Pagi itu, matahari baru saja membuka matanya di ufuk timur. Langit perlahan berubah dari biru gelap menjadi jingga keemasan. Udara terasa segar, dan embun masih menempel di ujung-ujung daun. Di antara hamparan langit yang luas, melayanglah Awan Kecil, lembut dan mungil seperti kapas putih yang baru dipintal.
Awan Kecil menggeliat pelan. "Hmmm, pagi yang cerah," gumamnya sambil menguap kecil.
Ia melayang pelan mengikuti tiupan angin yang lembut. Namun, pagi itu terasa berbeda. Tidak ada teman yang bermain bersamanya. Awan Besar sedang tidur di sebelah utara, dan Awan Abu sedang berkeliling membawa hujan ke desa sebelah. Awan Kecil pun mengapung sendirian di tengah langit biru yang luas.
"Seandainya aku punya teman bermain hari ini...," katanya lirih sembari membentuk dirinya menjadi berbagai wujud: kelinci, bunga, bahkan hati, berharap ada yang memperhatikan.
***
Menjelang siang, angin mulai berembus lebih kencang. Langit yang tadinya cerah perlahan ditutupi oleh awan-awan kelabu. Awan Kecil ikut berkumpul di antara mereka. Tiba-tiba, petir menyambar dan butiran hujan mulai turun menari-nari ke bumi.
Awan Kecil merasa sedikit takut. "Aaaa! Guntur lagi!" serunya sambil menutup mata rapat-rapat. Namun, hujan tetap turun, menetes dengan irama yang indah. Awan Kecil pun menenangkan diri dan ikut menurunkan butir-butir hujan lembut di sebuah lembah hijau di bawah sana.
Tak lama kemudian, hujan pun berhenti. Sisa air menetes dari daun-daun besar, membuat suara "tik... tik... tik..." yang menenangkan. Udara terasa sejuk, dan aroma tanah basah tercium ke mana-mana.
Di saat itu, sesuatu yang luar biasa muncul dari balik cahaya matahari. Sebuah cahaya berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu mulai terbentuk di langit. Warnanya berkilau lembut, membentang dari satu sisi lembah ke sisi lainnya.
Awan Kecil memandang kagum. "Wah, siapa dia?" bisiknya dengan mata berbinar.
Cahaya berwarna itu ternyata adalah Pelangi. Ia menoleh ke arah Awan Kecil dan tersenyum hangat. "Halo, Awan Kecil. Namaku Pelangi," sapa suara lembut itu.
Awan Kecil sedikit gugup, tetapi segera membalas, "Hai, Pelangi! Kamu cantik sekali! Bagaimana kamu bisa punya warna sebanyak itu?"
Pelangi tertawa kecil, suaranya seperti nada-nada lembut seruling bambu. "Aku muncul setelah hujan berhenti. Cahaya matahari menembus sisa-sisa air yang kamu turunkan, dan... tadaaa! Warnaku pun muncul."
"Jadi, aku membantu membuatmu muncul?" tanya Awan Kecil, matanya berbinar bahagia.
"Tentu saja!" jawab Pelangi. "Tanpa hujan dan awan, aku tidak bisa muncul. Kita berdua bekerja sama, meski kadang tidak sadar."
Awan Kecil mengembang bangga. "Berarti aku punya peran penting juga ya!" katanya sambil berputar-putar di sekitar Pelangi.
"Benar sekali. Kamu luar biasa, Awan Kecil," kata Pelangi lembut.
Keindahan dalam Perpisahan Sementara
Hari itu mereka berbincang lama. Awan Kecil bercerita tentang perjalanan di langit, tentang bermain sembunyi di balik gunung dan menari bersama angin. Sementara itu, Pelangi bercerita tentang bagaimana anak-anak di bumi berlari ke luar rumah setiap kali ia muncul, berteriak riang sambil menunjuk ke langit.
"Mereka suka sekali melihatku," ujar Pelangi. "Kadang mereka mencoba menghitung warna-warnaku. Namun sayangnya, aku hanya bisa bertahan sebentar. Setelah beberapa menit, warnaku akan memudar."
Awan Kecil terdiam. "Kamu bisa menghilang?" tanyanya pelan.
Pelangi mengangguk. "Iya, aku hanya muncul sebentar setelah hujan. Setelah itu, matahari menjadi terlalu terang, dan aku pun perlahan lenyap."
