Banyuwangi tidak hanya punya wisata alam dan budaya yang menarik untuk dikunjungi. Di balik ramainya destinasi wisata, daerah di ujung timur Jawa Timur ini juga menyimpan peninggalan masa lalu yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Salah satunya berada di Museum Blambangan. Museum ini menyimpan sejumlah artefak tanah liat berupa materai dan tablet yang ditemukan di Gumuk Klinting, Banyuwangi. Benda-benda tersebut bukan sekadar koleksi lama. Artefak berupa materai dan tablet penyerta stupika hanya ditemukan di empat daerah di Indonesia, yakni Banyuwangi, Palembang, Borobudur di Jawa Tengah, dan Gianyar di Bali.
Di Museum Blambangan sendiri terdapat empat materai dan lima tablet yang dipamerkan. Koleksi tersebut berkaitan dengan peninggalan keagamaan Buddha masa lampau dan memiliki inskripsi yang menjadi bagian penting dari informasi sejarahnya.
Benda Kecil dengan Cerita Panjang Masa Silam
Ukuran materai yang tidak besar mungkin membuatnya terlihat seperti benda biasa. Padahal, artefak semacam ini menyimpan informasi tentang kehidupan dan praktik keagamaan masyarakat masa lalu.
Pada 2021, epigraf Jawa Timur Blasius Suprapta melakukan transliterasi terhadap inskripsi yang terdapat pada materai dan tablet. Namun, penelitian juga menemukan persoalan lain. Tidak banyak masyarakat lokal mengetahui bahwa benda-benda tersebut merupakan artefak peninggalan keagamaan Buddha yang jarang ditemukan. Salah satu penyebabnya adalah informasi sejarah mengenai koleksi masih terbatas.
Karena itulah museum tidak hanya memiliki pekerjaan untuk menyimpan benda lama. Ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting, yakni menjelaskan kepada pengunjung mengapa benda kecil seperti materai dan tablet layak mendapat perhatian.
Museum Blambangan juga menggunakan Sijamuwangi, sebuah inovasi teknologi terpadu untuk mengomunikasikan koleksi kepada pengunjung. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam pemajuan kebudayaan, termasuk publikasi, pemeliharaan, penyelamatan, dan pengkajian.
Merawat Koleksi dengan Keterbatasan Ruangan
Menjaga artefak tanah liat tentu tidak bisa dilakukan sembarangan. Koleksi harus diidentifikasi, didokumentasikan, diinventarisasi, disimpan dengan baik, serta diperhatikan kondisi ruangan tempat benda tersebut berada.
Museum Blambangan menyimpan koleksi menggunakan vitrin dan menatanya dengan jarak tertentu agar benda tidak saling bergesekan atau bertumpuk. Pembersihan vitrin dilakukan secara berkala, sementara silika gel atau akar wangi digunakan untuk membantu melindungi koleksi dari serangga dan kelembaban.
Persoalannya, museum memiliki luas sekitar 460 meter persegi dengan jumlah koleksi lebih dari 4.000 benda. Keterbatasan ruang membuat penyimpanan harus diatur sedemikian rupa. Lebih dari itu, belum tersedia ruang khusus untuk kegiatan konservasi dan preservasi.
Keterbatasan bukan hanya soal ruangan. Penelitian menemukan seluruh kegiatan museum, mulai dari pembersihan, pengelolaan, pengaturan koleksi, konservasi hingga edukasi, dilakukan oleh Kepala Museum seorang diri karena belum memiliki staf teknis maupun administratif.
Menjaga Benda, Menjaga Cerita Masa Silam
Perawatan terhadap materai dan tablet dilakukan dengan sangat hati-hati. Ketika pertama ditemukan, benda perlu diamati lebih dulu sebelum dibersihkan. Pembersihan dilakukan menggunakan kuas secara searah agar relief maupun inskripsi tidak rusak. Artefak juga tidak boleh ditempatkan pada kondisi terlalu panas, terlalu kering, atau terlalu lembab karena dapat menyebabkan retak maupun hancur.
Dalam penanganan berikutnya, museum menggunakan teknik mekanis kering maupun basah sesuai kondisi benda. Koleksi harus dipegang menggunakan sarung tangan, diberi alas kain halus, dan tidak boleh dibersihkan menggunakan bahan yang berpotensi merusak permukaannya.
Penelitian menyimpulkan bahwa kegiatan preservasi dan konservasi di Museum Blambangan sudah dilakukan dengan baik, tetapi belum optimal. Keterbatasan tenaga dan sarana membuat masih ada tahapan yang belum terlaksana.
Bagi wisatawan yang datang ke Banyuwangi, Museum Blambangan mungkin tidak sepopuler destinasi alamnya. Namun, tempat seperti museum justru memberi pengalaman yang berbeda. Di sana pengunjung tidak hanya melihat benda lama, tetapi bisa mengetahui bahwa Banyuwangi juga memiliki jejak sejarah yang tersimpan dalam benda berukuran kecil.
Saya melihat sendiri bagaimana upaya merawat materai dan tablet bukan hanya soal mempertahankan bentuk tanah litany semata. Ada inskripsi, cerita keagamaan, dan informasi tentang masa lalu yang ikut tersimpan di dalamnya. Kalau bendanya hilang atau rusak, bukan hanya benda fisiknya yang ikut hilang, tetapi juga cerita yang dibawanya.
Baca Juga
-
Sonobudoyo, Museum yang Menyimpan Jejak Panjang Kebudayaan Jawa
-
Perjuangan Masyarakat Sukomade: Berkawan dengan Alam Meski Minim Perhatian
-
Masyarakat Sukamade: Penjaga Konservasi Penyu di Pantai Selatan Banyuwangi
-
Nelayan Banyuwangi dan Perjuangan Menjaga Laut dari Kerusakan
-
Nelayan Pancer Beradaptasi dengan Teknologi yang Melindungi
Artikel Terkait
Ulasan
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Mampukah Indonesia Bangkit? Mencari Jalan Keluar dari Krisis
-
Indonesia Tidak Lagi Dijajah Belanda, Lalu Mengapa Gerpolek Masih Relevan?
-
Tragedi Ohara: Ketika World Government One Piece Fobia pada Pengetahuan
-
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Saat Skala Sekuel Dipaksa Lebih Besar
Terkini
-
Menyelamatkan Nyawa di Ujung Perbatasan: Akhir Tragis Pelarian Kapal Penyelundup di Bintan
-
Kenali Boreout: Ketika Bosan di Kantor Lebih Menyiksa dari Beban Kerja
-
Agensi Konfirmasi Sophia KATSEYE Bakal Comeback Januari 2027 Usai Hiatus
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?