Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Novel Kenanga Oka Rusmini (Sumber: Gramedia )
Chairun Nisa

Lagi-lagi, Oka Rusmini mengangkat realitas kehidupan perempuan Bali yang bergulat dengan adat, kasta, dan ketimpangan gender. Sebagai penulis yang berasal dari Bali, persoalan semacam ini memang tidak asing dalam karya-karyanya.

Dalam Kenanga, ia kembali memperlihatkan bagaimana adat dapat menentukan pilihan hidup seseorang, terutama perempuan.

Seorang perempuan Brahmana diharapkan menikah dengan laki-laki dari kasta yang sama, sedangkan laki-laki memiliki kebebasan lebih luas dalam menentukan pasangan.

Aturan yang katanya menjaga kehormatan keluarga itu justru memperlihatkan betapa berbeda kebebasan yang diberikan kepada perempuan dan laki-laki.

Sinopsis

Berlatar kehidupan masyarakat Bali pada tahun 1990-an, novel ini berkisah tentang Kenanga, perempuan Brahmana yang cerdas dan mencintai Bhuana.

Masalahnya, Bhuana juga dicintai Kencana, adik kandung Kenanga yang sejak kecil lebih banyak memperoleh perhatian keluarga. Kenanga akhirnya mengalah dan meminta Bhuana menikahi Kencana.

Keputusan itu menjadi semakin rumit karena Kenanga telah mengandung anak Bhuana setelah mengalami pemerkosaan yang dilakukan laki-laki tersebut.

Anak itu kemudian dianggap meninggal akibat kelahiran prematur, padahal sebenarnya masih hidup. Dialah Luh Intan, yang selama ini diasuh Kenanga tanpa mengetahui bahwa perempuan yang merawatnya adalah ibu kandungnya sendiri.

Ketika dewasa, Intan tumbuh menjadi perempuan cerdas dan menarik. Namun, statusnya sebagai perempuan berkasta sudra membuat kedudukannya berbeda dari para bangsawan yang tinggal di griya.

Ketertarikan Mahendra kepadanya pun menghadirkan persoalan baru, terutama ketika Dayu Galuh ikut terlibat dalam konflik mereka.

Di sisi lain, ada kisah Rahyuda dan Jero Kemuning, dua orang yang saling mencintai tetapi terhalang hubungan kekeluargaan dan norma adat. Mereka menghadirkan gambaran cinta yang harus berhadapan dengan batas-batas moral dan penghormatan terhadap orang lain.

Dari segi latar, Kenanga cukup berhasil membuat saya merasa sedang memasuki kehidupan masyarakat Bali. Berbagai istilah, kebiasaan, dan tradisi yang disajikan menambah pengetahuan saya tentang budaya setempat, mulai dari sebutan Ida Ayu dan Ida Bagus, kehidupan di griya, hingga upacara potong gigi.

Saya juga menyukai cara novel ini memperlihatkan bahwa status sosial yang tinggi tidak otomatis menjamin kebahagiaan. Perempuan dari kasta rendah maupun kasta tinggi sama-sama bisa menghadapi persoalan yang membatasi kebebasan mereka.

Namun, ketika berhadapan dengan perkembangan karakter dan alur cerita, saya justru mulai kehilangan ketertarikan. Kenanga sebenarnya memiliki karakter yang cukup kuat. Ia cerdas, mandiri, dan berusaha mempertahankan prinsipnya di tengah tekanan adat.

Akan tetapi, hubungannya dengan Bhuana membuat saya beberapa kali bertanya-tanya. Bagaimana mungkin Kenanga masih mempertahankan perasaan kepada laki-laki yang telah memperkosanya? Saya memahami bahwa perasaan manusia tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika, tetapi pergulatan batin Kenanga dalam hubungan tersebut belum sepenuhnya membuat saya memahami keputusannya.

Bhuana pun tidak kalah membingungkan. Ia sudah menikahi Kencana, tetapi seolah tidak sungguh-sungguh berusaha mencintai istrinya sendiri. Ia justru masih memberikan perhatian kepada Kenanga.

Pernikahan yang tidak dilandasi cinta memang dapat menjelaskan kerumitan hubungan mereka, tetapi tidak lantas membenarkan sikap Bhuana terhadap Kencana.

Saya juga mempertanyakan bagaimana rahasia kelahiran Intan bisa dipertahankan selama itu. Peristiwa sebesar ini seharusnya membawa konsekuensi yang berarti bagi kehidupan para tokoh, tetapi penyajiannya terasa kurang meyakinkan.

Karakter Intan juga menjadi salah satu hal yang membuat saya kecewa. Ia memiliki latar belakang yang kompleks, tumbuh tanpa mengetahui identitas orang tua kandungnya, dan hidup di tengah ketimpangan kasta. Potensinya untuk berkembang menjadi tokoh yang kuat sebenarnya besar.

