M. Reza Sulaiman | Srijudin Srijudin
Ilustrasi (Dokumentasi Pribadi)
Srijudin Srijudin

Jam dinding di alun-alun kota berdetak pelan, tetapi angka di langit bergerak jauh lebih cepat.

SKOR HIDUP KOTA SENTRA: 7.894.221.003 LIKE

Angka itu melayang di udara, diproyeksikan oleh satelit, dan bisa dilihat oleh siapa saja. Setiap detik, ia berubah naik-turun mengikuti denyut aktivitas manusia. Di dunia ini, hidup tidak lagi dihitung dari umur, melainkan dari like.

Aku berdiri di halte, menatap gelang di pergelangan tangan kiriku. Layar kecilnya menyala.

Nama: Raka

Skor Hidup: 214 Like

Merah. Berkedip pelan. Tanda bahaya.

Di kota ini, siapa pun yang skornya turun di bawah 200 like akan menerima notifikasi. Setelah notifikasi ketiga, sistem akan melakukan "penyesuaian eksistensi". Itu istilah resmi pemerintah. Kami menyebutnya: dihapus.

Aku bukan kriminal. Bukan penjahat. Aku cuma… biasa. Aku tidak viral, tidak inspiratif. Tidak cukup sedih untuk dikasihani, juga tidak cukup sukses untuk dikagumi. Aku bekerja sebagai penjaga arsip manual, sebuah pekerjaan langka yang hampir punah karena semua orang lebih suka data digital yang bisa dipamerkan.

Ironisnya, pekerjaanku adalah menjaga memori lama: dokumen kertas, foto usang, surat tulisan tangan. Hal-hal yang tidak bisa diberi like.

Suatu hari, saat skor hidupku masih di angka 260, aku menemukan berkas aneh di rak paling bawah. Tidak tercatat di sistem, tanpa barcode. Judulnya hanya satu kata: MANUSIA.

Isinya kosong, kecuali satu kalimat yang ditulis dengan tinta yang hampir pudar: “Nilai manusia tidak pernah membutuhkan persetujuan.” Kalimat itu memberiku +3 like otomatis karena sistem membaca “konten reflektif”. Namun anehnya, setelah itu, like-ku malah sering turun.

Hari ini, notifikasi kedua muncul.

PERINGATAN: Skor Hidup Anda berada di ambang batas sosial. Tingkatkan kontribusi. Jadilah relevan.

Aku tertawa kecil. Relevan. Kata itu seperti lelucon kosmik.

Di seberang halte, seorang pria tua duduk di bangku besi. Gelangnya mati, layarnya hitam. Itu artinya skornya sudah nol. Orang-orang pura-pura tidak melihat. Aku duduk di sebelahnya.

“Kamu tahu,” katanya pelan, “dulu orang hidup tanpa angka.”

Aku mengangguk. “Kedengarannya ribet.”

Ia tersenyum. “Justru lebih sederhana. Kamu dicintai atau tidak, tetap bisa bernapas.”

Sebelum aku sempat menjawab, drone putih melayang turun. Sunyi dan efisien. Pria itu berdiri tanpa melawan, lalu… menghilang. Seperti berkas yang dihapus permanen. Gelangku berbunyi.

-10 LIKE
Interaksi dengan entitas nonproduktif.

Tanganku gemetar.

Malamnya, aku membuat keputusan bodoh, atau mungkin keputusan paling jujur dalam hidupku. Aku membuka akun publik dan menulis satu unggahan. Tanpa filter, tanpa musik latar, tanpa optimasi algoritma.

“Aku nggak ingin disukai. Aku cuma ingin hidup. Kalau ini postingan terakhirku, tolong ingat: manusia bukan angka.”

Aku menekan tombol unggah. Sepuluh detik pertama: sunyi. Lalu, like berdatangan, anehnya sangat cepat.

+5
+20
+100

Skorku melonjak ke 340 Like. Aku tertawa lega. Sistem mencintai kejujuran, pikirku. Lalu, komentar mulai masuk.

“Cringe.”

“Cari atensi.”

“Manipulatif.”

“Kalau nggak mau dinilai, ngapain posting?”

Like berhenti. Dislike yang jarang dipakai pun muncul.

-50
-120
-300

Skorku jatuh bebas: 198 LIKE. Notifikasi ketiga muncul.

PENYESUAIAN AKAN DILAKUKAN DALAM 24 JAM.

Aku kembali ke arsip, ke rak paling bawah, ke berkas MANUSIA. Di sana kini ada halaman baru, seolah-olah ditulis setelah unggahanku: “Ketika kebenaran menjadi ancaman, kebohongan menjadi norma.”

Aku menutup mata. Malam itu, aku tidur di lantai arsip. Ditemani debu, kertas, dan memori yang tidak pernah meminta disukai. Pagi-pagi sekali, gelangku berbunyi. Bukan alarm, bukan pula peringatan.

+1 LIKE

Aku bingung. Lalu, satu lagi.

+1 LIKE
+1 LIKE

Pelan. Tidak viral, tidak masif, tetapi konsisten. Di layar kecil itu muncul pesan: Akun anonim menyukai keberadaan Anda. Tanpa komentar, tanpa share. Aku tersenyum.

Saat waktu penghapusan tiba, drone tidak datang. Di alun-alun, angka raksasa di langit sempat berkedip untuk pertama kalinya sejak sistem dibuat. Orang-orang berhenti berjalan. Di beberapa gelang, skor tidak sinkron. Ada yang bertambah tanpa alasan, ada yang tetap hidup meski seharusnya dihapus. Sistem bingung.

Di tengah kekacauan kecil itu, aku sadar: bukan aku yang lolos dari sistem. Sistemlah yang mulai retak. Karena satu like yang tulus "tanpa motif" ternyata lebih kuat daripada jutaan like palsu.

Gelangku kini menunjukkan: 201 LIKE. Hijau dan stabil.

Aku masih biasa, masih tidak viral. Namun hari itu, untuk pertama kalinya, aku merasa… nyata. Dan mungkin, itu adalah like terakhir yang benar-benar berarti.