Ada kehilangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, terutama ketika dialami oleh seorang anak yang belum sepenuhnya memahami kematian.
alam I Built a Rocket Ship, Anna Lazowski menghadirkan kisah menyentuh tentang seorang anak yang berusaha menghadapi duka melalui imajinasi, kenangan, dan sebuah roket yang dibangun di halaman belakang rumahnya.
Cerita bermula ketika seorang anak memutuskan untuk membangun roket. Di dekatnya, sang ayah menemani proses tersebut, sementara si anak terus bercerita kepada seseorang yang sudah tidak lagi berada di sisinya.
Setiap bagian roket yang dibuat mengingatkannya pada kebersamaan mereka di masa lalu, mulai dari proyek-proyek kecil hingga kebiasaan mengamati bintang bersama.
Namun, ada sesuatu yang terasa hilang. Sosok yang dirindukan kini terasa begitu jauh, seolah berada di antara bintang-bintang.
Karena itulah, roket tersebut bukan sekadar proyek bermain, melainkan cara sang anak mengungkapkan kerinduan dan mempertahankan hubungan emosional dengan seseorang yang telah meninggal.
Melalui perjalanan imajinatif ini, pembaca diajak memahami bahwa kehilangan tidak selalu bisa diungkapkan secara langsung, terutama oleh anak-anak.
Keunikan buku ini terletak pada cara Anna Lazowski membicarakan kematian dan duka tanpa membuat ceritanya terasa menakutkan.
Alih-alih menjelaskan kehilangan melalui percakapan panjang atau nasihat orang dewasa, penulis memilih memperlihatkannya melalui tindakan sederhana seorang anak. Membangun roket menjadi bentuk pelampiasan perasaan sekaligus upaya untuk memahami kenyataan yang sulit diterima.
Pilihan untuk tidak menyebutkan secara spesifik siapa sosok yang telah meninggal juga membuat cerita ini terasa universal.
Pembaca dapat menghubungkannya dengan pengalaman kehilangan orang tua, kakek-nenek, atau seseorang yang memiliki tempat istimewa dalam hidup mereka. Setiap orang mungkin mempunyai pengalaman berbeda, tetapi kerinduan terhadap seseorang yang telah tiada merupakan perasaan yang dapat dipahami banyak orang.
Dari segi gaya bahasa, I Built a Rocket Ship menggunakan narasi sederhana, lembut, dan puitis. Pengulangan kalimat tentang membangun roket di halaman belakang memberikan ritme yang menenangkan sekaligus memperkuat kesan bahwa sang anak sedang menjalani proses emosionalnya sendiri.
Kalimat-kalimatnya tidak berusaha menjelaskan setiap perasaan secara gamblang. Sebaliknya, pembaca diberi ruang untuk memahami kesedihan melalui percakapan, tindakan, dan kenangan yang muncul sepanjang cerita.
Ilustrasi karya Jennica Lounsbury turut memperdalam pengalaman membaca. Garis-garis lembut, bentuk membulat, dan warna pastel yang kalem menciptakan suasana melankolis sekaligus hangat.
Langit malam dan ruang yang luas memberikan kesan jarak antara sang anak dan sosok yang dirindukannya.
Sementara itu, kehadiran ayah di dekatnya menjadi pengingat bahwa meskipun seseorang telah pergi, masih ada orang-orang yang dapat menemani kita melewati masa sulit. Perpaduan ilustrasi dan narasi ini membuat emosi tokoh utama terasa lebih nyata tanpa perlu digambarkan secara berlebihan.
Pesan paling kuat dari buku ini adalah bahwa setiap orang memiliki cara berbeda untuk menghadapi duka. Anak-anak mungkin tidak selalu mampu menjelaskan kesedihan melalui kata-kata.
Mereka bisa memilih bermain, menggambar, membuat sesuatu, atau menghidupkan kembali kenangan melalui imajinasi. Karena itu, orang dewasa perlu memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya tanpa terburu-buru mengharapkan mereka kembali ceria.
Kehadiran sang ayah juga mengingatkan pembaca bahwa mendampingi seseorang yang berduka tidak selalu berarti harus menemukan jawaban atas kesedihannya.
Terkadang, menemani, mendengarkan, dan membiarkan mereka menjalani prosesnya sendiri sudah menjadi bentuk dukungan yang berarti.
Secara keseluruhan, I Built a Rocket Ship merupakan buku bergambar yang lembut, menyentuh, dan penuh makna. Kisahnya mungkin sederhana, tetapi mampu membuka percakapan penting tentang kematian, kerinduan, dan kenangan bersama orang-orang terkasih.
Buku ini cocok dibaca bersama anak-anak, terutama ketika keluarga ingin membicarakan kehilangan dengan cara yang penuh empati.
Pada akhirnya, roket dalam cerita ini mengajarkan bahwa meskipun seseorang tidak lagi hadir secara fisik, cinta dan kenangan tentangnya tetap memiliki tempat dalam kehidupan kita.
Baca Juga
-
Wanderers: Perjalanan Panjang Manusia Menaklukkan Jarak dan Waktu
-
Waiting for Iced Tea: Kisah Hangat tentang Kesabaran dan Keluarga
-
All Brains Welcome: Mengenal Autisme dan Disleksia dengan Cara Menyenangkan
-
Buku Billy and the Hole, sebuah Lubang Misterius dan Pelajaran Batasan Diri
-
Tic-errific Me: Kisah Hangat tentang Penerimaan Diri dan Tourette
Artikel Terkait
Ulasan
-
My Tomorrow, Your Yesterday: Ketika Hari Pertama Kita Jadi Hari Terakhirnya
-
Ulasan Novel Festival Hujan, Belajar Menerima Diri dari Sebuah Kehilangan
-
Tampil Stand Out ala Profesional dalam Buku Presentasi yang Mencekam
-
Wanderers: Perjalanan Panjang Manusia Menaklukkan Jarak dan Waktu
-
Enam Cerita, Satu Kematian: Menelusuri Kebenaran di Novel Girls in the Dark
Terkini
-
Bukan Cuma Minuman Hits, 5 Toner Matcha Korea Ini Bisa Atasi Pori-pori dan Jerawat
-
Nyesel Baru Tahu! 3 Kelas Menulis Ini Ampuh Bikin Tulisan Makin Enak Dibaca
-
Di Balik Tren Stop the Wedding: Bukan Takut Nikah, Tapi Makin Sadar Risiko
-
SPYAIR Resmi Rilis Album BEST OF ANIME: 16 Years of SPYAIR Anime
-
Dikeruk tapi Minim Pembangunan: Kenapa Masyarakat Pedalaman Tidak Bersuara?