Ada sesuatu yang menarik dari Rocky Gerung menjadi Wantimpres. Mengapa? Karena, selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai salah satu pengkritik kekuasaan yang cukup keras. Rocky sering berbicara tentang demokrasi, kebebasan berpikir, akal sehat, dan pentingnya mengkritik pemerintah.
Sekarang, orang yang selama ini berdiri di luar kekuasaan itu malah berada di dalam lingkaran kekuasaan. Rocky Gerung dilantik menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres oleh Presiden Prabowo Subianto.
Tentu saja, saya tidak menganggap pelantikan tersebut sebagai bukti bahwa Rocky adalah seorang sofis. Menjadi Wantimpres tidak otomatis membuat seseorang menjadi sofis. Justru menurut saya, posisi baru ini memberikan kita kesempatan untuk menguji apakah kritik-kritik Rocky terhadap kekuasaan selama ini memang konsisten.
Apakah ia masih akan mengatakan bahwa pemerintah keliru ketika memang keliru? Atau setelah berada di dalam kekuasaan, ia justru akan mencari berbagai alasan untuk membenarkan kebijakan pemerintah?
Di sinilah saya kembali pada dugaan yang sudah lama saya sampaikan secara terbuka: Rocky Gerung bukan filsuf, melainkan sofis.
Rocky dan Ujian Sebagai Pengkritik Kekuasaan
Saya teringat pernyataan Rocky pada 2019. Ketika itu, Rocky mengatakan bahwa jika Prabowo menjadi presiden, ia akan mengkritik Prabowo 12 menit setelah dilantik. Ia bahkan meminta agar pernyataan tersebut dicatat sebagai jejak digital.
Sekarang pernyataan itu menjadi menarik karena situasinya sudah berubah. Prabowo sudah menjadi Presiden, dan Rocky sekarang justru menjadi salah satu orang yang berada di sekitar Presiden.
Karena itu, saya kira publik tidak perlu buru-buru memberikan penilaian. Kita cukup melihat apa yang akan dilakukan Rocky setelah berada di dalam kekuasaan, sebab kritik terhadap kekuasaan memang mudah dilakukan ketika kita berada di luar kekuasaan.
Yang lebih sulit adalah tetap kritis ketika kita sudah berada di dalamnya. Seorang pengkritik kekuasaan bisa saja sangat berani mengatakan pemerintah salah ketika ia berada di luar pemerintahan, tetapi apakah keberanian yang sama masih ada ketika kritik tersebut harus disampaikan kepada orang yang memberinya posisi?
Bagi saya, di situlah ujian sebenarnya. Kalau Rocky memang konsisten dengan apa yang selama ini ia katakan, maka menjadi Wantimpres justru seharusnya membuatnya semakin kritis terhadap kebijakan pemerintah, bukan sekadar menjadi orang yang memberikan pembenaran intelektual terhadap kebijakan Presiden.
Ia seharusnya menjadi orang yang mengatakan kepada Presiden jika ada sesuatu yang keliru. Sebab, fungsi seorang penasihat bukan hanya memberikan alasan mengapa keputusan pemimpin sudah benar, tetapi juga menunjukkan kemungkinan kesalahan sebelum keputusan itu membawa akibat yang lebih besar.
Filsuf Mencari Kebenaran, Sofis Mencari Pembenaran?
Mengapa saya membawa persoalan ini kepada perdebatan tentang filsuf dan sofis? Karena bagi saya, persoalannya bukan sekadar apakah Rocky pintar berbicara atau tidak, bukan pula apakah argumentasinya terdengar logis. Yang lebih penting adalah untuk apa kemampuan berpikir dan berbicara tersebut digunakan: apakah untuk mencari kebenaran atau untuk membenarkan sesuatu?
Kalau kita melihat sejarah filsafat Yunani, kaum sofis sebenarnya bukan kelompok yang berpikir irasional. Justru mereka muncul dalam konteks masyarakat Yunani yang mulai meninggalkan penjelasan mitologis tentang dunia.
Sebelumnya, berbagai fenomena alam dijelaskan melalui mitologi. Petir karena Zeus, gelombang laut karena Poseidon, begitu seterusnya. Kaum sofis mulai menggunakan rasio dan mengajarkan retorika serta argumentasi yang sangat penting dalam kehidupan politik masyarakat Yunani.
