Lintang Siltya Utami | W.S Nurbaiti
Masjid Sidrotul Muntaha justru menyimpan bangunan utamanya di bawah permukaan tanah. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)
W.S Nurbaiti

Di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, terdapat sebuah masjid yang memiliki bentuk berbeda dari kebanyakan tempat ibadah umat Islam di Indonesia. Jika masjid pada umumnya mudah dikenali melalui kubah dan menara yang menjulang, Masjid Sidrotul Muntaha justru menyimpan bangunan utamanya di bawah permukaan tanah.

Masjid ini dibangun oleh keluarga besar Muhammad Ali Purwanto sejak 2018 dan baru rampung pada Ramadan 2021. Berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi, bangunan utamanya berada sekitar lima meter di bawah permukaan tanah.

Sebelum menjadi tempat ibadah, kawasan tersebut konon hanya berupa kubangan kolam ikan. Siapa sangka, lahan yang awalnya sederhana itu kemudian disulap menjadi masjid megah yang mengundang perhatian banyak orang.

Menariknya, pembangunan masjid tidak melibatkan arsitek khusus. Keluarga besar pendiri merancang bangunan tersebut secara mandiri dengan bantuan para tukang lokal. Dari proses itu, lahirlah sebuah masjid dengan bentuk yang tidak lazim, sekaligus menyimpan pesan filosofis bagi siapa saja yang datang beribadah.

Bukan Pusat Perbelanjaan, Melainkan Masjid di Bawah Tanah

Pilar-pilar Masjid Sidrotul Muntaha dengan dominasi warna merah menyala di bawah permukaan tanah. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Bagi saya yang beberapa kali berkunjung ke Banyuwangi, keberadaan Masjid Sidrotul Muntaha memang cukup mengundang perhatian. Tidak sedikit warga yang rela datang dari tempat jauh untuk melihat langsung bangunan yang memiliki bentuk berbeda dari masjid pada umumnya.

Dari bagian depan, bangunan ini tidak langsung memperlihatkan kemegahan sebuah masjid. Penampilannya justru menyerupai lorong yang mengarah ke bawah tanah. Tidak ada kesan mencolok seperti kubah besar atau menara tinggi yang biasanya menjadi penanda tempat ibadah.

Keunikan tersebut bahkan sempat menimbulkan dugaan di kalangan warga ketika pembangunan baru dimulai. Kala itu, sebagian masyarakat mengira bangunan yang sedang dikerjakan akan menjadi pusat perbelanjaan.

Dugaan itu cukup bisa dipahami. Dari tampilan luarnya, sulit membayangkan bahwa di balik bangunan yang menyerupai lorong tersebut terdapat ruang ibadah yang luas dan megah.

Pembangunan masjid melibatkan sekitar 20 pekerja. Seluruh prosesnya dilakukan secara mandiri dengan biaya yang disebut mencapai Rp4 miliar dari dana pribadi keluarga besar pendiri.

Dari bekas kolam ikan hingga menjadi masjid di bawah tanah, proses pembangunan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah lahan dapat berubah fungsi menjadi tempat ibadah dengan karakter yang tidak biasa.

Bermula dari Bekas Kolam Ikan Menjadi Ruang Peribadatan

Bedug di Masjid Sidrotul Muntaha yang berada di bawah permukaan tanah. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Salah satu hal yang membuat Masjid Sidrotul Muntaha menarik bukan semata-mata letak bangunannya yang berada di bawah tanah. Ada pula cerita mengenai proses pembangunannya yang berangkat dari lahan bekas kolam ikan.

Alih-alih membangun masjid dengan bentuk yang lazim ditemukan di berbagai daerah, keluarga besar Muhammad Ali Purwanto memilih rancangan yang berbeda. Mereka mengembangkan bangunan di bawah permukaan tanah dengan bantuan tukang-tukang lokal.

Keputusan tersebut membuat masjid memiliki pengalaman ruang yang berbeda sejak pertama kali dikunjungi. Dari luar, pengunjung hanya melihat bagian bangunan yang mengarah ke bawah. Namun, setelah memasuki area masjid, mereka dapat menemukan ruang ibadah yang sebelumnya tidak terlihat dari permukaan.

Kontras antara tampilan luar dan kondisi di bagian dalam menjadi salah satu daya tarik utama masjid ini. Bangunan yang sepintas tampak sederhana ternyata menyimpan ruang yang jauh berbeda dari perkiraan orang yang baru pertama kali melihatnya.

Kisah pembangunannya juga memperlihatkan bahwa pendirian tempat ibadah tidak selalu harus mengikuti bentuk arsitektur yang umum. Dengan rancangan mandiri dan keterlibatan pekerja lokal, keluarga pendiri menghadirkan masjid yang memiliki identitas tersendiri di tengah kawasan Glenmore.

Namun, keunikan bentuk saja bukan satu-satunya hal yang ingin ditonjolkan dari Masjid Sidrotul Muntaha. Di balik pilihan membangun masjid di bawah tanah, tersimpan pemaknaan yang lebih dalam tentang kehidupan manusia.

Mengingat Tanah, Mengingat Asal dan Tujuan

Bebatuan sungai digunakan untuk penopang dinding Masjid Sidrotul Muntaha di bawah permukaan tanah. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Bagi keluarga besar pendirinya, Masjid Sidrotul Muntaha bukan sekadar bangunan untuk menampung jamaah. Masjid ini juga dimaknai sebagai pengingat bahwa manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah.

Pesan tersebut terasa selaras dengan posisi bangunan utama yang berada sekitar lima meter di bawah permukaan tanah. Jika masjid pada umumnya dibangun menjulang agar mudah terlihat, Sidrotul Muntaha justru menempatkan ruang ibadahnya di bagian yang tersembunyi.

Pilihan itu menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Perhatian tidak hanya tertuju pada bentuk bangunan, tetapi juga pada pesan yang hendak disampaikan melalui arsitekturnya.

Di tengah banyaknya bangunan yang berlomba tampil mencolok, Masjid Sidrotul Muntaha menawarkan pendekatan yang berbeda. Kemegahannya tidak langsung terlihat dari luar, melainkan baru terungkap ketika pengunjung masuk lebih jauh ke dalam bangunan.

Barangkali, di situlah letak keunikan masjid ini. Bekas kolam ikan yang dahulu tidak banyak menarik perhatian kini berubah menjadi tempat ibadah yang didatangi orang dari berbagai tempat. Sementara itu, bangunan di bawah tanahnya menyimpan pesan sederhana tentang asal-usul dan tujuan akhir manusia.

Masjid Sidrotul Muntaha akhirnya bukan hanya menarik untuk dikunjungi karena bentuknya yang tidak biasa. Ia juga mengajak siapa saja untuk melihat bahwa sebuah bangunan dapat menyimpan makna yang melampaui wujud fisiknya. Sebab, kemegahan tempat ibadah tidak selalu harus ditunjukkan dengan sesuatu yang menjulang ke langit; terkadang, justru dari dalam tanah, manusia diingatkan untuk kembali membumi.