M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Fajar dan Naomi berubah menjadi perenungan jenaka tentang realitas negeri, syarat pasangan, dan secangkir kopi. (gemini ai)
Taufiq Hidayat

Malam itu, di trotoar beton dingin depan sebuah minimarket waralaba, Fajar dan Naomi duduk bersila beralas lantai keramik yang luas. Di tangan masing-masing tergenggam botol plastik kecil berisi minuman kopi susu kemasan botolan lokal paling legendaris sejagat mahasiswa akhir, Kopi Kapal Malam. Rasanya manis minta ampun, jenis manis yang kalau diminum terlalu sering bisa memicu diabetes, tapi cukup ampuh untuk menemani kepala yang sedang pusing tujuh keliling memikirkan skripsi dan masa depan.

Pertemuan mereka malam itu bukanlah kencan mewah di restoran fancy ber-AC dingin. Sejak awal, Naomi sudah menegaskan lewat pesan singkatnya agar Fajar tidak perlu membuang uang demi kesan pertama yang muluk-muluk.

Menurut Naomi, di tengah ekonomi negara yang sedang diobrak-abrik dan disedot anggarannya entah ke mana, memikirkan barang mewah untuk kencan adalah bentuk pengkhianatan terhadap akal sehat. Ia lebih rela dibelikan makanan ringan warung ketimbang harus pura-pura hidup mapan, toh yang kelihatan "wah" di negeri ini biasanya cuma para pejabat saat sibuk menariki pajak rakyat.

"Udah kubilang, Nom, minimal kita duduk di warkop langgananku biar agak wibawa dikit," protes Fajar setengah bercanda sambil memutar tutup botol kopi susunya.

Naomi menggeleng tegas. "Enggak mau. Lebih enak duduk ngemper di sini. Lagian, lihat tuh bangunan mangkrak di seberang jalan itu." Naomi menunjuk sebuah proyek gedung beton bertingkat yang mangkrak bertahun-tahun tanpa ada tanda-tanda kehidupan, selain jadi tempat mangkal kucing liar dan tumpukan debu. "Cocok banget kan buat latar tempat kencan kita? Megah tapi tak berpenghuni, mirip janji-janji manis para pengambil kebijakan."

Fajar tergelak. Mereka berdua memang pasangan aneh. Alih-alih membicarakan hal romantis seperti rencana masa depan rumah tangga atau warna cat kamar pengantin, topik obrolan mereka malam itu justru bergeser ke arah yang lebih suram sekaligus menggelitik: merenungkan apakah mereka sempat menikah nanti sebelum negara ini dikuasai penuh oleh orang-orang yang tidak tahu malu.

"Tapi ngomong-ngomong, Nom," celetuk Fajar serius, "kamu yakin mau nerima aku apa adanya? Aku ini kan cuma mahasiswa abadi yang hobi nongkrong dan kantongnya sering bolong."

Naomi menoleh, menatap Fajar lekat-lekat dengan mata menyipit tajam. "Oh, tentu saja aku menerimamu apa adanya. Sungguh! Bahkan, tahu nggak? Sejarah membuktikan aku saja sanggup menerima kenyataan pahit ketika harus dipimpin oleh figur-figur komedik yang kalau ngomong sering ngawur dan tidak terarah, yang walau dulu bikin aku elus dada, toh harus tetap kujalani juga. Apalagi kalau cuma menerima segala kekuranganmu itu? Ah, itu sih cuma masalah kecil."

Fajar mendengus geli. "Wah, perbandingannya telak juga ya."

"Tapi ada syaratnya, Jar," lanjut Naomi dengan nada tegas ala aktivis kampus. "Asal kamu tidak patriarki, tidak ringan tangan, tidak misoginis, tidak anti-kritik... lalu apa lagi ya? Banyaklah. Nanti kusuruh kamu baca daftar panjang soal prinsip-prinsip kemanusiaan mendasar yang anehnya makin hari makin susah dicari wujudnya."

Naomi menarik napas panjang, menyesap kopi manisnya lagi. "Jadi, untuk sekarang, rasanya aku masih mau kok menerimamu. Toh, standar pasangan hidup seharusnya memang sesederhana itu, kan? Aku nggak mau punya pasangan yang kepala batu dan anti-kritik. Soalnya, zaman sekarang, seorang ahli di bidangnya saja bisa dengan gampang dikatai bodoh oleh orang berkuasa, apalagi aku yang cuma rakyat jelata. Takut-takut kalau aku salah ngomong, bukannya naik pelaminan malah jadi buron politik."

Fajar tertawa lepas mendengar ocehan Naomi yang blak-blakan. Di tengah dunia yang serba kaku dan penuh pencitraan, cara Naomi memandang hidup dengan kejujuran yang brutal justru menjadi hal paling menyegarkan yang pernah Fajar temui.

"Oke, kalau begitu lamaranku diterima dong?" tanya Fajar sambil mengangkat botol kopi susunya.

"Eits, jangan buru-buru," balas Naomi menyeringai. "Nanti, kalau kopi botolan kita ini sudah habis, kita cari tukang mie ayam gerobak di ujung jalan sana. Setidaknya, bangsa ini masih punya harapan ekonomi kerakyatan lewat tukang mie ayam. Nah, nanti pas makan mie ayam, kamu wajib duduk manis dengarkan aku berceloteh ria, sambil perhatikan slide presentasi di ponselku tentang strategi membongkar bobroknya sistem yang bikin kamu pusing cari uang."

Naomi menatap Fajar dengan binar mata yang usil sekaligus menantang.

"Kita bedah tuntas kebodohan para penguasa itu sambil ngabisin kerupuk mie ayam. Jadi, bagaimana tawaranku? Sudikan kamu menjadi pendampingku? Dan ngomong-ngomong... kamu masih sanggup minum kopi susu kemasan manis ini kan, calon suamiku?"

Fajar tersenyum lebar, menepuk dadanya pelan. "Selama gulanya belum bikin aku diabetes dan kamu yang nemenin duduk di trotoar, aku seratus persen bersedia, Kamerad Naomi!"

Malam itu, di bawah temaram lampu minimarket dan di samping proyek bangunan mangkrak, tawa mereka melebur bersama angin jalanan, membuktikan bahwa cinta di negeri yang sedang tidak baik-baik saja tidak butuh kemewahan, cukup botol kopi murah, sebungkus mie ayam, dan kewarasan yang dirawat bersama.