Tetapi persoalannya, kemampuan tersebut tidak selalu diarahkan kepada pencarian kebenaran. Argumentasi bisa digunakan untuk memenangkan perdebatan, membela kepentingan tertentu, bahkan membuat sesuatu yang sebenarnya salah terlihat benar di hadapan orang lain.
Karena itu, kritik terhadap kaum sofis sejak zaman Plato bukan semata-mata karena mereka pandai berbicara. Persoalannya adalah hubungan antara kemampuan berbicara dengan kebenaran, apakah retorika digunakan untuk mencari kebenaran atau hanya untuk memenangkan argumentasi.
Di sinilah saya melihat perbedaan penting antara filsuf dan sofis. Socrates—salah seorang filsuf Yunani dan guru Plato—tidak menganggap dirinya sebagai orang yang sudah mengetahui semua jawaban, tetapi justru berdialog dengan orang-orang yang mengaku memiliki pengetahuan.
Ia bertanya, menguji, dan memeriksa argumentasi lawan bicaranya. Kalau ternyata argumentasinya tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka argumentasi tersebut harus ditinggalkan.
Karena itu, bagi saya, filsafat bukan sekadar kepandaian memainkan kata-kata. Filsafat justru dimulai ketika seseorang berani berkata seperti kata-kata Socrates: "Yang saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa."
Ketika Kritik Bertemu Kekuasaan
Masalahnya, kekuasaan selalu membutuhkan orang-orang yang bisa memberikan argumentasi. Pemerintah membutuhkan orang yang mampu menjelaskan mengapa sebuah kebijakan harus dijalankan, tetapi pemerintah juga membutuhkan orang yang berani mengatakan bahwa kebijakan tersebut mungkin keliru.
Ini penting karena orang-orang di sekitar kekuasaan mempunyai posisi yang berbeda dengan rakyat biasa. Mereka mempunyai akses, bisa menyampaikan pendapat secara langsung, dan bisa melihat data serta proses pengambilan keputusan yang tidak selalu diketahui masyarakat.
Karena itu, kalau orang-orang tersebut hanya mengatakan apa yang ingin didengar oleh penguasa, maka fungsi mereka menjadi problematis. Di sinilah posisi Rocky sebagai Wantimpres menurut saya menjadi menarik.
Saya tidak berharap Rocky menjadi oposisi terhadap pemerintah setelah menjadi Wantimpres. Itu juga tidak masuk akal. Tetapi saya berharap ia tetap menjadi orang yang kritis: kalau pemerintah benar, katakan benar; kalau pemerintah salah, katakan salah.
Kalau ada kebijakan yang tidak masuk akal, jangan dicari-cari retorika untuk membuatnya tampak masuk akal. Sebab, bagi saya, membela pemerintah tidak sama dengan membela negara, dan mengkritik pemerintah juga tidak berarti membenci negara.
Rakyat Tidak Membutuhkan Pembenaran
Persoalannya menjadi semakin penting karena masyarakat saat ini sedang menghadapi berbagai tekanan ekonomi. Terus terang, kalau boleh jujur ya, pemerintahan Prabowo, entah karena peninggalan era sebelumnya, krisis global, atau karena ketidakmampuan mengelola negara dan perekonomian—maaf ya—membuat sebagian rakyat seperti terjun bebas.
Kelas menengah terjun menjadi kelas bawah, karena ketidakstabilan harga yang luar biasa fluktuatif dan perputaran uang yang mandeg. Saya sendiri, yang awalnya memang tidak terlalu berharap dengan pemerintahan ini, cukup kaget juga dengan daya rusak berbagai kebijakan pemerintah terhadap kehidupan perekonomian rakyat dan demokrasi.
Dalam situasi seperti itu, rakyat tidak terlalu membutuhkan orang yang pintar menjelaskan mengapa semua masalah sebenarnya bukan masalah. Rakyat membutuhkan orang yang berani mengatakan bahwa memang ada masalah ketika memang ada masalah.
Termasuk dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Saya tidak mempersoalkan tujuan baik dari program tersebut, karena memberikan makanan bergizi kepada masyarakat, terutama anak-anak, tentu merupakan tujuan yang baik.
