Musim kemarau panjang tahun ini tidak hanya membuat tanah di desa retak-retak, tetapi juga memecah kesabaran warga. Di Desa Dengeng-Dengeng, udara terasa panas menyengat, sementara dapur warga dan lahan persawahan sama-sama menjerit karena satu masalah klasik yang kian akut, gas LPG 3 kg mendadak langka dan mahal, disusul oleh penderitaan baru di SPBU tempat antrean BBM subsidi mengular seperti ular kelaparan.
Fajar, mahasiswa KKN dari Universitas Tata Surya yang sedang menjalani masa pengabdian di desa tersebut, ikut berdiri di barisan antrean panjang di SPBU kecamatan bersama puluhan warga lainnya. Matahari membakar punggung, sementara deru mesin kendaraan menambah pekat polusi sore itu.
Di sebelah Fajar, seorang warga paruh baya yang akrab disapa Pak Maman, tampak gelisah sambil menenteng dua jerigen kosong dan satu tabung gas hijau melon yang isinya sudah kosong melompong sejak tiga hari lalu.
"Gila ini, Mas," gerutu Pak Maman sambil menyeka keringatnya dengan handuk kecil di lehernya. "Antre tiga sampai empat jam, pas giliran kita di depan, petugasnya malah bilang BBM subsidi sudah habis. Setelah itu, kita malah diarahkan membeli BBM industri atau nonsubsidi dengan harga yang jauh lebih mahal. Dompet kita ini mana kuat kalau disuruh beli harga sultan!"
Fajar mengangguk pelan. Di dalam kepalanya, Fajar berpikir kritis melampaui keluhan fisik tersebut. Yang harus juga dipertanyakan ialah bagaimana mekanisme pengawasan dan penyaluran BBM subsidi di tingkat SPBU ini? Kenapa stok subsidi bisa menguap begitu cepat sementara kebutuhan masyarakat sedang berada di puncak, terutama saat musim kemarau di mana para petani berebut bahan bakar untuk mesin pompa air?
Kelangkaan gas dan BBM ini memang bukan tanpa sebab. Musim kemarau membuat para petani sawah harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli gas atau bensin demi menyalakan mesin pompa air untuk mengairi tanaman yang terancam mati kekurangan air. Akibatnya, gas melon yang seharusnya jadi hak warga miskin di dapur rumah tangga, kini harus berebut fungsi dengan mesin-mesin traktor dan pompa air di ladang.
Tidak jauh dari kerumunan antrean, tampak Pakde (kepala desa setempat) datang meninjau lokasi bersama beberapa perangkat desa. Melihat Pakde, Pak Maman langsung menarik lengan Fajar.
"Nah, itu ada Pakde. Mas Fajar, kan anak kampus yang pintar, tolong tanyakan ke Pakde. Kenapa desa kita ini kok seperti dikutuk ya? Musim panas susah air, giliran mau nyedot air pakai pompa, gasnya langka. Mau antre bensin buat mesin, habis terus dalam dua jam. Sebenarnya pemerintah di atas itu mikir atau tidak sih?" protes Pak Maman dengan nada frustrasi.
Fajar, yang didaulat sebagai "juru bicara" dadakan oleh warga, akhirnya melangkah mendekati Pakde yang sedang mengelus dada melihat kekacauan di pangkalan dan SPBU.
"Permisi, Pakde," panggil Fajar sopan namun tegas. "Warga di sini sudah mulai resah. Tadi Pak Maman dan warga lainnya bilang, antre BBM subsidi baru berjalan dua-tiga jam sudah ludes, tapi diarahkan beli yang mahal. Ditambah lagi gas 3 kg sekarang harganya melambung tinggi karena diserobot kebutuhan mesin pompa air sawah. Sebenarnya, bagaimana penjelasan dari pemangku kebijakan desa atau kecamatan terkait karut-marut ini?"