Awan Kecil memandangnya dengan sedih. "Aku tidak mau kamu menghilang. Aku baru saja menemukan teman baru."
Pelangi tersenyum lembut. "Jangan sedih, Awan Kecil. Setiap kali hujan datang dan matahari tersenyum setelahnya, aku akan kembali. Janji."
Awan Kecil mengangguk, meski matanya berkaca-kaca. Ia tahu hari itu Pelangi akan segera pergi. Matahari semakin tinggi. Warna-warna indah Pelangi mulai memudar sedikit demi sedikit, seperti cat air yang disapu embun.
"Selamat tinggal dulu, Awan Kecil," kata Pelangi lembut. "Sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa, Pelangi," balas Awan Kecil, suaranya nyaris bergetar.
Ketika warna terakhir, ungu, perlahan menghilang, langit kembali biru dan sunyi. Awan Kecil menatap lembah di bawahnya. Ia merasa sepi, tetapi juga hangat di hati. Ia tahu kini bahwa setiap hujan membawa kesempatan untuk bertemu lagi dengan sahabat barunya.
***
Hari-hari berikutnya berlalu. Awan Kecil kembali menjalani rutinitasnya: mengambang, menari bersama angin, dan sesekali menurunkan gerimis lembut. Namun, setiap kali hujan berhenti, ia menatap langit timur dengan harapan.
Suatu sore, langit kembali gelap. Petir menyambar, dan hujan turun deras. Awan Kecil menurunkan airnya dengan hati riang. Ia tahu, mungkin sebentar lagi ia akan bertemu sahabat yang sangat dirindukannya.
Benar saja. Setelah hujan reda, sinar matahari menembus sela-sela awan, menciptakan kilau warna di ujung langit.
"Pelangi!" seru Awan Kecil girang. Dari jauh, warna-warna indah itu muncul lagi, membentang lembut seperti senyum lebar di langit.
"Hai, Awan Kecil!" suara lembut itu terdengar. "Aku kembali, seperti janjiku."
Awan Kecil terbang mendekat, menari kecil di sekitarnya. "Aku merindukanmu!" katanya.
"Aku juga," balas Pelangi. "Lihat, kita membuat langit ini indah lagi."
Mereka pun tertawa bersama, mengisi langit sore itu dengan cahaya dan kelembutan. Hari demi hari, Pelangi dan Awan Kecil semakin akrab. Mereka tidak selalu bisa bertemu, tetapi setiap pertemuan terasa istimewa.
Sore itu, mereka duduk berdua di langit senja. Matahari perlahan tenggelam di balik bukit, meninggalkan jejak warna jingga dan ungu di cakrawala. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah dan daun basah dari bawah.
"Pelangi," ujar Awan Kecil pelan. "Terima kasih sudah jadi temanku."
Pelangi tersenyum, warnanya berpendar lembut di antara sinar matahari sore. "Dan terima kasih sudah membuatku bisa muncul, Awan Kecil. Kita berbeda, tetapi justru karena itu kita saling melengkapi."
Awan Kecil tersenyum lebar. Ia tidak lagi merasa kecil atau tak berarti. Ia tahu kini bahwa setiap tetes hujan yang ia turunkan memiliki makna. Karena di balik hujan, selalu ada Pelangi yang menunggu untuk muncul dan membuat dunia menjadi lebih indah.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Kios Pasar Sore, Potret Keseharian yang Sering Terlupakan
-
Lebaran 2026 Makin Spektakuler! Pelangi di Mars Siap Bawa Anak Indonesia Menjelajah Planet Merah
-
Mawar Merah dan Kaktus yang Berhati Besar
-
Dalam Perjalanan Pulang
-
Umumkan Sekuel, Ini Sinopsis Pelangi di Mars Film Sci-Fi Indonesia Pertama dengan Teknologi XR
Cerita-fiksi
Terkini
-
Ramadan Lebih Berkah! 3 Cara Cerdas Manfaatkan Teknologi saat Jalani Puasa
-
Subscription Fatigue: Ketika Hidup Menjadi Versi Trial yang Mencekik Saldo
-
Membedah Obsesi Manusia dalam Novel Annie Bot Karya Sierra Greer
-
4 Pelembap Red Algae untuk Kulit Lebih Kenyal dan Kencang Sepanjang Hari
-
Menguak Misteri Hilangnya Ilmuan dalam Lima Sekawan Sarjana Misterius