Lintang Siltya Utami | W.S Nurbaiti
Masjid Baiturrahman Alasmalang, konon jadi masjid tertua kedua di Banyuwangi dengan arsitektur yang masih tetap di pertahankan seperti bangunan awal. (Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)
W.S Nurbaiti

Beberapa kali mengunjungi adik yang berkuliah di Jember membuat saya penasaran dengan Banyuwangi. Meski tercatat sebagai kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa daerah ini ternyata punya jejak Islam yang tetap dipertahankan. Jadi tidak heran bagi saya wilayah ini jadi jujugan banyak orang, bukan cuma punya bentang alam yang indah. Di Banyuwangi juga ada sejumlah bangunan menyimpan cerita panjang tentang perjalanan Islam di ujung timur Pulau Jawa.

Salah satunya adalah Masjid  Baiturrahman Alasmalang yang berada di Dusun Wonorekso, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi. Saat saya tiba di sini memang cukup kesulitan mencarinya, sebab sangking banyaknya nama Masjid Baiturrahman di Banyuwangi. Namun seorang kolega memberikan titik tuju yang cukup mudah, tepat tidak jauh dari simpang tiga patung kebo-keboan, Alasmalang Singojuruh.

Setibanya di sana memang dari luar, masjid ini tidak terlihat seperti bangunan yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian jamaah. Letaknya justru berada di tengah pemukiman warga dan hingga kini masih digunakan untuk ibadah sehari-hari.

Namun kesan itu akan terbayar setelah mengetahui jika Masjid  Baiturrahman Alasmalang sudah berdiri sejak 1830 Masehi. Artinya, bangunan itu telah melewati perjalanan hampir dua abad dan menjadi salah satu saksi perkembangan dakwah Islam di Banyuwangi.

Masjid Tua di Tengah Pemukiman Warga

Jalur masuk menuju Masjid  Baiturrahman Alasmalang, berada di tengah pemukiman warga tetap digunakan untuk jamaah beribadah. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Kalau biasanya bangunan bersejarah berada di kawasan yang sengaja ditata sebagai destinasi wisata religi, Masjid  Baiturrahman Alasmalang justru punya suasana berbeda. Aktivitasnya masih menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Warga datang untuk shalat, mengaji, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Tidak ada kesan bahwa masjid tua ini hanya dijadikan benda pajangan masa lalu. Fungsinya sebagai tempat ibadah masih berjalan sebagaimana mestinya.

Hal semacam itu justru menarik. Sebab, usia bangunan yang hampir dua abad tidak membuatnya kehilangan fungsi. Masjid tetap hidup, sementara jejak masa lalunya masih dijaga sehingga bisa dilihat dari bentuk bangunannya.

Masjid  Baiturrahman Alasmalang juga dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Banyuwangi. Bahkan, masjid ini disebut sebagai masjid tertua kedua setelah Masjid Baiturrahman yang berada di pusat Kota Banyuwangi dan kini dikenal sebagai Masjid Agung Banyuwangi.

Bangunan Lama yang Tidak Banyak Diubah

Pondasi Masjid  Baiturrahman Alasmalang tetap di pertahankan tanpa merubah struktur aslinya. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Hal ihwal yang membuat saya makin tertarik bukan hanya soal usianya. Justru kondisi bangunannya yang masih mempertahankan bentuk lama menjadi bagian paling menarik untuk dilihat secara seksama.

Berbeda dengan Masjid Agung Banyuwangi yang telah mengalami perubahan besar dari masa ke masa, Masjid  Baiturrahman Alasmalang masih mempertahankan struktur bangunan aslinya. Memang ada sejumlah perbaikan, terutama pada bagian interior dalam masjid.

Tetapi renovasi yang dilakukan lebih banyak menyentuh sisi estetika dan kenyamanan. Sementara struktur utama bangunan tidak dirombak habis-habisan. Jadi, wajah lama masjid masih bisa dirasakan sampai sekarang.

Bagi saya, bangunan seperti ini punya daya tarik sendiri. Ada kesan sederhana, tetapi justru kesederhanaan itu yang membuat jamaah yang datang bisa membayangkan bagaimana bentuk masjid pada masa ketika teknologi bangunan belum seperti sekarang.

Kubahnya Mengingatkan Masjid-Masjid Tua di Kediri

Bangunan kubah masjid menyerupai dengan yang saya tenui di Masjid Baiturrahman di Desa Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Satu bagian yang cukup mencuri perhatian adalah kubahnya. Sekilas melihat bentuk kubah Masjid  Baiturrahman Alasmalang, saya justru teringat dengan sejumlah masjid tua di Kediri. Bentuknya memiliki nuansa arsitektur masjid Jawa yang terasa kuat dengan atap tumpang bersusun.

Memang, kalau membayangkan masjid zaman sekarang, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada kubah besar, ornamen yang ramai, marmer mengilap, atau menara yang menjulang tinggi. Masjid lama seperti Baiturrahman Alasmalang punya pendekatan berbeda. Tidak berlebihan, tetapi memiliki karakter yang tetap di jaga.

Bentuk kubah dan bangunan yang sederhana memperlihatkan bagaimana arsitektur masjid di Jawa berkembang dengan menyesuaikan tradisi lokal. Unsur keislaman tidak selalu harus tampil dengan bentuk arsitektur Timur Tengah. Di Jawa, masjid justru kerap berdialog dengan budaya dan bentuk bangunan yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat.

Hampir Dua Abad, Masih Digunakan

Interior Masjid  Baiturrahman Alasmalang dilakukan perbaikan yang semestinya tanpa merubah fungsi. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Ada sesuatu yang menarik dari bangunan dengan usia lebih dari dua abad dan masih digunakan sampai sekarang. Bagi saya, ini bukan hanya sekadar melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga melihat bagaimana masa lalu dan kehidupan hari ini berjalan berdampingan. Masjid  Baiturrahman Alasmalang menjadi contohnya.

Sejak dibangun sekitar 1830, tentu sudah banyak perubahan terjadi di Banyuwangi. Jalan berubah, rumah-rumah tumbuh, teknologi berkembang, dan generasi berganti. Namun, bangunan masjid tetap bertahan di tengah perubahan itu. Bahkan setelah hampir dua abad, masyarakat masih datang melewati pintunya untuk menjalankan ibadah.

Barangkali justru di situlah nilai penting masjid ini. Ia tidak perlu menjadi bangunan megah untuk membuktikan bahwa dirinya bersejarah. Cukup berdiri, tetap digunakan, dan mempertahankan wajah lamanya. Apalagi di tengah perkembangan zaman yang membuat banyak bangunan lama berubah rupa, mempertahankan struktur asli bukan perkara sederhana.

Sebab, kadang yang perlu dijaga bukan cuma tembok dan atapnya semata, tetapi juga ingatan kolektif tentang bagaimana sebuah masyarakat tumbuh bersama bangunan itu. Dan Masjid  Baiturrahman Alasmalang masih melakukan hal tersebut sampai hari ini.