Pakde menghela napas panjang. Ia menepuk bahu Fajar, lalu menatap warga yang berkerumun di sekitarnya dengan pandangan lelah.
"Begini, Fajar, dan semuanya," ucap Pakde dengan suara lantang agar didengar warga. "Masalah ini bukan sekadar urusan stok yang sedikit. Musim kemarau panjang ini membuat kebutuhan bahan bakar melonjak dua kali lipat. Petani butuh gas dan bensin untuk mesin pompa air sawah, sementara ibu-ibu butuh gas untuk memasak. Tapi, suplai dari kabupaten tetap sama seperti musim hujan. Hukum pasar berlaku: barang langka, harga naik, dan yang modalnya tipis pasti tersingkir."
Pak Maman mengerutkan keningnya, tampak masih kurang paham dengan penjelasan birokratis tersebut. "Tapi kenapa harus cepat habis di SPBU, Pakde? Apakah ada yang sengaja bermain di belakang?"
Pakde tersenyum pahit. "Nah, itu dia inti masalahnya, Maman. Pengawasan di tingkat pangkalan dan SPBU itu lemah. Sering kali yang mengantre bukan lagi warga yang benar-benar butuh, melainkan para pengepul nakal yang menimbun untuk dijual lagi dengan harga berkali-kali lipat saat malam hari. Kita di tingkat desa hanya bisa mendata, tapi kewenangan penindakan ada di tangan instansi yang lebih tinggi. Program subsidi ini ibarat payung bocor; dipasang buat melindungi rakyat kecil, tapi airnya malah dinikmati oleh mereka yang punya tampungan lebih besar."
Fajar mendengarkan penjelasan itu dengan saksama. Satir dari situasi ini sangat telanjang: di negeri yang gemar membanggakan kesuburan tanahnya, para petani harus mengantre seperti pengemis hanya untuk mendapatkan setetes bahan bakar demi menyelamatkan tanaman mereka dari kekeringan.
"Jadi, solusinya bagaimana, Pakde? Apakah kita harus menunggu sampai hujan turun sendiri tanpa ada tindakan nyata?" tanya Fajar tajam.
"Solusinya adalah gotong royong protes, Jar," jawab Pakde tegas. "Mahasiswa seperti kalian tugasnya bukan cuma bikin plang nama posko KKN, tapi bantu warga menyuarakan borok distribusi ini ke atas. Kalau kita hanya diam menunggu di antrean, sampai pancing patah pun ikan tidak akan naik ke darat."
Fajar terdiam, meresapi setiap kata. Di bawah terik matahari sore di samping pangkalan gas yang kosong, Fajar sadar bahwa pengabdian yang sesungguhnya bukanlah tentang mengajarkan teori pertanian modern di balai desa yang sejuk, melainkan berdiri bersama warga menghadapi antrean panjang dan membongkar sistem yang pincang.
Baca Juga
-
Reuni Kemerdekaan di Warkop: Antara Secangkir Kopi dan Makna Merdeka
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
-
Review Film CODA: Harmoni Keheningan, Musik, dan Cinta Keluarga
-
Forrest Gump: Kebijaksanaan Emosional di Tengah Turbulensi Sejarah
-
Redefinisi Pengabdian: Dari Mahasiswa Kritis Menjadi Mahasiswa Konten
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Dobrak Format Konvensional, Jakal Bookshop Fest 2026 Hadirkan 140 Aktivasi
-
Estetik ala Pinterest Girl, Berikut 5 Trik Pose dan Filter ala Xu Ruohan
-
Kehilangan Binar Masa Kecil: Apakah Menjadi Dewasa Berarti Berhenti Bermimpi?
-
Kucing Merah di Ujung Tanduk: Hutan Kalimantan Terus Kehilangan Penghuninya
-
Pesona Alam di Bawah Bayang-Bayang Ekskavator: 4 Wisata Indonesia yang Terdampak Tambang