Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Kolase potret penulis Dan Hancox (kiri) dan sampul buku karyanya edisi terjemahan bahasa Indonesia bertajuk Marinaleda: Eksperimen Kota Kecil Antikapitalis (kanan). Buku nonfiksi terbitan Marjin Kiri (2023). (Marjin Kiri/Marinaleda)
Fairus Farizki

Bencana ekologis, pengangguran, dan mahalnya biaya hidup sering kali dianggap sebagai masalah yang berdiri sendiri. Padahal, persoalan-persoalan ini saling berkaitan dengan cara ekonomi diatur, sumber daya dikuasai, dan hasil kerja dibagikan. Meski banyak gerakan berusaha mengubah keadaan, membayangkan kehidupan di luar tatanan kapitalisme masih sering dianggap sebagai angan-angan belaka, utopis.

Tantangan menarik terhadap anggapan tersebut diulas dalam buku “Marinaleda: Eksperimen Kota Kecil Antikapitalis” karya Dan Hancox (Marjin Kiri, 2023). Buku nonfiksi yang diterjemahkan dari The Village Against the World (Verso, 2013) ini mengajak pembaca mempelajari perjuangan warga sebuah kota kecil di Andalusia, Spanyol. Di sana, mereka berhasil membangun kehidupan bersama yang berbasis pada koperasi dan kepemilikan kolektif.

Marinaleda tidak berubah dalam semalam hanya karena sebuah ide revolusioner. Warga kota ini telah berjuang sejak akhir 1970-an melalui aksi protes dan pendudukan lahan milik kaum aristokrat. Mereka memulai sebuah gerakan tersebut dengan tanah demi memastikan sumber penghidupan dikelola langsung oleh mereka yang bekerja dengan tidak menumpuknya di tangan pemilik modal.

Gerakan ini kemudian berkembang menjadi sistem koperasi yang mencakup pertanian, pabrik pengolahan hasil bumi, penyediaan lapangan kerja, hingga penyediaan rumah murah. Buku karya Dan Hancox ini menarik karena berhasil membumikan gagasan antikapitalisme dari sekadar teori menjadi praktik nyata sehari-hari. 

Melalui kisah ini, kita diajak melihat bahwa perubahan nyata membutuhkan organisasi yang solid, penguasaan sumber daya, dan kerja kolektif dalam jangka panjang.

Kunci untuk memahami eksperimen Marinaleda terletak pada corak produksinya. Dalam sistem kapitalisme, pemilik modal menguasai alat produksi, sementara pekerja menjual tenaga demi upah. Selisih antara nilai yang dihasilkan pekerja dan upah yang mereka terima menjadi keuntungan pemilik modal, sebuah konsep yang disebut Karl Marx sebagai nilai lebih atau surplus value.

Marinaleda menawarkan alternatif yang berbeda. Lewat sistem koperasi, kepemilikan dan pengelolaan alat produksi dimiliki secara kolektif, sehingga manfaat ekonominya kembali dinikmati oleh komunitas. Meski hasil produksi tetap dijual di pasar, mekanisme pasar tersebut tidak lagi menentukan siapa yang menguasai sumber daya dan menikmati hasil kerja bersama.

Berdasarkan data dari situs resmi Koperasi Marinaleda, pusat pengolahan pertanian mereka terhubung langsung dengan delapan koperasi pengelola lahan El Humoso. Dengan omzet tahunan rata-rata mencapai enam juta euro. 

Lembaga ini mampu menyerap lebih dari 400 pekerja saat musim produksi, yang mayoritasnya adalah perempuan pedesaan. Angka ini membuktikan bahwa sistem ekonomi kolektif di sana memiliki institusi produksi yang nyata dan berjalan dengan baik.

Oleh karena itu, Marinaleda sangat layak dipandang sebagai eksperimen ekonomi alternatif yang berhasil. Tolok ukurnya adalah dengan memastikan cara masyarakat membentuk corak produksi ekonominya sendiri secara kolektif, mengelola sumber dayanya secara bersama, dan mengembalikan hasil kerjanya untuk kesejahteraan komunitas.

Kisah Marinaleda ini sangat relevan bagi Indonesia, meskipun memiliki latar belakang sejarah dan kondisi sosial yang berbeda. Kita dapat mengambil semangat perjuangannya tanpa harus meniru seluruh modelnya mentah-mentah. 

Isu-isu lokal seperti penguasaan lahan, hilirisasi pertanian, akses rumah layak, dan pembagian hasil ekonomi yang adil bisa menjadi titik awal untuk membangun alternatif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Pengorganisasian warga menjadi kunci utama dalam proses ini. Masyarakat yang menghadapi ancaman penggusuran atau ketimpangan sosial akan jauh lebih kuat saat mampu membangun solidaritas dan merumuskan kepentingan bersama. 

Gerakan kolektif Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) di Jakarta dalam memperjuangkan hak atas ruang hidup kaum urban menjadi salah satu contoh nyata betapa pentingnya kerja sama kelompok di lapangan.

Pelajaran berharga dari buku Dan Hancox ini adalah keberanian untuk mewujudkan sesuatu yang sering dianggap mustahil. Alternatif tatanan baru tidak lahir hanya dari sekadar kritik, melainkan dari upaya nyata menciptakan cara hidup dan corak produksi yang mandiri. 

Marinaleda membuktikan bahwa imajinasi politik bisa mewujud nyata ketika warga kompak mengorganisasi diri, berdaulat atas sumber penghidupan, dan mengelola hasil kerja mereka secara bersama-sama.