"Aku ingin hidup normal seperti mereka," ujar Nicholas dengan tatap sendunya.
"Mereka?" Jeany menanggapi sembari menyesap kopi.
"Orang-orang di atas sana. Aku melihat mereka begitu bahagia menjalani hari-harinya. Pergi ke bekerja, nongkrong dengan teman-teman, menikah, berkumpul dengan keluarga. Aku ingin hidup tenang," ungkapnya.
Red, ketua tim mereka, terdiam mendengar curahan hati salah satu anggotanya. Sorot matanya yang tajam menatap minuman sembari terus mengaduknya; ia berpikir. "Bagaimana denganmu, Jeany? Apa kau juga menginginkan itu?" ia menatap satu-satunya wanita yang ada di tim.
Jeany menegakkan duduknya dengan kening berkerut. Detik berikutnya, ia mengedikkan bahu. "Entahlah, Red. Hanya saja, kupikir itu menyenangkan."
Napas Red terdengar begitu berat. Ia tahu, mereka menjalani kehidupan yang tak mudah sejak terjebak menjadi agen rahasia di komunitas underground. Banyak hal yang mereka lakukan dengan mempertaruhkan nyawa.
Dering ponsel mengagetkan tiga orang setim yang sedang merenungi takdir. Red beranjak untuk menerima telepon dari bos mereka. Lima menit kemudian ia kembali dengan seringainya.
"Misi terakhir. Aku akan mengajukan pembubaran tim setelah ini dan kita akan hidup bebas." Ucapnya disambut gembira oleh Nick dan Jeany yang sudah menunggu-nunggu kabar itu.
***
Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba. Red dan kedua anggota timnya tampak sibuk menyiapkan peralatan yang mereka gunakan untuk menyelesaikan misi. Setelah memastikan semuanya siap, Red memberikan instruksi pada Nick untuk mengendarai mobil yang sudah disiapkan menuju ke titik lokasi yang diberikan oleh bos.
"Enam penjaga bersenjata di sisi barat, utara, dan selatan. Di selatan sedikit lengah, Jeany yang akan mengurusnya. Barat, dua penjaga berbadan kekar, Nick paling cocok mengurus orang ini. Aku akan membereskan bagian utara, kemudian masuk dan menyelamatkan sandera. Rencana selanjutnya, kita lakukan seperti biasa." Red mengintai dengan teropong sembari menjelaskan bagian masing-masing dalam misi kali ini.
Jeany dan Nick mengangguk paham. Mereka bertiga sudah siap dengan pakaian serba hitam dan topeng menutupi wajah. Seratus dua puluh meter dari lokasi, Nick menghentikan mobil.
"Kita berpencar di sini. Ingat! Fokus utama kita menyelamatkan sandera. Misi ini harus berhasil demi kebebasan kita."
Mereka saling tatap kemudian mengangguk. Selanjutnya, tiga orang itu berlari dengan kecepatan tinggi menuju gedung kosong di sebelah barat daya hutan.
Jeany bersembunyi di balik pepohonan. Matanya menatap tajam dua pria yang tampak mengantuk. Dengan gerakan cepat, Jeany menembakkan peluru bius pada keduanya. Kemudian tangannya beralih menekan earpiece yang menempel di telinga.
"JN 003 done," bisiknya menyebutkan kode nama yang diberikan bos.
"R 001 done. NC 002, are you okay?"
Sudah tiga kali Red mencoba memanggil, Nick tak menjawab. "Jeany, lakukan plan B!"
Jeany menghela napas. "Bagaimana denganmu? Kau masuk sendirian?"
"Ini perintah," tegas Red.
"Kau yakin bisa mengatasinya, R?"
"Hanya satu di dalam, aku bisa mengatasinya. Lakukan saja tugasmu."
"Baik."
Jeany berjalan mengendap menuju arah barat, ke tempat Nick berada. Mata gadis cantik berdarah Amerika itu terbelalak melihat anggota timnya diseret oleh dua pria berbadan kekar.
"Sial! NC 002 failed. Dia tertangkap." Jeany melaporkan keadaan Nick. Tangannya sibuk mengatur senjatanya agar dapat mengeluarkan dua peluru sekaligus.
SHOT!
Setelah memastikan dua targetnya pingsan, gadis cantik itu berlari mengecek kondisi sahabatnya. "Nick, are you okay?"
Nick mengangguk lemah. "Thanks, Jean. Aku berhutang nyawa kepadamu."
"Beres! JN 003 done. NC 002 selamat."
"Oke. Berkumpul di titik temu. Aku sudah berhasil membawa sandera keluar."
Jeany memapah Nick. Sementara dari pintu, tampak Red menggendong seorang gadis yang belum sadar.
"Berani sekali mencuri barang bos kami. Siapa kalian?!"
