M. Reza Sulaiman | Charles Chua
The Lost Horizon (AI/Chat GPT)
Charles Chua

Di sebuah dunia bernama Asterra, terdapat sebuah kerajaan tua yang dikelilingi pegunungan tinggi, hutan lebat, dan lautan kabut. Selama ratusan tahun, penduduk Asterra percaya bahwa di balik pegunungan utara terdapat sebuah tempat misterius bernama Lost Horizon.

Konon, tempat itu menyimpan rahasia tentang asal-usul dunia. Namun, tidak ada seorang pun yang pernah kembali setelah mencarinya.

Di sebuah desa kecil bernama Eldermoor, seorang pemuda bernama Kael tinggal bersama adiknya, Lyra. Kael sering menghabiskan waktunya memandang pegunungan dari atas bukit.

"Suatu hari nanti, aku akan pergi ke sana," kata Kael.

Lyra yang sedang duduk di sampingnya tertawa kecil.

"Kau selalu mengatakan itu. Apa yang sebenarnya ingin kau cari?"

Kael tersenyum.

"Aku tidak tahu. Mungkin jawaban tentang dunia ini."

"Atau mungkin kau hanya bosan tinggal di desa," balas Lyra.

Kael tertawa. "Bisa jadi."

Namun, malam itu sesuatu yang aneh terjadi.

Langit tiba-tiba berubah menjadi merah. Cahaya terang muncul dari balik pegunungan, disusul suara gemuruh yang membuat seluruh desa bergetar.

Kael dan Lyra berlari keluar rumah.

"Apa yang terjadi?" tanya Lyra ketakutan.

"Aku tidak tahu."

Sebuah benda bercahaya jatuh dari langit dan menghantam hutan di dekat desa. Kael berlari menuju tempat jatuhnya benda tersebut. Lyra mengikutinya.

Di antara pepohonan, mereka menemukan sebuah batu hitam dengan simbol berbentuk kompas di permukaannya.

Ketika Kael menyentuhnya, simbol itu tiba-tiba bersinar. Sebuah tulisan kuno muncul di batu.

"Ketika cakrawala yang hilang kembali terlihat, tiga pengembara akan memulai perjalanan."

Lyra membaca tulisan itu dengan suara pelan.

"Tiga pengembara?"

Sebelum Kael sempat menjawab, suara seseorang terdengar dari belakang mereka.

"Sepertinya kalian sudah menemukan apa yang selama ini kucari."

Kael langsung berbalik dan menghunus pedangnya.

Seorang pria berjubah hitam berdiri di antara pepohonan. Rambutnya sudah dipenuhi uban, tetapi sorot matanya terlihat tajam.

"Siapa kau?" tanya Kael.

"Namaku Ronan."

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Ronan berjalan mendekati batu tersebut.

"Aku sudah mencari benda itu selama dua puluh tahun."

Kael menurunkan pedangnya sedikit.

"Untuk apa?"

Ronan memandang pegunungan.

"Untuk menemukan Lost Horizon."

Keesokan paginya, Kael, Lyra, dan Ronan meninggalkan Eldermoor. Mereka melewati hutan tua, lembah berkabut, dan reruntuhan kota yang telah lama ditinggalkan.

Setelah beberapa hari perjalanan, mereka menemukan sebuah menara batu. Di dalamnya terdapat sebuah peta raksasa yang menggambarkan seluruh Asterra.

Namun, bagian utara peta tampak kosong.

Di sana hanya tertulis dua kata:

LOST HORIZON.

Lyra mendekati peta.

"Kenapa tempat ini tidak digambarkan?"

Ronan menjawab, "Karena tidak ada peta yang mampu menunjukkan jalan menuju ke sana."

Kael menatapnya.

"Kalau begitu, bagaimana kita bisa menemukannya?"

Ronan tersenyum tipis.

"Kita tidak menemukan Lost Horizon. Lost Horizon-lah yang menemukan kita."

Tiba-tiba seluruh menara bergetar.

Dari luar terdengar suara geraman.

Kael segera mengambil pedangnya.

"Ada sesuatu di luar."

Mereka keluar dan melihat makhluk besar berdiri di antara kabut. Tubuhnya seperti bayangan, dengan mata yang bersinar terang.

Lyra mundur beberapa langkah.

"Kael..."

"Aku melihatnya."

Ronan mengangkat tangannya.

"Jangan menyerang."

Makhluk itu memandang mereka.

"Dia sudah mengetahui kedatangan kalian."

Kael bertanya, "Siapa?"

Makhluk itu menunjuk ke arah pegunungan.

