Sekar Anindyah Lamase | Tika Maya Sari
Ilustrasi gadis kecil bermahkota bunga (Unsplash/Christian Widell)
Tika Maya Sari

Buah-buah mahoni berguguran, jatuh terbang tertiup angin. Eksistensinya mirip baling-baling mungil yang mengudara, disusul dengan aroma bunga wadang dan benih-benihnya yang beterbangan. Ada beberapa pohon mahoni dan wadang besar disini.

“Kau payah bermain catur.”

Kulirik seorang lelaki berjaket hitam yang tampak mengomeli lelaki berkaos hitam di depannya. Mereka berdua tengah bermain catur, entah sudah berapa kali putaran. Dan hasilnya selalu sama. Si kaos hitam selalu kalah.

Aku tidak mengenali mereka berdua, tetapi merasa agak familiar. Entahlah.

Kugelengkan kepala, kucubit pipi, dan kembali mengamati pemandangan yang juga familiar. Sebuah lanskap rimbun hutan heterogen, dengan cahaya matahari menembus kisi-kisi dedaunan, dan gemericik aliran anak sungai di sela bebatuan. Ada aroma humus yang menguar samar, dari dedaunan kering bercampur tanah basah.

Saat aku menarik nafas panjang, terdengar suara adu kelereng dari sisi lain. Ah, rupanya ada dua orang lelaki berkemeja hitam sedang bermain kelereng.

“Entah apa, entah apa,” gumamku tidak mau peduli. Mungkin aku kebanyakan membaca komik misteri, atau menonton drama. “Aku nyasar kemana?”

“Kau bisa tidak sih main catur? Sejak tadi kalah terus?!”

Kembali kudengar omelan si jaket hitam. Alih-alih menonton dia memarahi lawan main, aku memilih berjalan-jalan di bawah pohon. Seraya merasai tekstur pohon mahoni yang seakan berserat, dan menerka-nerka berapa diameter pohon besar ini. Dahannya kokoh, dan dedaunannya rimbun berwarna hijau tua, nyaris kehitaman. Mungkin pohon ini berusia sangat tua.

“Adik kecil?” sapaku pada seorang gadis kecil, kemungkinan berusia empat tahunan. “Kamu dengan siapa disini?”

Kuamati sekeliling, siapa tahu ada orang lain selain kami berlima–aku dan empat lelaki tadi. Namun nihil, gadis kecil ini tiba-tiba muncul dari balik pohon mahoni.

“Mau permen?” tawarku sambil mengulurkan permen rasa buah. “Namamu siapa?”

Gadis kecil itu terdiam, tetapi meraih permen dan memakannya dengan imut. Kuamatilah dia, dan aku tersenyum terpesona.

Gadis ini mungkin berusia empat tahunan, dengan kulit kuning langsat pucat, iris mata kelabu, dan rambut pirang keperakan yang cantik kala ditimpa cahaya matahari. Dia juga mengenakan dress putih gading selutut, dengan hiasan tiara ranting dan bunga-bunga di kepala. Anak ini betul-betul mirip dengan elf dari negeri dongeng, walau tanpa telinga runcing khas bangsa elf.

“Kenapa kau masih hidup?”

Aku terperanjat saat mendengar suaranya yang serak, besar, dan mirip orang tua. Sorot matanya tampak menajam, dan memandangku tanpa berkedip sama sekali.

“Apa maksudmu?” tanyaku merinding. “Apa kamu mengenalku?”

Gadis kecil itu lantas membuka mulutnya. Kukira, dia hendak berbicara atau barangkali menguap. Namun, mulutnya terbuka amat lebar hingga separuh kepalanya, dengan gigi-gigi runcing mirip hiu dan darah yang meleleh segar.

“Kamu bukan manusia,” gumamku. Iya, mana ada manusia mengerikan seperti itu kalau bukan jejadian. “Kamu bukan manusia…”

Aku membeku di tempat, seperti terpaku gravitasi bumi. Seraya mengamati mulut gadis kecil itu yang kian membesar, dan darah yang semakin menodai dress miliknya.

“Kenapa kau masih hidup?” tanyanya dengan suara menggema, kasar, dan serak, seraya berlari menerjang ke arahku.

Satu lenganku tertarik mundur dengan cepat, sehingga gadis kecil tadi menabrak pepohonan. Kurasakan kini aku dalam dekapan seseorang, dan rupanya itu adalah si jaket hitam.

“Bagaimana dia bisa lolos sampai kemari?” tanya si kaos hitam–yang tadi kalah bermain catur. “Apa ada yang memberikan akses padanya?”

Di mataku, keempat lelaki ini terlihat tegang meski masih bersikap santai. Sedangkan si gadis kecil tadi menatap tajam ke arah kami, dengan mulut yang masih terbuka lebar. Namun sekarang, iris kelabunya bertukar menjadi merah saga.

“Aku hanya ingin membunuhnya sesuai perintah,” tunjuk gadis kecil tadi padaku. “Aku tidak memiliki urusan dengan kalian.”

“Maaf, Nona,” salah satu lelaki berkemeja hitam bersuara. “Tapi kami harus melindunginya.”

“Persetan dengan kalian!!”

Gadis kecil itu kembali menerjang ke arah kami. Namun, si jaket hitam lebih dulu membawaku menjauh. Jadilah ketiga lelaki tadi menghadapi si kecil yang kini raut wajahnya mirip seperti nenek tua. Dengan ekspresi marah seakan ingin menghabisi kami berlima.

“Apa tidak masalah? Tiga lelaki melawan seorang anak kecil?” tanyaku bodoh. Aku nyaris lupa kalau bocah kecil tadi hampir membunuhku dengan gigi-gigi tajamnya.

“Dia bukan anak kecil,” ucap si jaket hitam.

Pertarungan itu tampak tidak seimbang. Yah tentu saja. Seorang gadis kecil melawan tiga lelaki dewasa. Meski aku cukup kaget sewaktu gadis kecil itu mampu menyemburkan api dari mulutnya. Lidahnya juga mampu memanjang bak tali, walau berhasil dipotong oleh lelaki berkaos hitam.

Pertarungan itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya si gadis kecil jatuh tersungkur di tanah. Tubuhnya babak belur, dan darah mengucur dari kepala. Iris merah saganya kembali jadi abu-abu, dan wajah yang seperti nenek tua telah kembali seperti semula.

“Ketua, harus kita apakan dia?” tanya si kaos hitam yang tampak tersenyum sambil menginjak kepala gadis kecil itu. “Kita buang ke laut saja bagaimana?”

Lelaki berjaket hitam ini lantas membawaku mendekati mereka. Dan kulihatlah bahwa gadis kecil itu masih melihatku dengan tatapan nyalang seperti hendak membunuh.

“Musnahkan,”

Aku nyaris berteriak kala ketiga lelaki itu menginjak-injak tubuh gadis kecil tadi tanpa ampun. Kemudian, wujudnya berubah menjadi kepulan asap hitam dan suara tawa melengking penuh kesakitan.

Asap itu menjauh terbawa angin, entah kemana. Dan sumpah serapah yang masih terdengar nista.

“Entah apa, entah siapa. Kau benar-benar harus menjaga jiwa dan ragamu dengan seksama, Friska..”

“Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.

“Iblis selalu hidup berdampingan dengan manusia. Jangan membiarkan iblis menguasaimu, atau memperdayamu,” kata si jaket hitam tenang. “Iblis tidak akan pernah bisa menjadi teman, mereka adalah musuh yang nyata.”

Sebelah tangannya kemudian menutup mataku. Dan kicau burung menyadarkanku bahwa aku masih berada di atas tempat tidur.