Masa anak-anak memang menyenangkan, di mana hanya makan, minum susu dan pergi sekolah. Tapi, siapa sangka dibalik kesenangan dan keceriaan itu juga ada derita dan luka ketika gigi copot.
Setiap anak tahu bahwa ketika gigi susu copot dan disimpan di bawah bantal, peri gigi akan datang. Tapi tak banyak yang tahu bagaimana peri gigi bekerja, ke mana gigi itu akan dibawa, dan mengapa mereka sangat peduli pada senyum manis anak-anak.
Malam itu, Dika menatap gigi kecilnya yang tergeletak di telapak tangan. Gigi seri depan itu copot sore tadi saat ia menggigit apel terlalu keras.
“Kalau aku taruh di bawah bantal, peri gigi bakal datang, kan, Bu?” tanyanya pada ibu.
Ibu tersenyum. “Kalau Dika tidur nyenyak dan bermimpi baik, pasti dia akan datang.”
Dika pun menyelipkan gigi itu ke dalam tisu kecil, lalu menaruhnya rapi di bawah bantal. Ia memejamkan mata, membayangkan peri kecil bersayap datang diam-diam.
Tanpa Dika sadari, ketika jam berdenting pelan menunjukkan tengah malam, sesuatu yang ajaib benar-benar terjadi.
Cahaya lembut berkilau muncul di sudut kamar. Bukan cahaya lampu, bukan pula cahaya bulan. Cahaya itu berwarna biru muda, seperti kilau bintang yang jatuh. Dari cahaya itu, muncul sosok kecil sebesar botol minum.
Ia memiliki rambut perak pendek, sayap transparan yang unik seperti sayap capung, dan gaun putih berkilau yang penuh kantong kecil.
“Ah, ini kamar Dika,” bisiknya lembut.
Namanya Lumi, salah satu peri gigi termuda di Kerajaan Enamel sebuah kota ajaib yang tersembunyi jauh di bawah bantal anak-anak di seluruh dunia.
Lumi terbang mendekat, mengangkat bantal Dika perlahan agar tidak menimbulkan suara apalagi membangunkannya. Ia mengambil gigi kecil itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang benda paling berharga di dunia.
“Gigi yang kuat,” gumamnya sambil tersenyum. “Pemiliknya pasti anak yang pemberani.”
Namun tiba-tiba, Kreekkk.
Dika bergerak dalam tidurnya. Lumi terkejut dan kehilangan keseimbangan. Ia jatuh tepat ke atas bantal. Dika pun membuka mata.
“Hah?” matanya membesar. “Kamu siapa? Kenapa kamu kecil sekali?”
Lumi membeku. Peri gigi tidak seharusnya terlihat manusia.
“Oh tidak, aku ketahuan” bisiknya panik. Tapi kemudian ia menarik napas, menepuk gaunnya, dan tersenyum.
“Halo, Dika. Aku Lumi. Aku peri gigi yang akan mengambil gigi susumu yang lepas.”
Dika mengucek matanya. “Tidak mungkin, pasti aku sedang bermimpi?”
“Tidak,” jawab Lumi sambil terkikik. “Tapi ini rahasia, ya.”
Dika duduk dan menatap Lumi dengan penuh rasa ingin tahu. “Peri gigi beneran ada?”
“Tentu,” kata Lumi. “Kami mengumpulkan gigi susu untuk menjaga keseimbangan senyum anak-anak.”
“Buat apa gigi susu itu?”
Lumi menunjuk sayapnya. “Untuk membuat sayap peri tetap berkilau. Untuk menerangi kota kami. Dan untuk menyimpan kenangan masa kecil.”
Melihat Dika masih bingung, Lumi berkata, “Mau lihat kota kami?”
Sebelum Dika sempat menjawab, kamar tidurnya tiba-tiba saja berputar pelan. Cahaya biru menyelimuti mereka, dan tiba-tiba mereka berada di tempat yang sangat indah.
Sebuah kota kecil bercahaya terbentang di hadapan mata Dika. Bangunan-bangunannya terbuat dari kristal putih seperti gigi, jembatan dari benang perak, dan lampu-lampu kecil berbentuk senyum.
“Ini Kerajaan Enamel,” kata Lumi bangga.
Peri-peri lain beterbangan sambil membawa gigi-gigi kecil dalam kotak transparan. Setiap kotak memiliki nama anak dan kilau warna yang berbeda.
“Itu gigi siapa?” tanya Dika menunjuk sebuah kotak berwarna keemasan.
“Itu gigi anak yang selalu berbagi,” jawab Lumi.
“Yang biru?”
“Anak yang berani ke dokter gigi.”
Dika tersenyum. “Kalau gigiku, apa ada warnanya juga?”
Lumi membuka kotak kecil berwarna hijau cerah. “Ini. Hijau artinya orang yang jujur dan berusaha keras.”
Dika merasa dadanya hangat.
Namun tiba-tiba, lonceng kecil berbunyi. Cahaya kota sedikit meredup.
“Waktuku hampir habis,” kata Lumi. “Kalau matahari hampir terbit, aku harus mengantarmu kembali.”
“Kalau aku kehilangan gigi susuku lagi, apa kamu juga akan datang lagi?” tanya Dika dengan penasaran.
Lumi mengangguk. “Tentu, Aku atau peri gigi lain akan mengambilnya. Tapi ingat gosok gigi, makan makanan yang sehat, dan jangan takut tersenyum ya.”
Cahaya kembali berputar.
Ketika Dika terbangun, ia sudah berada di kamarnya. Cahaya pagi menyapa lewat jendela. Di bawah bantalnya, ada sekeping koin kecil berbentuk bintang dan secarik kertas bertuliskan
“Terima kasih atas gigimu, Dika. Jangan lupa jaga Kesehatan gigi dan mulutmu, ya.”
Dika tersenyum lebar, meski gigi depannya ompong. Sejak hari itu, setiap kali ia menyikat gigi sebelum tidur, ia selalu berbisik pelan ke arah bantal,
“Selamat malam, Lumi. Semoga esok atau lusa gigi susuku copot lagi supaya aku bisa membantu kota dan kerajaan Enamelmu.”
Dan entah dari mana, ia merasa ada cahaya kecil yang berkilau bahagia di bawah bantalnya. Bahkan ia juga selalu menjaga Kesehatan gigi seperti apa yang diucapkan oleh peri Lumi, temannya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Padang Bulan: Tentang Keteguhan Hati Enong di Tengah Runtuhnya Harapan
-
Saat Kehilangan Tak Lagi Menakutkan: Kehadiran dalam Sebuah Kepergian
-
Guliran Piala Asia U-17 dan Beban Berat yang Ditinggalkan oleh Nova Arianto bagi sang Suksesor
-
Jelang Comeback Maret, NouerA Gandeng Lay EXO sebagai Produser Utama
-
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Tebarkan 450 Bibit Tumbuhan