Di sudut Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur, sebuah kedai kopi peninggalan kakekku berdiri tegak seperti fosil yang dikepung gedung-gedung pencakar langit. Namanya "Kedai Sahabat", sebuah ironi pahit karena di sinilah aku menghabiskan sepuluh tahun terakhir sebagai orang asing bagi ayahku sendiri. Kamar kosku hanya berjarak dua blok dari kedai, tetapi bagiku, perjalanan menuju meja bar terasa seperti melintasi gurun yang tak bertepi.
Aku menatap layar tablet, mengecek stok biji kopi yang mulai menipis di akhir bulan. Ayahku, lelaki dengan jemari yang selalu bergetar namun tetap teguh memegang penggiling manual, sedang sibuk di balik meja bar. Kami berada di ruangan yang sama, tetapi ada tembok setinggi Monas yang memisahkan jiwa kami. Ia adalah seorang penganut tradisi yang kolot, sementara aku adalah anak muda yang merasa jiwanya terperangkap di antara uap air dan bubuk kopi yang menyesakkan dada.
Aku adalah anak tunggal. Bagi Ayah, kedai ini adalah napasnya. Bagiku, kedai ini adalah penjara tak berjeruji. Sejak aku lulus kuliah jurusan desain komunikasi visual, Ayah tidak pernah sekali pun bertanya aku ingin menjadi apa. Ia tidak butuh tahu mimpiku. Hari itu, ia hanya menyodorkan sebuah apron cokelat yang sudah memudar warnanya dan berkata dengan nada final, "Ini milikmu nanti. Jagalah, seperti aku menjagamu."
Kalimat itu bukan sebuah warisan bagi telingaku, melainkan sebuah vonis. Setiap kali aku mencoba bicara tentang tawaran pekerjaan sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan startup bergengsi, Ayah hanya akan berdeham panjang tanpa menoleh. "Kopi tidak pernah mengkhianatimu, Nak. Ia tetap setia meski zaman berubah, tidak seperti teknologi yang cepat usang dan ditinggalkan," ucapnya dingin sembari membersihkan filter kopi.
Aku benci aroma ini. Aroma kopi yang disangrai setiap pagi selalu mengingatkanku pada mimpi-mimpiku yang hangus terbakar ekspektasi orang tua. Aku merasa seperti robot; melayani pelanggan yang cerewet, menyeduh rasa kecewa dalam setiap cangkir, dan mencuci sisa-sisa percakapan orang lain—sementara percakapanku sendiri dengan Ayah selalu menemui jalan buntu.
Puncaknya terjadi pada suatu sore yang mendung. Saat aku sedang terburu-buru karena merasa tertekan oleh tenggat waktu proyek sampingan yang kukerjakan sembunyi-sembunyi, aku secara tidak sengaja menyenggol stoples keramik tua di rak paling atas. Stoples itu berisi racikan biji kopi rahasia peninggalan mendiang kakek. Bunyi hantamannya ke lantai keramik terdengar seperti ledakan di telingaku. Stoples itu hancur berkeping-keping, sama hancurnya dengan wajah Ayah saat melihatnya.
Ia tidak marah. Ia tidak berteriak seperti dugaanku. Ayah hanya diam, lalu perlahan berlutut untuk memunguti pecahan keramik dan biji kopi yang berhamburan itu satu per satu. Tangannya yang biasanya kokoh kini gemetar hebat. "Pergilah, jika hatimu memang sudah tidak ada di kedai ini," suaranya lirih, lebih pedih daripada maki-makian paling kasar sekali pun.
Malam itu, aku benar-benar pergi. Aku menginap di tempat teman dengan rasa dongkol yang meluap-luap. Aku merasa bebas dari bau kopi dan perintah kaku Ayah. Namun, kebebasan itu terasa hambar, seperti kopi yang terlalu banyak air. Tiga hari kemudian, aku kembali saat tengah malam hanya untuk mengambil sisa barang-barangku. Aku yakin Ayah sudah tidur. Namun, aku salah.
