Rahma mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dadanya. Langkah kakinya terasa berat, seolah aspal jalanan siang itu berubah menjadi lumpur yang mengisap energinya.
Ini adalah wawancara kerja ke-25, dan firasatnya sudah berbisik pahit: ia akan gagal lagi. Di usia 22 tahun, dunia terasa seperti labirin tanpa pintu keluar.
Ia mendongak, menatap bentangan langit biru di atas kepalanya. Awan putih berarak tenang.
"Kapan giliranku untuk tenang seperti itu?" gumamnya pelan.
Namun, ia tidak boleh berhenti. Di balik saku bajunya, ada tagihan yang menumpuk dan hutang yang terus mengejar.
Kebutuhan hidup yang melambung memaksanya untuk terus menyeret kaki. Meski harapan sudah mulai menipis.
Haus yang menyengat membawa Rahma membelokkan langkah ke sebuah minimarket. Ia membeli sebotol teh dingin dan memilih duduk di kursi plastik yang disediakan di depan toko.
Setidaknya di sini, di bawah naungan atap tipis ini, ia bisa bersembunyi sejenak dari terik matahari dan kenyataan hidup yang membakar.
"Melamun, Nak?"
Suara lembut itu mengagetkan Rahma. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian abu-abu sederhana sudah duduk di sampingnya. Rahma tersentak, mencoba memperbaiki posisi duduknya.
"Eh, n-nggak, Bu," jawabnya terbata, berusaha menyembunyikan mata cokelatnya yang mulai berkaca-kaca.
Wanita itu tersenyum, seolah bisa membaca setiap beban di pundak Rahma.
"Siang ini panas sekali, ya. Kapan ya hujan akan turun lagi?"
Rahma hanya mengangguk kecil, ikut mengamini. Matahari memang sedang garang-garangnya, seolah sengaja ingin menguji daya tahan manusia di bawahnya.
"Ibu baru saja mengantar anak Ibu mendaftar kuliah," lanjut wanita itu tanpa diminta. Suaranya mengandung nada syukur yang kental.
"Alhamdulillah, dia diterima di Universitas Mandiri."
Rahma berdecak kagum secara spontan. Siapa yang tidak tahu Universitas Mandiri? Kampus negeri nomor satu yang persaingannya begitu ketat.
"Wah, hebat sekali, Bu. Tidak mudah masuk ke sana."
Wanita itu meneguk minumannya, lalu mengembuskan napas panjang, seperti teringat akan sesuatu.
"Awalnya Ibu ragu. Biaya kuliah sekarang tidak murah. Meskipun negeri, rasanya tidak jauh beda dengan swasta kalau bicara soal uang. Tapi, Nak, Ibu tidak ingin dia bernasib sama seperti Ibunya. Berpendidikan rendah dan sering dipandang sebelah mata oleh dunia."
Ia menatap kosong ke jalanan, lalu melanjutkan.
"Dengan modal nekat, Ibu suruh dia berjuang. Dia ikuti semua prosedur, belajar sampai larut malam. Dan... sebuah keajaiban terjadi."
"Anak Ibu lolos seleksi beasiswa?" tanya Rahma penasaran.
"Lebih dari sekadar beasiswa resmi. Ada seorang dermawan yang bersedia menanggung seluruh biaya kuliahnya sampai lulus."
Rahma tertegun, tangannya yang memegang botol teh mendingin. Ia menunggu kelanjutan kisah itu, merasa ada sesuatu yang lebih dalam di balik keberuntungan tersebut.
"Mungkin kamu sedang capek hari ini," suara wanita itu merendah, terdengar seperti bisikan bijak. "Tapi percayalah, di luar sana ada yang jauh lebih lelah. Bahkan bagi mereka, rasa lelahmu saat ini mungkin belum seberapa. Jangan menyerah, karena di sekitarmu, banyak orang yang berjuang hanya untuk sekadar menyambung napas esok hari."
Wanita itu kemudian bercerita tentang badai dalam hidupnya. Bagaimana suaminya berselingkuh, menceraikannya, dan secara licik menjual rumah serta membawa lari seluruh harta yang mereka kumpulkan bersama.
Rahma menahan napas. Ia membayangkan betapa hancurnya perasaan wanita di sampingnya ini—dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung, lalu dibuang ke jalanan tanpa sepeser pun uang.
"Ibu merasa sudah patah, Nak. Benar-benar hancur. Tapi sebagai orang tua, Ibu tidak boleh egois. Ayah mereka sudah pergi, jangan sampai mereka juga kehilangan sosok Ibu. Jadi, Ibu memilih untuk bangun lagi. Sangat berat, tapi Tuhan tidak pernah tidur."
"Lalu, bagaimana Ibu bisa bertemu dermawan itu?" tanya Rahma, suaranya kini penuh simpati.
"Semua itu karena niat untuk menolong. Suatu hari, Ibu dan anak Ibu melihat seorang wanita tua pingsan di warung. Ternyata dia menderita penyakit jantung. Tasnya baru saja dijambret, isinya uang puluhan juta. Ibu segera memanggil ambulans, sementara anak Ibu berlari mengejar pencopet itu sampai dapat."
Wanita itu tersenyum tipis.
"Ternyata, wanita yang kami tolong itu adalah orang kaya yang selama ini mencari cara untuk menggunakan hartanya demi kebaikan. Dia merasa nyawa dan hartanya diselamatkan oleh kami, maka dia memutuskan untuk menyekolahkan anak Ibu sebagai bentuk terima kasih."
Ia memandang Rahma dalam-dalam.
"Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Nak. Saat kamu melakukan sesuatu, semesta akan bergerak. Tuhan menggerakkan orang-orang di sekitarmu untuk menciptakan dampak yang besar, entah positif atau negatif. Sama seperti saat ini... pasti bukan kebetulan Ibu duduk di sini dan bercerita panjang lebar padamu."
Rahma terdiam. Kata-kata itu menghujam jantungnya. Ia merasa seperti ditampar oleh kenyataan.
Kegagalannya di 25 wawancara kerja terasa sangat kecil dibandingkan perjuangan wanita di sampingnya yang harus mengikhlaskan pengkhianatan dan kemiskinan dalam satu waktu.
Rahma menarik sudut bibirnya, sebuah senyuman tulus akhirnya terbit. Ia menyadari satu hal: tugasnya hanyalah berusaha dan tetap berbuat baik.
Sisanya?
Biarkan Tuhan dan semesta yang bekerja. Kunci dari semua ketenangan ini ternyata hanya satu, yaitu ikhlas.
"Terima kasih, Bu," ucap Rahma lirih namun mantap. Kelelahan di matanya kini berganti dengan binar tekad yang baru. Ia berdiri, siap menyongsong wawancara ke-26 dengan hati yang lebih lapang.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
4 Physical Sunscreen Kandungan Mineral, Cegah Sunburn pada Ibu Hamil
-
Fenomena Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta: Tren atau Kecemasan?
-
PSSI Sebut Tak Proses Naturalisasi Baru, Bagaimana Peluang di FIFA Series?
-
Deretan Aktor Ini Digaet Bintangi Adaptasi Korea dari Novel Keigo Higashino
-
Regulasi Asian Games 2026 serta Kekecewaan Besar yang Mengintai Penggawa Garuda dan para Suporter