Sejak hari ini, aku memang jatuh sakit. Suaraku serak-serak hampir mengalahi dentuman sambar petir. Tapi, karena nanti malam aku dan teman-teman (Khairul Anwar dan Ahmad Sanusi) mau manggung dalam penampilan pentas seni yang disaksikan segenap masyarakat, akhirnya walau keadaanku layu, kuajarkan untuk bisa tampil fresh dan penuh semangat. Hingga kami pun tampil di panggung utama yang dikerumuni sebagian besar kaum Hawa dengan acungan jempol dari segala penjuru.
Sungguh lega rasanya. Satu beban sudah terlepas dari pundak. Hari Minggu kemarin pukul 14.30 WIB, Umma yang dibuntuti sanak famili mulai merayap ke asramaku guna menimba ilmu dari berbagai dai kondang karena malam dari hari itu, diselenggarakan acara besar tahunan: Haflatul Imtihan.
Acara tersebut sempat pula dihadiri oleh reporter stasiun televisi terkenal yang akan mengabadikan penampilan figur dai nasional, Payage (Syaiful Islam) asal Papua yang malam itu diundang untuk berdakwah di hadapan umat khususnya para wali santri.
Pukul 23.00 acara pengajian akbar itu sudah selesai. Para pengunjung mulai semrawut, ambil kendaraan, cari saudara dan berpamitan. Sama halnya dengan Umma dan keluargaku. Setelah menyerap ilmu dari sambutan pengasuh pesantren dan wejangan tausiah dari dua penceramah (KH. Payage dan KH. Imam Haramain) Umma serta famili dekatku sudah ditunggu oleh sopir.
Setelah membereskan seperangkat alat bawaan dan sisa makanan, tidak berlangsung lama mereka lalu berpamitan. Malam itu, abahku memang tidak bisa hadir dikarenakan berbenturan dengan acara MASURA (Majelis Silaturahim Ulama Rakyat) di Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya yang dihadiri oleh ulama besar se-Indonesia.
Setelah gubuk suciku sepi dari segenap keluargaku, aku pun balas dendam. Mataku yang mulai kemarin malam tak dapat memejam. Aku rebahkan diriku, aku telentang di putaran 4 lemari berselimut kain tebal berwarna biru, karena lelah fisik juga pikiran.
Waktu Subuh tiba di pelupuk mata, terdengar alunannya ke gendang indera pendengarku. Namun, aku tak terjaga. Punggungku terasa ngilu, mataku kelu, dan pahaku seakan diganjal satu sak semen. Semua menandakan, betapa payahnya aku dan diriku. Aku terlelap tidur sejak matahari mempromosikan raut wajahnya yang berbinar benderang, hingga abah dan adikku muncul dari pintu tempatku melayangkan mimpi.
“Nak, bangun! Ayo kalau mau ikut ngantarkan adiknya ke Pondok Pesantren Mikhrajul Ulum!” begitu abah membangunkanku, sembari tangannya menepuk paha sampingku.
“Maaf, Bah, untuk kali ini saya tidak bisa untuk ikut mengantarkan adik ke sana karena sakitku kambuh lagi,” balasku.
“Justru dari itu, adikmu ini juga mau kembali ke pondoknya dalam kondisi kurang fit, makanya nanti sempatkan dulu mampir ke Sukowono untuk beli jamu sama-sama.”
“Ya, sudah kalau begitu. Tapi, tunggu sebentar, aku masih mau cuci muka," kataku memasrahkan takdir.
Setelah aku berpakaian rapi penuh wibawa, kami mulai beranjak dari Baletbaru menuju Sukowono (beli jamu) lalu segera meluncur ke Jambearum (pondok adik) dengan duduk di atas alat transportasi beroda dua.
Tidak dinyana, ketika lepas dari Sukowono, ternyata kami terjebak hujan di desa Sumberdanti. Terlanjur basah, kami sepakat mengambil tekad untuk mampir sekaligus pamitan ke rumah nenek di Sumberpakem.
Agak lama kami berdiam di sana, sebab bukan cuma berteduh sementara, pamitan dan mampir, namun hujan yang kami harap segera kunjung henti, ternyata tetap. Bahkan, semakin deras.
Jam tanganku yang berlatar foto hitam-putihku waktu SMA telah menunjukan pukul 16.30. Sementara air tumpahan langit tetap menderu, saling kejar untuk terjun ke bumi. Tak lama kemudian, hujan mulai siuman. Kami mempersiapkan diri untuk kembali meneruskan perjalanan ke pondok adik.
Pukul 16.50 WIB kami sudah sampai di altar pondok dengan pakaian agak kuyup. Tidak banyak basa-basi, setelah kami melunturkan air yang tetap melekat di pakaian, kami pun mengetuk pintu, panggil salam lalu masuk ke kediaman Pengasuh Pesantren Mikhrajul Ulum, KH. Achmad Affandi, dengan tujuan untuk sowan dan minta maaf atas keterlambatan adik kembali ke pondok yang disebabkan karena kesehatannya terganggu.
Ternyata, kurang lebih dua menit kami mematung menunggu kiai, tapi yang menyambut kami bukanlah kiai melainkan ibu nyai, seraya melongo ke arah tempat abah duduk. Beliau memberi kabar, “Oh Sampeyan? Anu, kiai sekarang tidak ada. Keluar barusan, ada undangan setiap malam Selasa di Jember.”
