Sekar Anindyah Lamase | Leonardus Aji Wibowo
Contoh kegiatan pelatihan yang diadakan oleh APC (Dok pribadi/Atma Jaya Photography Club)
Leonardus Aji Wibowo

Di tengah perkembangan budaya visual anak muda yang semakin dekat dengan media sosial dan fotografi estetik, (APC) justru memilih membawa isu sosial ke dalam karya mereka. Lewat pameran bertema “Di Balik yang Tak Terlihat”, komunitas fotografi mahasiswa ini mencoba mengangkat kehidupan kaum marginal melalui lensa kamera.

Yansen, selaku Ketua (APC), mengatakan pameran bertema kaum marginal tersebut dibuat agar pengunjung dapat melihat realitas yang selama ini jarang diperhatikan oleh masyarakat. Menurut Yansen, fotografi tidak hanya soal estetika visual, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan sosial.

Ia berharap karya-karya yang ditampilkan dalam pameran tersebut mampu membuka sudut pandang baru bagi para pengunjung. Melalui foto-foto yang dipamerkan, APC ingin menunjukkan bahwa masih banyak kelompok masyarakat yang hidup dengan berbagai keterbatasan.

“Dengan harapan bahwa para pengunjung pameran dapat melihat bahwa masih ada kaum-kaum yang masih berjuang dengan keterbatasan di dunia ini,” ujar Yansen dikutip dari wawancara tim Community Yoursay, Minggu (24/5/2026).

Yansen menceritakan dirinya mulai bergabung dengan APC sejak masih menjadi mahasiswa baru. Sebelum masuk kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, ia mengaku sudah mencari unit kegiatan mahasiswa yang berfokus pada fotografi hingga akhirnya menemukan APC dan tertarik untuk bergabung.

Menurutnya, APC dibentuk karena tingginya minat mahasiswa terhadap dunia fotografi. Seiring waktu, komunitas tersebut berkembang dan mulai memiliki koneksi dengan komunitas fotografi dari universitas lain.

“Tujuan utamanya untuk mengembangkan minat dan skill fotografi mahasiswa di UAJY, sekaligus jadi wadah untuk berkreasi, berkembang, dan belajar peluang bisnis sebagai freelancer,” katanya.

Selain aktif mengadakan pelatihan fotografi, APC juga rutin membuat pameran karya setiap tahunnya. Dalam satu periode, komunitas tersebut biasanya menggelar dua pelatihan dan dua pameran fotografi, mulai dari pameran perdana hingga pameran besar.

Yansen mengatakan kekuatan utama APC terletak pada solidaritas antar anggotanya. Menurutnya, para anggota memiliki latar belakang dan minat yang berbeda, mulai dari otomotif, anime, traveling, hingga kamera, namun tetap dapat dipersatukan lewat fotografi.

“Di APC solidaritasnya kuat banget. Dari pengurus sampai anggota dekat semua karena punya hobi yang berbeda-beda, tapi fotografi jadi penyatunya,” jelasnya.

Ia juga menilai budaya fotografi di Yogyakarta memiliki ciri khas tersendiri. Banyak fotografer di Kota Gudeg yang mengangkat sisi budaya dan wisata lokal melalui gaya visual mereka masing-masing, mulai dari street photography, portrait, hingga fotografi alam dan otomotif.

Menurut Yansen, keberagaman gaya tersebut justru membuat dunia fotografi semakin menarik untuk dikembangkan. Ia menilai setiap budaya visual dapat diadaptasi ke dalam gaya fotografi lain sesuai karakter masing-masing fotografer.

Di sisi lain, Yansen melihat tren kamera analog mulai kembali diminati oleh anak muda. Meski saat ini kamera mirrorless modern seperti Canon EOS R5 Mark II dan Sony Alpha series semakin canggih, ia menilai kamera analog tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi generasi muda.

“Karena efeknya dreamy dan desainnya retro, jadi cocok sama tren berpakaian anak muda sekarang yang skena-skena gitu,” katanya.

Meski begitu, ia mengakui minat anak muda terhadap fotografi mulai mengalami penurunan dibanding beberapa tahun lalu. Karena itu, APC berharap fotografi dapat kembali berkembang dan menarik lebih banyak mahasiswa untuk bergabung ke dalam komunitas tersebut.

“Semoga APC bisa mulai ramai peminat lagi dan fotografi bisa berkembang kembali karena sekarang anak muda sudah mulai jarang yang suka kamera,” tutupnya.