"Penguasa Lost Horizon."

Setelah mengatakan itu, makhluk tersebut menghilang ke dalam kabut.

Mereka melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mencapai puncak pegunungan. Di hadapan mereka berdiri sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari batu hitam.

Kael mendekatinya.

Simbol kompas di tangannya kembali bersinar.

Gerbang perlahan terbuka.

Di baliknya terdapat pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan. Pulau-pulau melayang di langit, air terjun jatuh dari awan, dan sebuah kota raksasa berdiri di tengah lembah.

Lyra terdiam.

"Indah sekali."

Ronan justru terlihat ketakutan.

Kael menatapnya.

"Apa yang kau takutkan?"

Ronan menjawab dengan suara pelan, "Aku pernah melihat tempat ini."

"Jadi, kau pernah sampai di sini?"

Ronan mengangguk.

"Dan aku juga pernah bertemu dengan penguasanya."

Mereka memasuki kota. Di tengah kota terdapat sebuah istana besar. Di dalamnya, seseorang duduk di atas singgasana.

Pria itu mengenakan jubah panjang dan topeng hitam.

"Selamat datang," katanya.

Kael mengangkat pedangnya.

"Siapa kau?"

Pria itu berdiri.

"Namaku Auron."

Ronan langsung berlutut.

"Yang Mulia..."

Kael menatap Ronan dengan terkejut.

"Kau mengenalnya?"

Ronan mengangguk.

"Dia adalah Auron, raja pertama Asterra."

Kael menatap pria itu.

"Tetapi raja pertama Asterra telah meninggal ratusan tahun lalu."

Auron perlahan melepas topengnya.

"Aku tidak pernah mati."

Kael terdiam.

Auron kemudian menjelaskan bahwa Lost Horizon merupakan sumber kekuatan yang menjaga keseimbangan dunia. Selama berabad-abad, ia menjaga tempat tersebut agar tidak jatuh ke tangan kekuatan jahat.

Namun, keseimbangan itu mulai runtuh.

"Aku membutuhkan penerus," kata Auron.

Kael menggeleng.

"Aku tidak akan menjadi penguasa tempat ini."

"Aku tidak meminta kau menjadi penguasa," jawab Auron. "Aku meminta kau menjadi penjaganya."

Sebelum Kael menjawab, langit di atas kota berubah menjadi gelap. Puluhan makhluk bayangan muncul dari balik awan.

Ronan menghunus pedangnya.

"Mereka datang."

Lyra berdiri di samping Kael.

"Kita harus melakukan sesuatu."

Kael menggenggam pedangnya erat.

"Kalau begitu, kita bertarung bersama."

Pertempuran berlangsung sengit. Ronan menghadapi para makhluk bayangan, sementara Lyra menggunakan kekuatan cahaya yang baru muncul dari tubuhnya. Kael berlari menuju pusat kota.

Di sana terdapat sebuah kristal raksasa yang menjadi sumber kekuatan Lost Horizon.

Kael menyentuh kristal tersebut.

Sebuah suara terdengar di dalam pikirannya.

"Apakah kau ingin menguasai dunia ini?"

Kael memejamkan mata.

"Tidak."

"Apakah kau ingin menjadi raja?"

"Tidak."

"Lalu apa yang kau inginkan?"

Kael membuka matanya.

"Aku ingin dunia ini bebas menentukan masa depannya sendiri."

Kristal itu bersinar sangat terang.

Cahaya menyebar ke seluruh Lost Horizon dan mengusir kegelapan dari langit.

Setelah pertempuran berakhir, Auron berdiri di hadapan Kael.

"Kau telah memilih dengan benar."

Kael menatapnya.

"Apa yang akan terjadi sekarang?"

Auron tersenyum.

"Mulai hari ini, Lost Horizon bukan lagi tempat yang tersembunyi."

Tubuh Auron perlahan berubah menjadi cahaya.

Sebelum menghilang, ia berkata, "Ingatlah, Kael. Menemukan cakrawala bukanlah akhir dari perjalanan. Itu adalah awal."

Kabut yang selama ratusan tahun menutupi pegunungan mulai menghilang.

Kael, Lyra, dan Ronan berdiri di atas tebing dan memandang dunia yang terbentang di hadapan mereka.

Lyra tersenyum.

"Jadi, kita akan ke mana sekarang?"

Kael melihat matahari terbit.

"Ke tempat yang belum pernah kita datangi."

Ronan tertawa kecil.

"Kalau begitu, bersiaplah. Perjalanan kita baru saja dimulai."

Mereka bertiga berjalan menuju cakrawala.

Baca Juga