“Oh ya sudah, kami mohon diri. Tolong haturkan salam saya kepada kiai, kalau anak saya, Abdul Mufid sudah kembali. Kemarin dia sakit, tipusnya kumat. Tadi masih sempat mampir ke Sukowono untuk beli jamu, kebetulan kakaknya ini juga dijangkit penyakit yang tak kalah beda. Akhirnya ya sama-sama beli barusan,” sahut abah menimpali dawuh Ummi Nyai.
Segera kami keluar dari kediaman pengasuh menuju kediaman Kepala MTs. Mikhrajul Ulum yang kebetulan masih menantu kiai. Di mata keluargaku, Kepala Madrasah Tsanawiyah yang bernama Bapak Duras itu bukan hanya sebatas kepala sekolah saja, namun beliau pulalah yang menjadi tempat keluh-kesah abah dan adikku dikala punya problem.
Dan di rumah beliau, adikku mengobati rasa ngilu dalam perutnya. Beliau juga yang menanggung seragam serta peralatan sekolah adik. Dengan beliau pula abah tukar fikiran tentang agama dan realita kepemerintahan. Bahkan besar kemungkinan (tapi jangan bilang sama siapa-siapa) beliaulah yang akan menjadi calon mertuaku kelak.
Hari Senin kemarin, pukul 17.00 WIB, pertemuan pertama kali bagiku dengan gadis pujaan hati “Wahdatul Khalishah” si anak sulung Bapak Duras, yang jika bersamaan dengan izin Tuhan akan menjadi penawar lara dan pendamping hidup dunia-akhiratku nanti.
Saat aku memasuki kediamannya yang dijelmakan sebagai kantor MTs sementara, hatiku jadi terhentak. Jantungku berdetak lebih kencang bagai genderang ditabuh. Gadis imut nan menawan itu tengah duduk khusyuk di depan komputer, di sampingnya guru pembimbing ilmu komputer sedang mengajarinya.
Saat aku menatapnya dari belakang dia pun balas menatap dan serba salah tingkah. Akhirnya dia menutup tampilan Microsoft Word lalu menyudahi pekerjaannya. Tidak lupa, ia mematikan monitor serta CPU-nya. Gadis dambaan hati itu beralih duduk tak jauh dari tempat dudukku. Bahkan berpapasan, beradu tumbu dengan sorot mata elangku.
Cucu pengasuh yang kini duduk di bangku kelas VIII MTs itu, selalu menatapku, mungkin merasa aneh, benci atau bahkan terpana dengan wajah, tutur kata dan sikapku. Tapi, sejauh dia menyorotiku, aku hampir tidak pernah membalas tatapannya, karena kurang enak terhadap ayahandanya yang saat itu sedang asyik bercengkrama denganku.
Namun, sekali-kali aku mencuri pandang kepada putri mahkota jelita itu. Dia sibuk melempar kopiah adiknya ke arah teman perempuannya dengan senyum tersungging di bibir rekahnya. Mungkin karena temannya selalu menggojloknya dengan menunjukkan jari telunjuk tangan kanannya ke arahku, sambil membisikinya.
Aku pun jadi tertawa di dalam hati melihat tingkah kedua gadis rupawati itu. Tak lama kemudian, azan Magrib mulai menggema di bangunan menara berkubah. Sebagai perempuan muslimah, sekali mendengar azan dia pun beranjak pergi dari hadapanku menuju masjid yang terletak di sebelah utara dari kediamannya.
Wahdatul Khalisah, yang dulu hanya kudengar namanya. Kini aku sudah bertatapan langsung dengannya. Sekarang bukanlah hanya sekadar nama yang menyelusup ke ruang sudut hatiku, namun raut muka menawannya juga telah tertancap kokoh dalam relung sanubariku. Bahkan, separuh dari hatiku adalah diri Wahdah sendiri.
Mulai saat ini aku yakin, doa dalam setiap malam-malamku usai salat Tahajud tidak akan sepi dari seruan, “Ya Allah, tolong jadikanlah Wahdatul Khalisah binti Bapak Duras sebagai kekasihku yang mawaddahwarahmah, fiddini waddunya wal akhirah. Semoga Engkau mengabulkan doaku. Amin.” (*)
Baca Juga
-
Tecno Camon 50 Lolos Sertifikasi, Diprediksi Rilis di Indonesia Awal 2026
-
Bocoran Harga Poco M8 dan M8 Pro Terungkap, Spesifikasinya Menggiurkan
-
Honor Power 2 Rilis Awal Januari 2026: Dibekali Baterai Jumbo 10.080 mAh
-
Spesifikasi Motorola Signature Bocor, Siap Meluncur Awal 2026
-
Kerasukan Siluman Ular di dalam Kelas
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Ulasan Novel Lelaki Harimau: Kekerasan Rumah Tangga hingga Trauma Generasi
-
Bukan Ponsel Murahan, Ini 7 HP Rp 2 Jutaan Paling Worth It di 2026
-
Antrean Panjang di Sanur dan Sepiring Cerita dari Warung Mak Beng
-
Live-Action Solo Leveling Dikabarkan Hanya 7 Episode, Syuting April 2026
-
Cool dan Comfy! 5 ide Styling Hoodie ala S.Coups SEVENTEEN