Bukan benar-benar bernapas, tentu saja.
Nara tahu bangunan tua tidak seharusnya bernapas. Dinding hanya tersusun dari batu bata, kapur, kayu, dan debu yang mengendap selama puluhan tahun. Namun malam itu, ketika ia berdiri sendirian di lorong belakang Perpustakaan Orion, ia mendengar suara aneh dari balik dinding.
Huuuuh...
Seperti hembusan angin yang terperangkap di dalam sebuah ruangan sempit, membuat langkah Nara terhenti. Jam dinding di ujung lorong menunjukkan pukul sebelas lewat tujuh belas menit malam. Perpustakaan sudah tutup sejak dua jam lalu. Ia seharusnya sudah pulang.
Namun sebagai pengarsip muda yang baru bekerja selama delapan bulan di tempat itu, Nara sudah terbiasa menjadi orang terakhir yang meninggalkan gedung. Ada sesuatu dalam kesunyian perpustakaan tua yang selalu membuatnya betah—bau kertas lama, suara kayu yang berderit, dan ribuan cerita yang tidur di balik rak-rak berdebu.
Malam itu ia sedang mencari dokumen inventaris tahun 1940-an. Dan suara itu datang dari balik dinding.
Nara mendekat, dan menempelkan telinganya. Tidak ada apa-apa, yang terdengar hanya hujan. Ia hendak pergi ketika angin kembali berhembus.
Huuuuh...
Kali ini lebih jelas. Nara pun mengerutkan keningnya. Tangannya meraba permukaan dinding. Batu bata tua terasa dingin. Ketika jemarinya menyusuri bagian bawah rak kayu yang menempel pada dinding, ia menemukan sesuatu. Sebuah celah.
Nara menyorotinya dengan lampu ponsel. Ada bagian dinding yang berbeda warna. Ia mengambil penggaris besi dari meja arsip, kemudian mengetuk perlahan.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan terakhir terdengar kosong.
Nara membeku.
"Jangan-jangan..."
Ia menggeser rak sedikit demi sedikit. Debu beterbangan. Di baliknya terdapat panel kayu kecil yang hampir menyatu dengan dinding. Tidak ada gagang. Hanya sebuah lubang kecil berbentuk persegi.
Nara memasukkan ujung penggaris ke dalam dan menariknya. Panel itu akhirnya terbuka. Udara dingin langsung menerpa wajahnya. Di balik dinding ternyata terdapat ruang sempit, dan di dalamnya ada sebuah kotak kayu.
Nara menatap benda itu dengan jantung berdebar.
Kotak tersebut berwarna hitam kecokelatan, permukaannya penuh goresan. Di bagian atasnya terdapat lambang dua keluarga yang saling berhadapan: seekor burung elang dan bunga teratai.
Namun yang membuat Nara sulit bernapas bukanlah lambang itu. Melainkan sesuatu yang terikat pada kotak.
Benang merah.
Benang tersebut dililitkan berkali-kali hingga membentuk simpul rumit. Nara pernah melihat simpul semacam itu dalam arsip-arsip lama.
Simpul janji.
Sebuah tradisi yang pernah digunakan oleh beberapa keluarga bangsawan dan pemilik tanah di Jawa pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan untuk menandai perjanjian yang dianggap tidak boleh dibatalkan.
Tangannya gemetar ketika membuka kotak. Di dalamnya terdapat puluhan surat. Semuanya ditulis dengan tangan. Kertasnya sudah menguning. Sebagian bahkan rapuh di tepinya. Di bagian paling atas terdapat sebuah tanggal.
17 November 1943.
Nara menelan ludah. Ia membaca surat pertama.
Kepada keluarga Adiwangsa,
Sebagaimana kesepakatan yang telah dibuat di rumah tua Bintang, kami menyerahkan tanah di sebelah utara sungai untuk dikelola bersama. Sebagai gantinya, keluarga Adiwangsa berkewajiban menjaga perpustakaan dan seluruh arsip yang disimpan di dalamnya hingga keturunan terakhir kami tidak lagi membutuhkan perlindungan.
Nara membaca kalimat itu dua kali. Kemudian tiga kali. Ia membalik surat tersebut.
Nama pengirim tercantum di bagian bawah.
Raden Surya Wiranata.
Nama yang sangat dikenalnya. Keluarga Wiranata adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di kota itu. Mereka memiliki perusahaan perkebunan, hotel, rumah sakit, bahkan sebagian besar tanah di pusat kota.
Sedangkan nama Adiwangsa. Nara berhenti. Itu nama keluarga pemilik yayasan yang sekarang mengelola Perpustakaan Orion.
Ia kembali membaca surat berikutnya. Lalu surat ketiga, keempat, dan kelima. Semuanya membicarakan perjanjian yang sama. Tanah, perpustakaan, dan arsip. Sebuah janji yang harus dijaga selama seratus tahun.
Namun semakin jauh Nara membaca, semakin aneh isi surat-surat itu.
Pada tahun 1945, perang berakhir. Pada tahun 1947, salah satu anggota keluarga Wiranata menghilang. Pada tahun 1950, terjadi perselisihan mengenai kepemilikan tanah.
