi bentuk pembangkangan.

Itulah alasan kenapa nonton ulang anime ini pas sudah dewasa rasanya jadi beda. Di balik tingkah konyol Luffy yang rakus makan atau Zoro yang hobi kesasar, ada cerita mendalam tentang sejarah yang sengaja dihapus, pengetahuan yang dianggap ilegal, media massa yang disetir, dan penguasa yang ketakutan setengah mati kehilangan kendali.

Lucu juga kalau diingat-ingat. Kita awalnya menonton ini cuma buat melihat gerombolan bajak laut mencari harta karun rahasia. Sialnya, kita kena prank oleh Eiichiro Oda. Ternyata sejak awal yang diperebutkan adalah siapa yang berhak memegang kendali atas sebuah kebenaran.