Lampu dapur belakang masih menyala remang-remang. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, aku melihat Ayah duduk sendirian di kursi kayu tua. Di pangkuannya bukan biji kopi, melainkan sebuah album foto kecil yang sudah menguning dimakan usia. Aku mendekat tanpa suara, bersembunyi di balik bayangan rak. Di sana, aku melihat foto Ayah saat masih sangat muda. Ia mengenakan kemeja rapi, wajahnya bersih dari noda kopi, dan ia tampak begitu bersemangat. Di samping foto itu, tertempel selembar brosur kursus melukis di Paris yang sudah robek dan kusam.
Tiba-tiba, seperti tersambar petir, sebuah ingatan masa kecil muncul. Aku ingat saat aku berusia enam tahun, Ayah sering menggambar sketsa luar biasa di atas karung-karung goni kopi. Ia punya bakat seni yang jauh lebih besar dariku. Namun, Ayah mengubur kuas dan catnya saat kakek jatuh sakit dan kedai ini hampir disita bank puluhan tahun lalu.
Detik itu, aku tersadar. Ayah bukan sedang membunuh mimpiku karena ia jahat, melainkan karena ia sedang ketakutan. Ia takut jika aku mengejar seni yang "tidak pasti", aku akan berakhir merasakan kelaparan dan kemiskinan yang dulu pernah mencekiknya saat ia mencoba menjadi pelukis. Ia memberikan apron ini karena baginya, ini adalah satu-satunya pelampung yang ia punya agar aku tidak tenggelam di kerasnya Jakarta.
Aku masuk ke dapur dengan mata yang mulai panas. Ayah terkejut dan buru-buru menutup albumnya, mencoba kembali ke sosoknya yang kaku. Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya berjalan menuju gantungan dinding, mengambil apron cokelatku, dan memakainya dengan perlahan.
"Yah," suaraku agak serak. "Boleh ajari aku cara menyangrai biji kopi manual lagi? Aku ingin mencoba mendesain kemasan baru untuk racikan kita yang baru. Aku ingin dunia tahu bahwa kopi Ayah adalah karya seni."
Ayah menatapku lama, sangat lama. Matanya yang mulai kabur karena katarak perlahan berkaca-kaca. Ia tidak menjawab dengan kata-kata indah, melainkan hanya mengambilkan sebuah stoples baru yang masih bersih dan menyerahkannya padaku.
Malam itu, aroma kopi di dapur tidak lagi terasa seperti bau mimpi yang hangus. Kini, bau itu terasa seperti bahasa cinta yang tidak pernah sempat diajarkan oleh sekolah mana pun. Ayah memang tidak pandai berkata-kata, dan aku terlalu bebal untuk mendengar. Namun, di antara uap panas kopi, kami akhirnya mulai belajar bahwa tidak semua cinta harus terdengar manis; terkadang, ia sepahit kopi namun justru itulah yang memberi kekuatan untuk tetap terjaga.
Aku mulai memahami bahwa kesuksesan bukan hanya soal meninggalkan jejak di perusahaan besar, melainkan tentang meneruskan napas mereka yang telah lebih dulu berkorban. Karena pada akhirnya, kami belajar bahwa tidak semua cinta harus terdengar manis, terkadang ia sepahit kopi namun menguatkan. Malam ini aku tidak lagi merasa sendiri dalam penjara ini—aku sedang melukis kembali mimpi Ayah dalam setiap cangkir yang kusajikan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Proyek Biopik Frank Sinatra Masih Mandek, Leonardo DiCaprio Angkat Bicara
-
Apatisme Sebagai Bentuk Protes Baru: Mengapa Diamnya Warga Adalah Alarm Bahaya?
-
Anti Ribet! 4 Ide OOTD Minimalis ala Wonyoung IVE yang Super Effortless
-
Kreativitas Siswa Tumbuh Lewat Inkuiri Kolaboratif di SMAN 4 Yogyakarta
-
Ulasan Film Unbroken: Perjuangan Atlet Olimpiade Bertahan Hidup dalam Perang Dunia II