M. Reza Sulaiman | Habibah Husain
Ilustrasi Laptop Tua (Gemini AI/Nano Banana)
Habibah Husain

Laptop itu sudah ada bahkan sebelum aku mengerti bedanya RAM dan hard disk. Mereknya sudah terhapus dari punggung casing-nya, menyisakan bekas stiker yang mengerak. Engselnya longgar, membuat layarnya selalu condong ke belakang seolah-olah ia sudah terlalu lelah untuk tegak. Namun, bagi Bapak, laptop itu adalah "mesin ketik ajaib".

Bapak bukan seorang penulis hebat. Ia hanya seorang tata usaha sekolah dasar yang punya mimpi sederhana: melihat namanya tercetak di sebuah buku. Setiap malam, setelah urusan administrasi sekolah selesai, Bapak akan duduk di meja makan yang kecil. Ia menyalakan laptop itu, yang selalu diawali dengan bunyi kipas menderu kencang—suara napas yang sesak dan berat.

Aku sering memperhatikan dari balik pintu kamar. Cahaya biru dari layar yang sudah agak kekuningan itu menerpa wajah Bapak yang mulai keriput. Jarinya mengetik pelan, satu per satu, karena beberapa tombol sudah tidak membalas sentuhan dengan baik. Huruf 'A' dan 'S' harus ditekan dua kali agar muncul di layar, menciptakan ritme ketikan yang ganjil dan tidak beraturan.

"Kenapa tidak pakai komputer di sekolah saja, Pak?" tanyaku suatu kali.

Bapak menoleh, tersenyum tipis. "Di sana itu milik negara, tugasnya untuk angka-angka. Kalau yang ini, dia sudah hafal tiap kata yang Bapak buat. Dia tahu kapan Bapak sedang buntu dan kapan Bapak sedang semangat."

Ada rasa sabar yang luar biasa dalam setiap kedipan kursor di layar itu. Laptop itu saksi saat Ibu masih sering membawakan kopi dan berbisik agar Bapak jangan begadang. Hingga kemudian, seperti kursi depan angkot dalam cerita lama, sisi meja itu kosong. Ibu pergi, tetapi Bapak tetap mengetik. Seolah-olah setiap kalimat yang ia susun adalah jembatan untuk menyampaikan kabar pada Ibu di sana. Bapak percaya bahwa selama ia masih menulis, kenangan tentang Ibu tidak akan pernah benar-benar terhapus oleh waktu.

Tahun berganti. Dunia bergerak terlalu cepat. Orang-orang mulai menggunakan perangkat tipis yang bisa masuk ke dalam tas kecil, sementara laptop Bapak beratnya seperti batu bata dan harus selalu tersambung pengisi daya karena baterainya sudah mati total. Setiap kali Bapak ingin memindahkannya, ia harus bergegas mencari stopkontak, seolah-olah laptop itu adalah pasien yang bergantung hidup pada selang oksigen.

Penolakan demi penolakan datang dari penerbit. Bapak tidak marah. Ia hanya akan menutup laptop itu perlahan—karena jika terlalu keras, layarnya bisa bergaris—lalu mengelap debunya dengan kain kaus bekas. Ia memaklumi bahwa nasib sebuah naskah kadang sama seperti nasib mesin tua: sering diabaikan sebelum sempat membuktikan nilainya.

"Masih bisa, Pak?" tanyaku saat melihat laptop itu mendadak mati (blue screen) di tengah paragraf penting.

Bapak menarik napas panjang. Matanya yang mulai kabur menatap pantulan dirinya di layar hitam. "Dia cuma minta istirahat sebentar. Sama seperti Bapak."

Suatu sore, saat hujan badai, listrik di rumah mati mendadak. Laptop Bapak yang sedang menyala ikut padam seketika. Saat listrik kembali menyala, si "mesin ketik ajaib" itu tidak mau bangun lagi. Hanya ada bunyi bip pendek yang berulang, seperti detak jantung yang tidak beraturan, lalu sunyi. Layar itu tetap gelap, menolak menampilkan kembali barisan kata yang baru saja disusun Bapak dengan penuh peluh.

Bapak membawanya ke tukang servis di pasar. Lelaki di sana menggeleng. "Sudah jadi rongsokan ini, Pak. Onderdilnya sudah tidak diproduksi. Beli baru saja, sekarang murah dan jauh lebih kencang."

Bapak terdiam. Ia membawa pulang laptop itu, membungkusnya dengan kain beludru, lalu meletakkannya di rak paling atas. Hari-hari setelah itu, meja makan terasa sangat luas dan hampa. Bapak tidak lagi bangun subuh untuk mengejar ide. Ia hanya duduk di teras, menatap tangannya yang kosong dari ketukan tombol plastik. Kehilangan laptop itu rasanya seperti kehilangan suara untuk bercerita.

Hingga suatu hari, aku membelikannya sebuah laptop baru dari gaji pertamaku. Tipis, cepat, dan layarnya sangat jernih. Bapak menerimanya dengan tangan gemetar. Ia mencoba mengetik, tetapi ia tampak canggung. Katanya, tutsnya terlalu empuk, tidak ada "perlawanan" atau sensasi mekanik seperti laptop lamanya.

Buku Bapak akhirnya terbit setahun kemudian. Sebuah memoar kecil tentang sekolah desa. Saat peluncuran buku sederhana itu, Bapak tidak membicarakan laptop barunya yang canggih. Ia justru bercerita tentang sebuah mesin tua yang catnya sudah mengelupas, yang menemaninya melewati malam-alam sepi setelah kepergian Ibu. Ia bercerita bahwa mimpi tidak butuh perangkat yang cepat, hanya butuh kesetiaan untuk terus mengetik meski layar sudah redup dan engsel sudah goyah. Bagi Bapak, kesuksesan bukan tentang seberapa modern alat yang kita gunakan, melainkan seberapa besar hati yang kita tuangkan ke dalam setiap barisnya.

Sekarang, laptop tua itu masih ada di rak. Meski tak lagi bisa menyala, ia tetap di sana sebagai prasasti bisu. Kadang aku melihat Bapak membersihkannya dari debu dengan penuh kasih sayang. Tidak ada lagi suara kipas yang berisik, tidak ada lagi cahaya biru yang menyinari wajahnya. Namun, setiap kali melihat benda itu, aku tahu bahwa sebagian dari jiwa dan perjuangan Bapak masih tersimpan di sana, dalam memori yang tidak lagi bisa diakses oleh kabel mana pun, kecuali oleh ingatan.

Bapak telah mengajarkanku bahwa beberapa hal di dunia ini tidak diciptakan untuk diganti, melainkan untuk dikenang sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk siapa kita sekarang.