Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menghadapi kehilangan. Ada yang memilih menyendiri, mencari kesibukan, atau berusaha melupakan seseorang yang telah pergi. Namun, tidak semua kehilangan hanya menyisakan kesedihan. Ada kalanya, dari keadaan yang tidak diinginkan, seseorang justru mulai mengenali dirinya sendiri.
Hal tersebut tergambar dalam novel Festival Hujan karya Azhar Nurun Ala, yang dikenal dengan nama Nurunala. Novel terbitan Grasindo ini mengisahkan Rania, seorang gadis berusia dua puluh tahun yang harus menghadapi kenyataan bahwa hubungan percintaan pertamanya berakhir secara sepihak.
Bagi Rania, perpisahan itu bukan perkara mudah. Ia menghabiskan hari-harinya dengan mengurung diri di kamar, membaca artikel tentang cara melupakan mantan kekasih, dan mempertanyakan apa yang sebenarnya salah dalam hubungannya. Seperti kebanyakan orang yang baru mengalami patah hati, Rania masih sibuk mencari jawaban dari sesuatu yang belum tentu memiliki penjelasan memuaskan.
Keadaan mulai berubah ketika Rania mengunjungi sebuah toko buku kecil di samping rumahnya. Di sana, ia berkenalan dengan Tama, pemilik toko yang memberinya kesempatan membaca berbagai koleksi buku. Menariknya, Rania yang semula tidak gemar membaca justru mulai menikmati kegiatan tersebut. Ia juga berkesempatan mendiskusikan buku-buku yang dibacanya bersama Tama.
Namun, kehadiran seseorang yang baru tidak serta-merta membuat persoalan lama menghilang. Latar belakang keluarga Rania yang tidak utuh, pengalaman percintaan yang mengecewakan, serta berbagai persoalan lain membuatnya kembali berhadapan dengan ketakutan akan kehilangan. Ia pun harus belajar bahwa tidak semua orang yang hadir dalam kehidupan kita dapat dipahami sepenuhnya sejak awal.
Salah satu hal menarik dari novel ini ialah penggunaan buku sebagai bagian dari perjalanan Rania menghadapi kesedihan. Membaca tidak digambarkan sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan masalah, melainkan sebagai kegiatan yang membuka kesempatan bagi Rania untuk belajar dan melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda. Perubahan Rania dari seseorang yang tidak gemar membaca menjadi lebih dekat dengan buku juga memberikan warna tersendiri dalam cerita.
Dari segi penulisan, Festival Hujan menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Persoalan yang diangkat pun sesuai dengan kehidupan sehari-hari, terutama mengenai percintaan, keluarga, persahabatan, dan penerimaan diri. Ilustrasi yang disertakan menjadi daya tarik tambahan bagi pembaca.
Meski demikian, tema patah hati dan proses bangkit dari kekecewaan bukanlah hal baru dalam novel remaja. Sebagian konflik mungkin terasa akrab bagi pembaca yang telah membaca cerita dengan tema serupa. Akan tetapi, kedekatan tersebut justru dapat menjadi kekuatan tersendiri. Persoalan yang sederhana tidak selalu berarti dangkal, sebab pengalaman yang terasa biasa bagi seseorang bisa jadi merupakan hal yang sedang sulit dihadapi orang lain.
Melalui perjalanan Rania, pembaca diajak memahami bahwa mencintai diri sendiri bukan sekadar menerima keadaan, melainkan juga berusaha merawat dan memperbaiki diri. Kita tidak harus menunggu seseorang datang untuk mulai melakukan hal-hal baik bagi kehidupan kita sendiri.
Lantas, ketika kita sibuk berusaha agar tetap dicintai orang lain, pernahkah kita bertanya apakah selama ini kita sendiri sudah memperlakukan diri kita dengan baik?
Pada akhirnya, Festival Hujan mengingatkan bahwa kehilangan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak selalu dapat dihindari. Kita boleh bersedih, kecewa, dan membutuhkan waktu untuk pulih. Namun, jangan sampai keinginan untuk mempertahankan seseorang membuat kita melupakan diri sendiri. Sebab, terkadang yang perlu ditemukan setelah kehilangan bukanlah orang baru untuk menggantikan seseorang yang pergi, melainkan diri kita yang sempat terabaikan ketika terlalu sibuk berharap.
Identitas Buku
Judul Buku: Festival Hujan
Penulis: Azhar Nurun Ala (Nurunala)
Penerbit: Grasindo
Tanggal Terbit: 6 Desember 2023
Jumlah Halaman: 188–200 halaman
ISBN: 9786020530482
Baca Juga
-
Menyusuri Makna Kehidupan dalam Buku Kantor Pos dan Siklus Musim Semi
-
Novel Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati: Menyingkap Jati Diri dan Kekayaan Budaya Bali
-
Memupuk Keberanian untuk Menggali Potensi dan Meraih Mimpi dalam Lawan Minder, Raih Sukses
-
Menjadi Guru yang Berakhlak dalam Buku Adab di Atas Ilmu 5
-
Luasnya Rahmat Allah dalam Buku Yang Maha Sekarepe, Yang Maha Entengan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Tampil Stand Out ala Profesional dalam Buku Presentasi yang Mencekam
-
Wanderers: Perjalanan Panjang Manusia Menaklukkan Jarak dan Waktu
-
Enam Cerita, Satu Kematian: Menelusuri Kebenaran di Novel Girls in the Dark
-
Refleksi Mariposa: Pentingnya Orang Tua Memahami Mental dan Hati Anak
-
Belajar Menjalani Hidup dengan Lebih Tenang melalui Hal-Hal yang Boleh dan Tak Boleh Kulakukan
Terkini
-
4 Hydrating Sunscreen Buat Lindungi Kulit dari Sinar UV dan Jaga Kelembapan
-
Dilema Guru Bahasa Inggris: Ketika Bahasa Ibu Tersisih di Era Gen Z
-
Antara Which Is dan Secara: Cara Gen Z Tetap Gaul Tanpa Merusak Bahasa Ibu
-
Penuh Nostalgia! Trio Bajaj Resmi Comeback di Para Pencari Tuhan Jilid 20
-
Di Rumah atau Dirumah? Kesalahan Sepele yang Terus Berulang di Media Sosial