Tidak semua orang tumbuh dengan kenangan masa kecil yang manis. Bagi sebagian orang, masa kecil justru menyimpan pertengkaran, kehilangan, dan luka yang terus terbawa hingga dewasa. Dalam novel Strawberry, Ice Cream, and You, Anisa Maryanti menghadirkan kisah tentang seorang remaja laki-laki yang berusaha berdamai dengan masa lalunya, serta seorang perempuan yang mencoba mendekatinya meski berkali-kali mendapat penolakan.
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada April 2015, novel setebal 184 halaman ini mengangkat tema keluarga, kehilangan, dan romansa remaja. Ceritanya berpusat pada Nara, seorang laki-laki introver dengan pembawaan dingin, dan Yoza, perempuan ceria yang tidak mudah menyerah untuk mengenalnya.
Sinosis Novel
Nara menyimpan kebencian mendalam terhadap ayahnya, Rizal. Ia merasa lelaki itu menikahi ibunya tanpa cinta dan menjadi sumber berbagai pertengkaran di rumah. Setiap kali orangtuanya bertengkar, ibu Nara selalu mengajaknya pergi ke toko 24 jam di ujung jalan untuk membeli es krim. Kebiasaan sederhana itu kemudian menjadi kenangan berharga sekaligus pelarian bagi Nara ketika menghadapi kesedihan.
Namun, kehilangan datang bertubi-tubi. Ibu dan kakaknya, Alvin, meninggal dunia. Sejak saat itu, es krim bukan lagi sekadar makanan kesukaan, melainkan simbol kasih sayang, ketenangan, dan kenangan tentang orang-orang yang pernah membuatnya merasa dicintai.
Pengalaman tersebut membentuk kepribadian Nara menjadi pribadi tertutup dan sulit didekati. Ia cenderung menjaga jarak, terutama terhadap perempuan. Sikap dingin itu semakin terlihat ketika Yoza hadir dalam kehidupannya. Berbeda dengan Nara, Yoza memiliki kepribadian ceria dan penuh perhatian. Ia berusaha mendekati Nara meskipun berkali-kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Nara bahkan merasa risih dengan kehadiran Yoza yang terus berusaha berada di dekatnya. Akan tetapi, kebencian Nara ternyata bukan tanpa alasan. Ada rahasia masa lalu yang menghubungkan mereka dan menjadi sumber luka bagi keduanya.
Kehadiran Yoza perlahan membawa warna baru dalam kehidupan Nara. Ia juga kerap memberikan es krim, sesuatu yang mengingatkan Nara pada kebiasaan ibunya. Dari benda sederhana tersebut, pembaca dapat melihat bagaimana kenangan masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang menerima perhatian dan membangun hubungan dengan orang lain.
Kelebihan dan Kekurangan
Aku suka penggambaran persoalan keluarga dan dampaknya terhadap perkembangan karakter remaja. Nara menjadi contoh bagaimana konflik orangtua, kehilangan, dan minimnya kehangatan keluarga dapat membentuk seseorang menjadi tertutup. Sementara itu, Yoza menggambarkan ketulusan dan kesabaran dalam menghadapi orang yang memiliki kesulitan untuk membuka diri.
Anisa Maryanti menggunakan alur campuran dengan menghadirkan kilas balik dari beberapa tokoh. Teknik ini membantu pembaca memahami latar belakang sikap dan keputusan mereka. Cerita disampaikan melalui sudut pandang orang ketiga dengan bahasa ringan, sederhana, dan dekat dengan percakapan anak muda. Perpaduan suasana bahagia, sedih, menegangkan, hingga mengharukan membuat novel ini terasa seperti bacaan teenlit pada umumnya, tetapi tetap memiliki persoalan emosional yang cukup kuat.
Beberapa bagian cerita terasa lebih banyak menjelaskan daripada memperlihatkan peristiwa secara langsung. Sejumlah tokoh pendukung, termasuk teman-teman Yoza dan lingkungan kerja Nara, juga kurang mendapat ruang sehingga dunia cerita terasa agak terbatas. Selain itu, penyelesaian konflik Rizal sebagai ayah Nara berpotensi menimbulkan ketidakpuasan. Kesalahan dan luka yang ditinggalkannya terasa begitu besar, sementara proses pertanggungjawabannya tidak digambarkan sebanding dengan dampak perbuatannya.
Rekomendasi Pembaca
Akhir cerita yang cenderung terbuka juga bisa memunculkan beragam tanggapan. Sebagian pembaca mungkin menyukai kesempatan untuk membayangkan kelanjutan kisah Nara dan Yoza, sedangkan pembaca lain bisa merasa belum memperoleh penyelesaian yang memuaskan.
Terlepas dari kekurangannya, Strawberry, Ice Cream, and You menawarkan kisah remaja yang tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang kehilangan, penerimaan, dan luka keluarga. Novel ini mengingatkan bahwa sikap dingin seseorang terkadang menyimpan cerita yang tidak diketahui orang lain. Sebab, di balik tatapan yang menjauh dan kata-kata yang menyakitkan, bisa jadi ada hati yang masih berusaha pulih dari masa lalu.
Tag
Baca Juga
-
Ketika Feodalisme Berhadapan dengan Hak Rakyat, Jogja Istimewa untuk Siapa?
-
Target Pajak Makin Tinggi, Siapa yang Sebenarnya Menanggung Bebannya?
-
Tragedi Cinta di Tengah Revolusi Prancis dalam Novel Kisah Dua Kota
-
Negara Sibuk Mengubah Angka, Rakyat Masih Bergelut dengan Masalah
-
Kritik Pemerintah Tak Berarti Ngebet Ganti Presiden: Salah Kaprah Demokrasi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Buku The Alchemist: Meniti Mimpi antara Takdir dan Realita Pilihan
-
Ulasan Robohnya Surau Kami: Ketika Kesalehan Kehilangan Makna
-
Eccentric! Chef Moon: Saat Kuliner Pedesaan Sembuhkan Dua Jiwa yang Patah
-
Review Godzilla Minus Zero: Ketika Teror Monster Menjadi Alegori Trauma
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat
Terkini
-
Shin Min Ah, Lee Jin Uk, dan Yoo Teo Dipastikan Bintangi Wed Thurs Fri
-
Agensi Umumkan Lee Know Stray Kids Akan Mulai Wajib Militer pada Awal 2027
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Moisturizer Alpha Arbutin Cuma di Bawah Rp50 Ribuan
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?