Lintang Siltya Utami | W.S Nurbaiti
Masjid Agung Baiturrahman di Pusat Kota Banyuwangi kabarnya menjadi masjid pertama yang didirikan Raden Tumenggung Wiraguna I. (Foto. Dok. Pribadi/W.S Nurbaiti)
W.S Nurbaiti

Sejumlah masjid yang saya temui memiliki jalannya sendiri-sendiri. Ada yang punya catatan sejarah panjang namun sudah berubah wajah berkali-kali, tetapi tetap saja jejak masa lalunya tidak selalu ikut hilang. Hal itu juga yang saya lihat pada Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, bangunan yang hari ini mempertemukan bentuk joglo, kubah, serta ornamen khas daerah dalam satu ruang ibadah.

Sebelum dikenal dengan nama Masjid Agung Baiturrahman, masjid tersebut bernama Masjid Jami. Usianya diperkirakan telah mencapai lebih dari dua abad. Masjid tersebut berdiri pada 7 Desember 1773, bersamaan dengan perpindahan pusat pemerintahan Banyuwangi dari Ulupampang ke Banyuwangi.

Pembangunannya berkaitan dengan Raden Tumenggung Wiraguna I atau Mas Alit, bupati pertama Banyuwangi sekaligus tokoh yang disebut sebagai bupati terakhir Blambangan. Setelah pusat pemerintahan berpindah, Mas Alit melakukan sejumlah pembangunan, salah satunya mendirikan Masjid Jami.

Pada awal berdiri, bangunan masjid masih sederhana dengan material kayu. Kehadirannya menjadi bagian dari perkembangan kehidupan Islam masyarakat Banyuwangi karena digunakan untuk salat lima waktu dan salat Jumat berjamaah.

Bermula dari Joglo hingga Menjadi Kubah

Kubah Masjid Agung Baiturrahman berubah dari bentuk aslinya yang kini kental dengan pengaruh arsitektur Timur Tengah. (Foto. Dok. Pribadi/W.S Nurbaiti)

Bangunan Masjid Jami tidak berhenti pada bentuk awalnya. Perubahan pertama dalam skala besar terjadi pada 1844 ketika Bupati Raden Adipati Wiryodanu Adiningrat, bupati Banyuwangi keempat, membangun kembali masjid secara permanen.

Pada fase tersebut, karakter arsitektur Jawa masih terlihat kuat. Bentuk joglo menjadi salah satu ciri yang menonjol sekaligus memperlihatkan bagaimana bangunan masjid ketika itu tidak sepenuhnya terpisah dari tradisi arsitektur masyarakat setempat.

Perubahan kembali terjadi pada 1971 di masa Bupati Djoko Supaat Slamet. Nama Masjid Jami kemudian berubah menjadi Masjid Agung Baiturrahman.

Bukan hanya namanya yang berubah. Bangunan diperbesar dan mulai menggunakan kubah dengan pengaruh arsitektur Timur Tengah, termasuk gaya Turki dan Arab. Meski begitu, unsur lokal masih dipertahankan dalam bangunan.

Pada masa tersebut, fungsi masjid juga berkembang. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Baiturrahman digunakan untuk kegiatan belajar dan dilengkapi perpustakaan.

Joglo Kembali Menjadi Identitas Masjid

Pilar-pilar Masjid Agung Baiturrahman menjulang dengan pengaruh arsitektur Timur Tengah kubah dengan pengaruh arsitektur gaya Turki dan Arab. (Foto. Dok. Pribadi/W.S Nurbaiti)

Perjalanan arsitekturnya belum selesai. Renovasi berikutnya berlangsung pada 1986 ketika Banyuwangi dipimpin Bupati S. Djoko Wasito. Pemugaran belum tuntas ketika masa jabatannya berakhir sehingga proses pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Bupati Harwin Wasito.

Pada tahap tersebut, bentuk atap masjid kembali diarahkan pada bentuk joglo. Pilihan tersebut membuat karakter arsitektur Jawa kembali mendapatkan tempat dalam wajah Masjid Agung Baiturrahman.

Joglo bukan sekadar bentuk atap. Dalam konteks bangunan masjid, bentuk tersebut menjadi bagian dari identitas arsitektur lokal yang mempertemukan kebutuhan tempat ibadah dengan budaya masyarakat Banyuwangi.

Perluasan bangunan juga dilakukan. Kantor agama di sisi utara dipindahkan sehingga lahannya dapat digunakan untuk memperbesar masjid. Sementara di sisi selatan, bangunan bekas bioskop dibeli dan kemudian dimanfaatkan sebagai aula.

Perubahan itu memperlihatkan bagaimana masjid terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Bangunannya bertambah luas, fasilitasnya berkembang, tetapi unsur arsitektur lokal tetap berusaha dipertahankan.

Gajah Oling Pelengkap Ornamen Masjid

Area pintu Perpustakaan Masjid Agung Baiturrahman memiliki ornamen Gajah Oling. (Foto. Dok. Pribadi/W.S Nurbaiti)

Pemugaran terakhir berlangsung pada 2005 di masa Bupati Samsul Hadi. Kali ini, perhatian tidak hanya diberikan pada bangunan, tetapi juga pada ornamen yang menjadi bagian dari identitas Masjid Agung Baiturrahman.

Salah satu yang paling menonjol adalah motif Gajah Oling. Motif khas Banyuwangi tersebut digunakan pada mimbar dan sejumlah bagian masjid, termasuk kaca grafir di bawah kubah sayap selatan, kubah tengah, kubah sayap utara, serta berbagai bagian interior.

Gajah Oling dikaitkan dengan ungkapan “gajah eling”. Kata eling berarti mengingat, sehingga motif tersebut dimaknai sebagai pengingat kepada kebesaran Allah. Filosofinya berkaitan dengan ajakan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Selain Gajah Oling, motif bintang sembilan juga menghiasi sejumlah bagian bangunan. Motif tersebut dapat ditemukan pada pintu, jendela, kaca grafir, krawangan besi, hingga beberapa bagian interior masjid.

Bintang sembilan dalam sejumlah sumber dikaitkan dengan sembilan wali penyebar Islam di Jawa, mulai dari Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, hingga Sunan Gunung Jati.

 Namun, perubahan tersebut tidak sepenuhnya menghapus jejak masa lalu. Bentuk joglo dan berbagai ornamen khas Banyuwangi masih menjadi bagian dari wajah Masjid Agung Baiturrahman. Membuat masjid ini semacam menjadi ruang pertemuan antara tradisi Islam, arsitektur Jawa, dan budaya Banyuwangi.