Dulu, sebelum hari-hari kita dipenuhi oleh tugas kuliah, deadline pekerjaan, dan urusan mencari uang, menonton SpongeBob SquarePants di Global TV adalah hiburan sederhana yang selalu dinanti. Meski episodenya diputar berulang kali, kita tetap saja tertawa melihat kelakuan SpongeBob yang kelewat bersemangat dan Patrick yang sering bikin geleng-geleng kepala.
Di mata kita saat itu, Bikini Bottom adalah dunia yang menyenangkan, kecuali satu karakter bernama Squidward yang hanyalah sosok tetangga menyebalkan yang gemar merusak suasana.
Tetapi, setelah kita sendiri mulai mengenal dunia kerja, perspektif itu perlahan berubah. Energi SpongeBob yang seolah tidak pernah habis kadang terasa melelahkan untuk dibayangkan. Sebaliknya, keinginan Squidward untuk sekadar menikmati ketenangan setelah lelah bekerja justru terasa sangat relate sekali.
Kita mulai paham bahwa tidak semua orang bisa menjalani hari dengan senyum lebar dan semangat yang meluap-luap setiap saat, sebagaimana Squidward.
Perubahan perspektif ini tergambar jelas dalam episode “Squid on Strike” di season kedua, yang pertama kali tayang pada 11 Oktober 2001 di Paramount+. Episode ini bercerita tentang Squidward yang mengajak SpongeBob melakukan aksi mogok kerja untuk memprotes Tuan Krabs karena merasa jerih payah mereka dimanfaatkan.
Konflik di restoran Krusty Krab ini pun menjadi cerminan yang menarik mengenai hubungan antara pekerja dan pemilik usaha di dunia nyata.
Squidward menyadari ada yang keliru dengan cara Tuan Krabs memperlakukan pekerjanya. Ia pun memilih untuk melawan, sementara SpongeBob tidak sepenuhnya memahami arti dari mogok kerja.
Di titik ini, Squidward tampak seperti seorang pekerja yang menyadari ketimpangan, namun ia kesulitan membangun solidaritas. Meski berhasil mengajak SpongeBob bergerak bersama, dukungan yang ia dapatkan terasa rapuh karena perbedaan pemahaman tersebut.
Dalam kehidupan nyata, aksi mogok kerja tentu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar berhenti bekerja karena kesal. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menjelaskan bahwa hak mogok diakui sebagai hak fundamental pekerja untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi dan sosial mereka, dengan pelaksanaan yang tetap tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku.
Di sisi lain, Squidward sebenarnya bukan sekadar karakter pemarah. Ia memiliki kehidupan dan impian di luar meja kasir Krusty Krab, seperti ketertarikannya yang besar pada dunia musik dan seni. Sisi inilah yang membuatnya terasa lebih manusiawi. Pekerjaan di restoran tersebut hanyalah cara untuk bertahan hidup, sementara ia tetap mendambakan waktu untuk diri sendiri, menikmati kesunyian, dan menyalurkan minatnya tanpa terusik.
Laporan ILO berjudul “Working Time and Work-Life Balance Around the World” menunjukkan bahwa jam kerja berkaitan erat dengan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Laporan tersebut mencatat bahwa lebih dari sepertiga pekerja di dunia rutin bekerja di atas 48 jam per minggu, yang sering kali berdampak pada penurunan kualitas keseimbangan hidup.
Realitas inilah yang membuat rasa lelah Squidward dan kebutuhannya akan ruang pribadi terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata.
Di sisi lain, Tuan Krabs hadir sebagai gambaran kapitalis pemilik modal yang cenderung menempatkan keuntungan di atas kenyamanan karyawannya. Sebagai pemilik restoran, ia memegang kendali penuh atas aturan kerja yang menjadi sumber penghasilan bawahannya. Pola hubungan kerja ini bahkan terlihat jelas pada kepatuhan total SpongeBob, yang saking setianya, sering kali kesulitan menyadari kapan dirinya sedang dirugikan.
Tentu saja, kita tidak perlu membenci SpongeBob atau membenarkan semua tindakan Squidward. Namun setelah dewasa, kita menjadi paham bahwa antusiasme saja tidak selalu cukup untuk menyelesaikan persoalan struktural di tempat kerja. Kadang-kadang, rekan kerja yang terlihat lesu sebenarnya hanya sedang berusaha menjaga sisa tenaga yang mereka miliki.
Mungkin itulah alasan mengapa sosok Squidward terasa semakin dekat dengan keseharian kita. Di balik wajah masamnya, ia hanyalah seseorang yang ingin bekerja dengan baik tanpa harus kehilangan seluruh kehidupan pribadinya. Semoga kita yang diam-diam merasa seperti Squidward tetap memiliki kesempatan untuk mengejar cita-cita, menemukan ketenangan, dan bisa pulang kerja dengan perasaan yang utuh.
Baca Juga
-
Saat Matematika sebagai Alat Penjajahan, Rumus dan Angka Menjadi Alat Kuasa
-
Lewat Tembang Pangkur, Warga Pracimantoro Merawat Perjuangan Lawan Tambang
-
Diskusi Film Karst: Petani Pracimantoro Soroti Ancaman Tambang Semen
-
Di Balik Polemik Wisdom Park UGM: Saat Ruang Kumpul Mahasiswa Diuji Tarif
-
Ulasan Novel Membunuh Commendatore: Bahasa Simpel, Misteri Berlapis
Artikel Terkait
Ulasan
-
Love, Death & Robots Volume 2: Kumpulan Antologi Cerita Pendek yang Terbaik
-
Review 12.12: The Day, Ketika Ambisi Satu Orang Jadi Bencana Banyak Orang
-
Belajar Atur Waktu Layar Anak Lewat Buku Cerita Gara-Gara Game Online
-
Review The Childe: Film Aksi Menegangkan dengan Akhir yang Tak Terduga
-
The Roundup: Punishment, Kejahatan Makin Canggih dan Hukum Tak Boleh Kalah!
Terkini
-
Nubia REDMAGIC 12 Pro+ Menggoda Gamer, Layar Tanpa Notch dan Kipas 25.500 RPM
-
Menjawab Kritik Polisi Bahasa: Mengapa Kita Harus Berhenti Menganggap Bahasa Sedang Rusak
-
Bahasa Campuran Bukan Sekadar Tren: Multibahasa Menjadi Tuntutan Hidup
-
Ketegasan Sanksi Karhutla: Izin Dicabut, Lahannya Mau Dibiarkan Terbakar?
-
Tampil Swag Abis! ATEEZ Pamer Ambisi dan Pencapaian di Lagu Terbaru, Drip