Sayangnya, saya justru kesulitan memahami arah sikap dan keputusannya. Ketika persoalan dengan Dayu Galuh berkembang, saya berharap Intan menunjukkan pilihan yang lebih tegas. Namun, sampai akhir cerita, perkembangan karakternya terasa kurang tuntas. Konflik yang dibangun seolah menjanjikan sesuatu yang besar, tetapi tidak semuanya mendapatkan penyelesaian yang sepadan.

Hubungan antartokoh juga terasa canggung. Saya beberapa kali bertanya-tanya bagaimana Kencana, yang merupakan adik kandung Kenanga sekaligus istri Bhuana, menyikapi kedekatan keduanya.

Saya berharap sudut pandang dan pergulatan batin Kencana digali lebih jauh, tetapi tokoh ini terasa kurang memperoleh ruang untuk berkembang. Akibatnya, hubungan Kenanga, Bhuana, Kencana, dan Intan yang seharusnya menjadi pusat cerita justru terasa rancu.

Masalah lainnya ada pada alur yang semakin melebar. Pada awalnya, cerita masih cukup mudah diikuti. Namun, semakin ke tengah, fokus terhadap Kenanga dan konflik utamanya terasa berkurang. Ada bagian masa lalu tokoh yang dijelaskan cukup panjang, tetapi hubungannya dengan penyelesaian konflik tidak terasa kuat. Beberapa peristiwa juga dibangun dengan menarik, tetapi kemudian seperti dibiarkan begitu saja tanpa konsekuensi yang jelas.

Bahkan, setelah sampai di akhir, saya masih membawa banyak pertanyaan. Bagaimana kelanjutan hubungan Kenanga dan Bhuana? Apakah Intan akhirnya akan mengetahui identitas orang tua kandungnya? Bagaimana nasib persoalan yang melibatkan Dayu Galuh? Sejumlah konflik penting terasa menggantung, bukan dalam arti menyisakan ruang renungan yang memuaskan, melainkan karena penyelesaiannya kurang tuntas. Padahal, cerita telah menghabiskan banyak halaman untuk membangun berbagai persoalan tersebut.

Jujur saja, membaca Kenanga membuat saya beberapa kali ingin segera menyelesaikannya karena mulai merasa bosan. Saya bahkan hampir tidak menuntaskan novel ini. Rasa penasaran terhadap adat dan budaya Bali menjadi salah satu alasan saya bertahan. Sayang sekali, potensi latar dan persoalan sosial yang kuat itu belum sepenuhnya didukung oleh pengembangan karakter yang konsisten serta alur yang terarah.

Meski demikian, saya tetap mengapresiasi gagasan yang dibawa Oka Rusmini. Novel ini memperlihatkan bahwa perempuan tidak selalu memiliki kebebasan menentukan hidupnya sendiri, bahkan ketika mereka berasal dari keluarga terpandang. Adat dan tradisi yang seharusnya menjadi bagian dari identitas masyarakat dapat berubah menjadi beban ketika kehormatan keluarga ditempatkan di atas hak seseorang untuk memilih. Kenanga, dengan segala sikap teguhnya, menjadi gambaran perempuan yang berusaha mempertahankan kemandirian di tengah aturan yang membatasi.

Sayangnya, gagasan yang kuat itu tidak sepenuhnya diimbangi oleh penyelesaian cerita yang memuaskan. Saya menutup Kenanga dengan perasaan campur aduk. Ada pengetahuan baru tentang budaya Bali yang saya peroleh, tetapi ada pula kekecewaan terhadap karakter dan konflik yang terasa belum selesai. Bagi pembaca yang tertarik pada isu perempuan, adat, dan sistem kasta, novel ini tetap menawarkan bahan renungan. Namun, bagi saya, kekuatan tema dan latarnya belum cukup untuk menutupi kekurangan dalam pengembangan karakter dan penyelesaian alur.

Sebuah novel boleh meninggalkan pertanyaan bagi pembacanya. Namun, saya berharap pertanyaan itu lahir dari kedalaman cerita, bukan karena persoalan penting yang telah dibangun sejak awal justru dibiarkan menggantung begitu saja.

Catatan Tentang Ilustasi Sampul

Cover Lama Novel Kenaga (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)

Ilustrasi yang digunakan dalam ulasan ini merujuk pada sampul cetakan terbaru dari Gramedia. Saya sengaja memilihnya karena tampilan sampul edisi lama terlihat kurang menarik secara visual, dengan kontras warna yang cukup gelap. Sementara itu, edisi terbaru memiliki tampilan yang lebih nyaman dipandang, sehingga lebih sesuai untuk digunakan sebagai ilustrasi ulasan.