Kemudian surat-surat itu berubah menjadi lebih gelap. Jika mereka mengambil tanah Orion, jangan serahkan arsip. Karena arsip bukan milik keluarga kita. Arsip adalah bukti bahwa kami pernah berjanji.
Nara berhenti membaca. Di luar, petir menggelegar. Lampu perpustakaan berkedip, kemudian mati. Gelap memenuhi ruangan.
Nara menyalakan senter ponselnya. Saat itulah ia melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ada tulisan lain di bagian bawah kotak. Tulisan yang hampir terhapus.
JANJI BERAKHIR PADA TANGGAL 18 NOVEMBER 2026.
Nara melihat tanggal di ponselnya.
15 Agustus 2026.
Tinggal tiga bulan. Ia belum sempat memahami maksudnya ketika suara langkah terdengar dari lorong depan.
Tak.
Tak.
Tak.
Nara mematikan senter. Seseorang berjalan di antara rak-rak. Perpustakaan seharusnya kosong. Ia menggenggam kotak itu erat-erat. Langkah semakin dekat.
Kemudian terdengar suara laki-laki.
"Nona Nara?"
Nara mengenal suara itu. Pak Tarman, kepala perpustakaan.
Gadis itu hampir menghembuskan napas lega. Namun kemudian suara Pak Tarman kembali terdengar.
"Jangan buka kotak itu."
Nara membeku.
"Pak?"
"Keluar dari sana."
Nada suaranya tidak terdengar seperti seorang kepala perpustakaan yang khawatir kepada pegawainya, melainkan terdengar seperti seseorang yang ketakutan. Ia pun keluar dari balik rak.
Pak Tarman berdiri di ujung lorong. Wajah lelaki tua itu pucat. Tatapannya langsung tertuju pada kotak kayu di tangan Nara.
"Di mana kamu menemukannya?"
"Di balik dinding."
Pak Tarman memejamkan matanya.
"Berarti waktunya sudah tiba."
"Apa maksud Bapak?"
Ia tidak menjawab.
Nara mengangkat surat-surat itu.
"Perjanjian apa ini?"
Pak Tarman berjalan mendekat.
"Perjanjian antara Wiranata dan Adiwangsa."
"Kenapa disembunyikan?"
"Karena kalau orang-orang itu tahu arsip ini masih ada, perpustakaan akan dihancurkan."
Nara terdiam.
Pak Tarman menatap jendela. Hujan masih deras.
"Tanah tempat perpustakaan ini berdiri sudah lama diperebutkan. Selama puluhan tahun, kedua keluarga mempertahankan versi mereka masing-masing. Tapi mereka tidak pernah menemukan bukti asli."
Nara menggenggam surat itu.
"Dan sekarang saya menemukannya."
Pak Tarman mengangguk.
"Ya."
"Kenapa mereka ingin menghancurkan perpustakaan?"
"Karena perjanjian itu tidak sekadar tentang tanah."
Nara menatapnya.
Pak Tarman berkata pelan,
"Perjanjian itu menyebutkan bahwa siapa pun yang menguasai tanah Bintang, wajib membuka arsipnya kepada masyarakat. Tidak boleh dijual, tidak boleh dialihkan, dan tidak boleh dijadikan properti komersial."
Nara teringat sesuatu. Beberapa minggu terakhir, muncul kabar bahwa sebuah perusahaan properti akan membeli kawasan tempat perpustakaan berdiri.
Proyek apartemen mewah, dan termasuk hotel. Ia pernah melihat papan pengumuman pembangunan di depan gedung.
"Tapi bukankah yayasan sudah menandatangani kesepakatan?"
"Karena mereka tidak tahu isi perjanjian yang sebenarnya."
Nara terdiam.
"Kalau perjanjian ini terbukti sah..."
"Tanah itu tidak boleh dijual."
"Berarti perpustakaan..."
"Selamat."
Nara menatap kotak di tangannya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia memahami mengapa seseorang menyembunyikan arsip tersebut selama puluhan tahun.
Bukan untuk menyimpan rahasia. Melainkan untuk menunggu waktu yang tepat.
Namun sebelum Nara sempat mengatakan apa pun, suara kaca pecah terdengar dari lantai bawah.
PRANG!
Pak Tarman tersentak, begitupun dengan Nara. Mereka saling menatap satu sama lain.
Kemudian suara langkah kaki berlari terdengar. Bukan hanya satu orang, melainkan lebih dari satu.
"Mereka sudah datang," bisik Pak Tarman.
"Siapa?"
Lelaki tua itu tidak menjawab. Ia menarik tangan Nara.
"Ikut saya."
Mereka berlari menuju ruang arsip lama. Di belakang mereka terdengar suara pintu yang dibuka paksa.
Nara memeluk kotak itu di dadanya. Malam itu, ia baru menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada menemukan rahasia keluarga berpengaruh.
Rahasia yang terkubur selama delapan puluh tiga tahun ternyata masih memiliki orang-orang yang bersedia membunuh untuk menjaganya.