Tetapi program sebesar MBG tetap harus diuji. Anggarannya harus diawasi, distribusinya harus dievaluasi, pengadaannya harus transparan, dan kalau ternyata terdapat dampak terhadap harga pangan atau persoalan lainnya, maka persoalan tersebut harus dibicarakan secara terbuka.
Jangan sampai karena MBG merupakan program pemerintah, setiap kritik terhadapnya kemudian dianggap sebagai sikap anti-pemerintah. Justru kalau pemerintah ingin programnya berhasil, kritik diperlukan.
Dan di sinilah saya kira orang-orang seperti Wantimpres mempunyai peran penting. Kalau semua orang di sekitar Presiden hanya mengatakan bahwa kebijakannya sudah benar, siapa yang akan mengatakan jika ternyata ada yang salah?
Apakah Rocky Akan Tetap Menjadi Rocky?
Mungkin pertanyaan akhirnya sederhana saja: apakah Rocky Gerung akan tetap menjadi Rocky Gerung setelah masuk ke dalam lingkar kekuasaan? Apakah ia masih akan mengkritik Presiden ketika memang ada kebijakan yang menurutnya salah, atau justru menggunakan kemampuan retorikanya untuk mencari pembenaran terhadap kebijakan pemerintah?
Saya belum tahu, dan saya kira kita memang belum bisa memberikan vonis sekarang. Sebab, Rocky baru saja menjadi Wantimpres, sehingga kita harus melihat apa yang akan dilakukannya setelah berada di dalam kekuasaan.
Mungkin pada akhirnya Rocky akan membuktikan bahwa selama ini ia memang seorang pengkritik kekuasaan yang konsisten. Mungkin juga sebaliknya.
Tetapi justru di situlah menariknya filsafat. Filsafat tidak buru-buru memberikan kesimpulan hanya karena seseorang memakai label tertentu; ia bertanya, menguji, menunggu argumentasi, dan ketika argumentasi itu diberikan, ia akan mengujinya lagi.
Karena itu, sekarang kita tidak perlu buru-buru mengatakan Rocky benar-benar filsuf atau benar-benar sofis. Biarkan waktu yang menjawabnya.
Seperti salah satu lirik di lagu "Sanggupkah" karya Andy Liany: "Hanya waktu yang bisa jawab semua itu." Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu soal masa depan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Menlu Diganti, Pengamat Soroti Diplomasi Indonesia Era Sebelumnya
-
Meneropong Sepak Terjang Wantimpres Prabowo ke Depan Usai Diisi Rocky Gerung hingga Pakde Karwo
-
Struktur Pemerintahan Prabowo Makin Gemoy, DPD Tagih Janji Efisiensi: Jangan Cuma Bagi-Bagi Jabatan
-
Pesan Tegas Hatta Rajasa Usai Dilantik Prabowo Jadi Wakil Ketua Wantimpres
-
Soroti Pergantian Menlu ke Diplomat Karir, Pakar Kritik Lemahnya Artikulasi Diplomasi Era Sugiono
Kolom
-
Mati Mudanya Sebuah Tren: Ketika "Micro-Trends" Mengikis Identitas Diri
-
Seni Menghargai Ketenangan Diri, Lebih Berani Berkata Tidak pada Banyak Hal
-
Ketika Lapangan Kerja Formal Menyempit, Sektor Informal jadi Tumpuan Hidup
-
Jerat Perpeloncoan Kampus: Saat Regulasi Dikecoh Modus PKKMB dan Kaderisasi
-
Kebakaran Gambut Jambi dan Perang Data: Citra Satelit vs Angka Resmi
Terkini
-
Sinopsis Sunshine through the Rain, Dracin Terbaru Yang Chao Yue dan Winwin
-
35 Tahun Puasa Gelar, Timnas Indonesia Selangkah Lagi Raih Trofi
-
Sinopsis Drama One of a Kind Romance: Kisah Cinta Artis dan Asisten
-
Novel Izinkan Aku Mencintaimu: Saat Harus Mengurus Pernikahan Mantan
-
Memahami Duka dan Continuing Bonds dalam Voicemails for Isabelle