Lagi dan lagi, aku terlempar ke dalam situasi yang membuat dadaku sesak, telapak tanganku basah, dan kepalaku penuh suara sendiri. Barusan, perawat berkata dengan nada datar bahwa ayah akan dirawat di lantai tiga.
Kalimat itu terdengar biasa bagi siapa pun, kecuali bagiku.
Karena artinya satu: kami harus naik lift.
Awalnya, seorang petugas keamanan menuntun aku, ayah, dan ibu. Lorong rumah sakit berbelok-belok, lampunya putih pucat, baunya campuran antiseptik dan dingin yang menusuk hidung.
Aku berusaha memusatkan perhatian, menghafal setiap gerakan tangan si petugas saat berdiri di depan lift. Ia menekan tombol sebelum masuk. Aku memperhatikan. Sungguh-sungguh memperhatikan.
Tekan tombol bergambar segitiga menghadap ke atas.
Lalu angka lantai.
Lalu… tombol apa lagi?
Aku tahu itu hanya tiga langkah. Sangat sederhana. Terlalu sederhana sampai-sampai otakku menolak merekamnya.
“Aduh, kami mah dari kampung, Pak,” suara ayah tiba-tiba memecah keheningan. “Nggak paham teknologi begini-begini.”
Petugas keamanan tertawa ringan, seperti ini percakapan paling biasa di dunia. “Ah gampang, Pak. Ini ada si Neng. Masih muda. Pasti ngerti.”
Aku ikut tersenyum. Senyum tipis yang kupelajari sejak kecil—senyum untuk menutup panik. Dalam hati aku ingin berkata: tidak, Pak. Saya tidak ngerti. Saya sama bingungnya.
Sejujurnya, aku jarang sekali naik lift. Seingatku, hanya dua kali. Pertama saat ikut keluarga bibi ke mal, pamanku yang mengurus semua tombol. Kedua saat nonton bioskop pertama kali dengan sepupu—lagi-lagi bukan aku yang menekan apa pun. Aku tidak pernah bertanya. Tidak pernah mencoba. Kupikir, nanti juga ada orang lain.
Lift berhenti di lantai tiga. Pintu terbuka. Ayah dipasang infus. Ibu sibuk membereskan tas. Sementara aku berdiri dengan kartu oranye di tanganku, kartu akses penunggu. Kata perawat, kartu ini hanya dipegang satu orang. Bisa ditempelkan ke pintu-pintu tertentu. Dan orang itu… aku.
Dadaku makin sesak. Naik lift saja aku nyaris pingsan. Sekarang aku harus memegang akses ke seluruh ruangan?
Ayah dan ibu akhirnya tertidur. Aku tidak. Ruangan rumah sakit sedingin ruang pendingin. Aku membenci dingin. Rasanya tubuhku hanya sebungkus nugget yang dilapisi plastik tipis. Jaket tebal tak banyak membantu. Aku tidak nafsu makan. Berbeda dengan ibu yang sejak tadi ngemil, seolah suhu ruangan tidak berpengaruh apa pun.
Dalam diam, pikiranku kembali ke satu kata: lift.
Aku membuka YouTube. Mengetik “cara naik lift rumah sakit”. Kutonton satu video. Dua video. Lima video.
Bahkan aku mengirim pesan ke temanku yang bekerja di rumah sakit. Aku bertanya dengan detail memalukan: bagaimana kalau di dalam lift ada orang lain? Bagaimana kalau lantainya beda? Tombol mana yang harus ditekan dulu?
Ia menjawab panjang. Sangat panjang. Dan aku… tetap tidak benar-benar paham.
Waktu berlalu. Video lucu berganti video lucu. Hingga adzan Subuh terdengar samar. Saat itulah seorang perawat laki-laki datang.
“Mbak, bisa ke lantai satu sebentar?” katanya cepat. “Ada berkas yang perlu ditandatangani di administrasi.”
Sebelum aku sempat bertanya apa pun, ia sudah pergi, langkahnya terburu-buru.
Aku duduk terpaku. Ini dia. Tidak ada petugas keamanan. Tidak ada orang yang bisa kutiru. Hanya aku, kartu oranye, dan lift di ujung lorong.
Aku berdiri. Mengambil ponsel. Video tutorial sudah ku-download, siap diputar ulang. Tanganku gemetar saat melangkah keluar kamar.
Di depan lift, aku berhenti.
Menatap tombol-tombol itu seperti teka-teki hidup dan mati.
Segitiga ke atas.
Angka satu.
Lalu… apa setelahnya?
Aku menarik napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku harus menekan tombol itu sendirian.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
5 Inspirasi OOTD Pakai Boots ala Blue Pongtiwat, Tampil Trendi tanpa Ribet!
-
Trailer Senin Harga Naik Suguhkan Konflik Ibu dan Anak, Tayang Lebaran 2026
-
Bunyi Dentuman Keras di Depan Pintu Dapur, Siapa yang Usil Malam-Malam?
-
Belajar Authenticity dari Prilly Latuconsina Lewat Buku Retak, Luruh, dan Kembali Utuh
-
Kwon Sang Woo dan Moon Chae Won Gabungkan Cinta dan Rock di Film HEARTMAN