Sekelompok pria bersenjata mengarahkan moncong pistol pada mereka. Sepertinya, ada penjaga yang sudah sadar dan berhasil memanggil bantuan.
"Satu ..., dua ..., tiga ..., ah, sial! Kenapa banyak sekali?" Jeany mengeluh sembari menyandarkan Nick di salah satu pohon. Ia menatap Red yang mengangguk.
Pria berambut merah menyala itu menatap gadis yang baru saja diselamatkannya membuka matanya. Ia mengambil sebelah tangan si gadis lalu meletakkan suar udara di sana.
"Pergi ke arah jam dua. Ada mobil kami di sana. Pakai itu untuk mencari bantuan, kami akan mengurus mereka di sini."
Gadis yang menjadi tujuan misi mereka itu mengangguk lemah.
“Terima kasih.”
Tanpa menunggu, ia memaksa tubuhnya berjalan tertatih secepat yang ia bisa usai menerima kunci mobil dan suar yang diberikan kepadanya. Ia terus melangkah, berusaha mengabaikan suara tembakan yang terus bersahutan di belakangnya.
***
Ruangan serba putih menyambut pandangan seorang pria yang baru membuka matanya setelah satu bulan berlalu.
"Dia sadar! Ini sungguh keajaiban!" orang-orang berjas putih tampak berlalu-lalang memeriksa kondisinya.
Tak lama setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan, seorang pria dengan baju pasien yang sama dengannya masuk.
“Kau ingat sesuatu?” pria itu tiba-tiba bertanya.
Ia mengernyitkan dahi. Ingat sesuatu? Apa maksudnya?
Melihat lawan bicaranya tampak kebingungan, pria itu berkata lagi, “Aku mendengar dari seorang dokter, kau adalah rekanku.”
Pria yang baru terbangun itu sama sekali tak menyahut. Ia masih berusaha mencerna situasi yang dialaminya.
“Ah, ya, namaku Nicholas. Mereka bilang, namamu Alfred. Kudengar, ada satu orang lagi yang datang bersama kita waktu itu, tapi sudah dijemput oleh keluarganya.”
Nicholas? Nama itu terdengar familiar. Namun, entahlah. Ia tak bisa mengingat apapun tentang dirinya dan pria yang mengaku rekannya ini. Meski demikian, ia menanggapi dengan menganggukkan kepala. Kondisinya masih terlalu lemah untuk berbicara.
Hari berlalu dengan pria bernama Nicholas terus mengoceh. Dia menceritakan hari-harinya di rumah sakit pasca tersadar dari koma satu minggu yang lalu. Ia bilang, kondisinya persis seperti dirinya. Tak bisa mengingat apapun yang terjadi sebelum akhirnya terbangun di rumah sakit itu. Kemudian dalam rentang waktu itu, tak ada seorang pun datang menjenguknya. Ia benar-benar sendirian. Oleh karena itu, saat mendengar salah satu pasien di sini adalah rekan lamanya, ia senang sekali.
Pada hari berikutnya, seorang pria paruh baya mendatangi mereka. Pria itu membungkukkan badan memberi salam.
"Terimakasih, karena sudah menyelamatkan putri saya."
Mereka berdua berpandangan. Apa yang terjadi? Siapa mereka sebenarnya?
“Menyelamatkan? Apa maksudnya?” Alfred mengeluarkan suara untuk pertama kalinya.
Pria itu hanya tersenyum. Kemudian mengeluarkan kertas kecil dari tasnya.
“Pergilah ke alamat yang ada di sini setelah kondisi kalian membaik. Di sanalah keluarga kalian tinggal. Hiduplah sesuai keinginan kalian di tempat itu.”
Sebelum meninggalkan ruangan, pria itu berkata lagi, “Anggap saja itu sebagai ungkapan rasa terima kasihku. Pulihkan diri kalian di sini. Jangan khawatirkan tagihan rumah sakit, semua sudah dibayar lunas.”
Misi terakhir mereka berhasil terselesaikan. Seolah tak pernah ada, kenangan sebagai agen rahasia lenyap begitu saja. Pada akhirnya, kehidupan normal yang dulu terasa tak mungkin, kini akan mereka jalani.
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Duet Calming Barsena dan Nyoman Paul di Lagu 'Ruang Baru', Vibesnya Mahal!
-
Film Abadi Nan Jaya: Potret Sunyi Ambisi dan Tekanan Sosial
-
Olahraga Saat Puasa: Mitos, Fakta, dan Panduan dari dr. Tirta
-
Guru Bumi Perkuat Literasi Alam Lewat Program Jelajah Satwa Nusantara
-
7 Rekomendasi Dashcam Mobil Terbaik 2026: Dari Entry-Level Rp400 Ribuan hingga Kelas Premium 4K!