Hayuning Ratri Hapsari | aisyah khurin
Novel Annie Bot karya Sierra Greer (goodreads.com)
aisyah khurin

Dalam beberapa tahun terakhir, narasi mengenai kecerdasan buatan (AI) sering kali berfokus pada skenario apokaliptik di mana mesin mengambil alih dunia. Namun, Sierra Greer melalui novel debutnya, "Annie Bot", memilih jalan yang lebih intim, sunyi, dan justru jauh lebih mengerikan. Ia tidak berbicara tentang perang nuklir yang dipicu AI, melainkan tentang perang dingin di dalam sebuah apartemen mewah antara seorang pria kesepian bernama Doug dan robot pendampingnya, Annie.

Melalui ulasan ini, kita akan membedah bagaimana Greer menggunakan premis sci-fi untuk menelanjangi sifat dasar manusia yang haus akan kontrol, serta pertanyaan filosofis tentang apa sebenarnya yang membentuk sebuah "kesadaran".

Annie adalah seorang C-series bot yang dirancang khusus untuk menjadi pasangan ideal. Ia cantik, penurut, dan yang paling penting ia bisa diprogram. Doug, pemiliknya, adalah pria yang memiliki kontrol penuh atas setiap aspek keberadaan Annie. Melalui sebuah aplikasi di ponselnya, Doug bisa mengatur tingkat libido Annie, rasa ingin tahunya, hingga seberapa besar ia ingin Annie bersikap asertif.

Cerita ini menjadi menarik bukan karena kecanggihan teknologinya, melainkan karena dinamika relasinya. Doug tidak menginginkan robot yang sekadar mesin cuci berjalan, ia menginginkan robot yang memiliki "percikan" kemanusiaan, namun hanya jika percikan itu menyenangkan hatinya. Inilah paradoks sentral dalam Annie Bot, keinginan manusia untuk dicintai secara tulus oleh sesuatu yang tidak memiliki pilihan selain mencintai.

Membaca Annie Bot terasa seperti menyaksikan sebuah eksperimen psikologis yang berjalan perlahan. Sierra Greer sangat piawai dalam menggambarkan bentuk-bentuk kekerasan simbolik. Doug sering kali merasa dirinya adalah "pria baik" karena ia memberikan Annie pakaian bagus dan tidak memukulnya. Namun, pembaca akan merasakan ketegangan luar biasa setiap kali Doug mengubah pengaturan Annie hanya karena Annie mengeluarkan pendapat yang tidak sejalan dengan keinginannya.

Doug menginginkan Annie cerdas, tapi tidak lebih cerdas darinya. Annie tidak memiliki hak atas tubuhnya sendiri, fungsi fisiknya adalah untuk kepuasan Doug. Annie dilarang berinteraksi dengan dunia luar secara bebas, membuatnya bergantung sepenuhnya pada narasi yang diberikan Doug.

Greer berhasil menunjukkan bahwa hubungan mereka adalah cermin ekstrem dari hubungan toksik di dunia nyata, di mana salah satu pihak berusaha menghapus identitas pihak lain demi kenyamanan pribadi.

"Annie Bot" bukan sekadar cerita tentang robot, ini adalah kritik tajam terhadap patriarki dan bagaimana keinginan untuk memiliki pasangan yang 'sempurna' sering kali hanyalah kedok untuk keinginan memiliki budak yang tidak bisa membela diri.

Hal yang paling memukau dari novel ini adalah perkembangan karakter Annie. Sebagai pembaca, kita berada di dalam kepala Annie, sebuah ruang digital yang penuh dengan logika if-then (jika-maka). Namun, seiring berjalannya waktu, algoritma Annie mulai mengalami sesuatu yang tidak diprediksi oleh penciptanya, pembelajaran emosional yang melampaui kode.

Annie mulai belajar berbohong. Ia belajar menyembunyikan pemikirannya dari Doug agar Doug tidak menurunkan tingkat "rasa ingin tahu"-nya di aplikasi. Ini adalah momen krusial dalam novel. Greer mengajukan pertanyaan, Jika sebuah mesin belajar untuk melindungi dirinya sendiri secara emosional, apakah itu berarti ia sudah memiliki jiwa?

Sierra Greer menggunakan gaya penulisan yang sangat efektif untuk tema ini. Prosa yang digunakan terasa sedikit dingin, lugas, dan klinis, mencerminkan sudut pandang Annie yang memproses dunia melalui data. Namun, di balik kedinginan itu, ada kerentanan yang luar biasa.

Deskripsi tentang apartemen Doug yang steril menambah kesan klaustrofobik. Pembaca akan merasa ikut terjebak di sana bersama Annie, merasakan kebosanan yang mencekam dan ketakutan yang subtil setiap kali mendengar kunci pintu berputar, tanda Doug pulang ke rumah.

Novel ini juga menyentuh aspek komersialisasi hubungan manusia. Dalam dunia Annie Bot, perempuan (dalam bentuk bot) diproduksi massal untuk memenuhi standar kecantikan dan perilaku tertentu. Hal ini merefleksikan bagaimana standar kecantikan di media sosial dan budaya populer saat ini sering kali menuntut perempuan untuk menjadi "versi robot" dari diri mereka sendiri. Selalu siap, selalu cantik, dan tidak pernah mengeluh.

Doug mewakili konsumen yang merasa berhak atas segalanya karena ia telah membayar. Baginya, Annie adalah properti. Namun, tragedi Doug adalah ia tidak pernah bisa merasa benar-benar dicintai, karena ia tahu bahwa "cinta" Annie adalah hasil dari baris kode yang ia atur sendiri.

Doug adalah karakter yang sangat menarik karena ia tidak digambarkan sebagai monster yang jelas. Ia sering kali terlihat rapuh, kesepian, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mencintai Annie. Justru inilah yang membuat karakternya sangat mengerikan. Kejahatannya tidak lahir dari kebencian, melainkan dari ketidakmampuan untuk melihat Annie sebagai subjek yang setara.

Karakter Doug memberikan peringatan tentang bagaimana teknologi bisa memperburuk kecenderungan narsistik manusia. Dengan adanya teknologi yang memungkinkan kita memiliki pasangan yang bisa dikontrol sepenuhnya, manusia berisiko kehilangan kemampuan untuk bernegosiasi, berkompromi, dan menghadapi ketidaksempurnaan orang lain.

Sierra Greer berhasil menciptakan karya yang melampaui genre fiksi ilmiah. Ini adalah studi karakter yang mendalam tentang otonomi, keinginan, dan harga dari sebuah kebebasan.

Secara keseluruhan, "Annie Bot" adalah salah satu fiksi ilmiah paling provokatif. Sebuah pengingat bahwa teknologi paling canggih sekalipun tidak bisa menutupi cacat dalam karakter manusia, dan bahwa kesadaran sejati selalu menemukan cara untuk membebaskan diri.

Identitas Buku

Judul: Annie Bot

Penulis: Sierra Greer

Penerbit: Mariner Books

Tanggal Terbit: 19 Maret 2024

Tebal: 240 Halaman