Hayuning Ratri Hapsari | Taufiq Hidayat
Antara Secangkir Kopi dan Makna Merdeka. (Gemini Ai)
Taufiq Hidayat

Tanggal 16 Agustus malam. Setelah kurang lebih satu bulan merantau demi menjalankan misi pengabdian KKN di Desa Dengeng-Dengeng, Fajar akhirnya menginjakkan kaki kembali di tempat paling sakral bagi pergerakan intelektual kelas bawah: Warkop Marilah Cerita.

Ia pulang bukan karena program kerjanya sukses besar, melainkan karena ia butuh asupan kafein yang layak sebelum besok pagi harus berdiri tegak mengikuti upacara 17 Agustus di lapangan kecamatan, sebuah ritual tahunan yang bagi Fajar lebih mirip latihan baris-berbaris bagi narapidana ketimbang perayaan kemerdekaan.

Begitu ia mendorong pintu warkop, derit engsel kayunya langsung disambut oleh tatapan penuh curiga sekaligus geli dari para penghuni tetap meja sudut.

"Wah, lihat siapa yang datang," seru Mas Rio dari balik mesin ekspresonya, sambil menyeringai lebar. "Anak emas desa sebelah akhirnya pulang juga. Bagaimana, Jar? Selama sebulan di sana, apakah ada kembang desa yang tersangkut di hati, atau jangan-jangan kamu malah cinlok sama kambing kepala desa?"

Pane, yang duduk menyilangkan kaki sambil memainkan korek api, langsung terkekeh. "Jangan salah, Mas Rio. Fajar itu tipe pengabdi yang kalau ngomong di depan warga pakai nada berapi-api, tapi kalau didekati gadis desa langsung salah tingkah. Ngaku saja, Jar, sudah berapa proposal cinta yang kamu tolak atas nama Tri Dharma Perguruan Tinggi?"

Fajar hanya bisa mengelus dada sambil mendudukkan diri di kursi kayu yang sudah lama ia rindukan. "Kalian ini baru ketemu bukannya menyambut pahlawan yang baru pulang dari medan juang, malah langsung meluncurkan fitnah asmara. Selama sebulan di sana saya pusing memikirkan jalan rusak dan rasa durian yang hambar, kalian malah enak-enakan menggoreng gosip."

Pak Hendra, yang duduk tenang di sudut dengan asap rokok mengepul di atas kepalanya, ikut tersenyum tipis. "Makanya, Jar, jangan terlalu sering meninggalkan warkop. Dunia luar itu kejam, penuh dinamika palsu. Di sini jauh lebih damai, meskipun kopinya kadang bikin asam lambung naik."

Seiring malam merambat larut, obrolan santai itu perlahan bergeser dari candaan receh tentang percintaan KKN menuju topik yang lebih sakral: esensi kemerdekaan, mengingat besok pagi seluruh negeri, termasuk Universitas Tata Surya, akan serentak menggelar upacara bendera.

Fajar, yang merasa gelisah dengan gegap gempita kemerdekaan yang sering kali terasa hampa makna, melemparkan sebuah pertanyaan pancingan ke tengah meja.

"Menurut bapak-bapak dan teman-teman sekalian, sebenarnya apa arti merdeka menurut kalian?"

Mas Rio adalah orang pertama yang merespon. Ia meletakkan gelas yang baru saja ia lap, lalu tersenyum puas. "Kalau buat saya, bisnisman kecil yang hidup di bawah bayang-bayang fluktuasi harga biji kopi, merdeka itu sederhana: merdeka adalah ketika warkop ini penuh dengan pelanggan, stok biji kopi aman, dan semua minuman laku terus tanpa ada gangguan dari preman pasar atau razia retribusi yang tidak jelas asal-usulnya!"

Tawa kecil lepas dari meja mereka. Giliran Pak Hendra yang merespon dengan nada sinis yang elegan, merujuk pada masa lalunya yang sering diseret-seret oleh birokrasi kampus.

"Kalau menurut saya," ucap Pak Hendra pelan sambil menyesap kopi hitamnya, "merdeka adalah ketika saya sudah tidak lagi dilabeli sebagai dalang di balik terciptanya 'Republik Marilah Cerita' kemarin oleh pihak rektorat kampus kalian. Pihak kampus paling alergi kalau melihat mahasiswa berpikir mandiri, dikit-dikit dituduh ada provokator di belakang layar. Padahal, otak mahasiswa ini memang sudah encer sendiri karena muak dengan kebijakan birokrasi."

Pane, yang sejak tadi menyimak dengan wajah serius, mengangkat dagunya. "Kalau versi saya lebih radikal lagi. Merdeka itu ketika tidak ada batas waktu untuk berkuliah. Orang menuntut ilmu itu tidak boleh dibatasi oleh sistem drop out atau masa studi maksimal lima tahun. Biar sampai semester 81 pun, kalau mahasiswanya masih ingin menikmati fasilitas perpustakaan dan mencari pencerahan, ya harusnya dibiarkan saja!"

Mendengar jawaban-jawaban filosofis sekaligus absurd itu, suasana meja mendadak hening sejenak. Mas Rio dan Pak Hendra saling berpandangan, lalu menoleh tajam ke arah Fajar.

"Nah, sekarang pertanyaannya berbalik ke kamu, sang agen perubahan," kata Mas Rio menantang. "Kalau menurutmu sendiri, Fajar, merdeka itu seperti apa?"

Fajar menarik napas dalam-dalam. Matanya menerawang menatap mesin ekspreso yang berdengung tenang. Ia teringat sebulan penuh di desa, teringat rapat-rapat birokrasi kampus yang kaku, dan teringat bagaimana kebebasan berpikir sering kali dibungkam oleh ancaman sanksi akademik.

Dengan suara yang tenang namun penuh penekanan, Fajar menjawab, "Merdeka menurut saya adalah: Sudah tidak ada lagi doktrin-doktrin ngawur yang diberikan kepada mahasiswa, sudah tidak ada lagi kebijakan atau peraturan kocak yang keluar dari rektorat, sudah tidak ada lagi batasan-batasan jam malam di kampus yang memperlakukan mahasiswa seperti narasi asrama putri abad pertengahan, sudah tidak ada lagi pelabelan buruk terhadap mereka yang kritis bersuara."

Fajar berhenti sejenak, meneguk kopinya, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, "Dan yang paling utama: Warkop Marilah Cerita ini tetap menjadi warkop sejati yang tidak membatasi pelanggan yang datang dari organisasi mana pun, lintas faksi, lintas angkatan, dan terutama... harga kopinya tidak melampaui harga SPP perkuliahan, serta rasanya tetap terjaga sampai kapan pun!"

Untuk sedetik, meja itu terdiam. Kalimat Fajar menghantam telak kesadaran mereka. Sebelum akhirnya tawa meledak dari Mas Rio, disusul tepuk tangan kecil dari Pak Hendra dan seringai setuju dari Pane.

Di malam tanggal 16 Agustus itu, di bawah temaram lampu warkop dan kepulan asap rokok, mereka tahu bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah yang diperingati lewat upacara formal esok pagi, melainkan keberanian untuk tetap waras, tetap kritis, dan tetap menikmati secangkir kopi di tengah republik kecil bernama Warkop Marilah Cerita.