***
Pagi berikutnya, berita tentang Perpustakaan Orion tersebar.
Sebuah kebakaran kecil terjadi di bagian belakang gedung. Tidak ada korban jiwa, namun beberapa dokumen rusak. Pihak yayasan menyebutnya kecelakaan listrik, tapi Nara tahu itu bohong.
Ia duduk di kamar kosnya dengan kotak kayu di atas meja. Surat-surat itu tersebar di sekelilingnya. Sepanjang malam ia membaca semuanya. Dan akhirnya menemukan surat terakhir.
Tanggalnya 18 November 1943.
Ditulis oleh seseorang yang tidak tercatat dalam sejarah keluarga Wiranata maupun Adiwangsa. Namanya Martha Orion. Pendiri perpustakaan.
Isi surat itu hanya beberapa paragraf.
Kepada siapa pun yang menemukan surat ini,
Jika kalian membacanya setelah kami tiada, berarti janji kami belum selesai.
Kami tidak membuat perjanjian untuk mempertahankan kekayaan. Kami membuatnya agar tempat ini tetap menjadi rumah bagi mereka yang kehilangan rumah.
Jika suatu hari ada orang yang datang membawa surat kepemilikan, kontrak, atau uang dalam jumlah besar, jangan percaya sebelum membaca arsip ini.
Sebab tanah dapat berpindah tangan.
Rumah dapat dihancurkan.
Nama keluarga dapat dilupakan.
Tetapi janji yang ditulis oleh orang-orang yang telah mati akan selalu mencari seseorang untuk menagihnya.
Nara menahan napas.
Di bawah surat itu terdapat satu kalimat terakhir.
"Dan jika keturunan kami gagal, serahkan kepada seorang pengarsip."
Nara menatap namanya sendiri di kartu identitas yang tergeletak di meja. Seorang pengarsip. Bukan kebetulan.
Ia membuka bagian bawah kotak. Ada sebuah amplop terakhir yang jauh lebih kecil. Di dalamnya terdapat selembar dokumen. Bukan surat, melainkan akta tanah.
Pemiliknya bukan keluarga Wiranata. Bukan pula keluarga Adiwangsa.
Nama yang tercantum adalah:
Perpustakaan Orion — untuk kepentingan masyarakat.
Dan tepat di bawahnya terdapat tanda tangan dua orang. Raden Surya Wiranata, dan Raden Adiwangsa. Dua orang yang menurut sejarah kota adalah musuh selama puluhan tahun.
Nara terdiam. Selama ini semua orang mengira kedua keluarga itu saling bermusuhan. Ternyata mereka tidak sedang memperebutkan tanah. Melainkan sedang melindunginya.
***
Tiga bulan kemudian, tepat pada 18 November 2026, ruang sidang penuh sesak.
Di satu sisi duduk perwakilan keluarga Wiranata. Di sisi lain keluarga Adiwangsa. Di tengah ruangan terdapat Nara. Di hadapannya, terdapat puluhan kotak arsip.
Bukti-bukti sejarah telah diperiksa oleh ahli. Tanda tangan dinyatakan autentik. Segel tanah cocok dengan dokumen kolonial yang masih tersimpan di arsip negara. Perjanjian itu sah.
Pembangunan proyek properti dibatalkan. Perpustakaan Orion tidak jadi dijual.
Ketika keputusan dibacakan, ruangan dipenuhi suara orang-orang yang menghembuskan napas lega.
Namun Nara justru menatap jendela. Angin bertiup masuk. Lembut. Tidak lagi seperti suara seseorang yang terperangkap di balik dinding. Melainkan seperti seseorang yang akhirnya bebas pulang.
Pak Tarman berdiri di sampingnya.
"Kamu berhasil."
Nara tersenyum kecil.
"Bukan saya."
"Siapa?"
Nara menatap kotak kayu yang kini diletakkan di ruang arsip utama.
"Mereka."
Dua keluarga, dua nama, dua orang yang hidup di zaman berbeda, dan sebuah janji yang membutuhkan waktu hampir satu abad untuk ditepati.
Sore itu, Nara kembali ke lorong belakang perpustakaan. Dinding yang dulu menyembunyikan kotak tersebut kini telah dibuka. Di baliknya tidak ada lagi ruang gelap. Yang ada hanya sebuah jendela kecil yang menghadap pepohonan.
Angin masuk melalui celahnya. Membawa aroma tanah basah dan halaman-halaman buku.
Nara menutup matanya. Untuk sesaat, ia merasa mendengar suara berbisik.
Terima kasih.
Ia membuka mata. Tidak ada siapa-siapa. Hanya angin, dan perpustakaan tua yang masih berdiri.
Rumah bagi mereka yang kehilangan rumah. Rumah bagi cerita-cerita yang hampir dilupakan. Dan rumah bagi sebuah janji yang akhirnya menemukan akhir.
Namun sebelum meninggalkan lorong, Nara melihat sesuatu di lantai. Seutas benang merah. Ia membungkuk dan mengambilnya. Benang itu masih hangat. Di ujungnya terdapat simpul kecil. Sama persis seperti simpul yang dulu mengikat kotak kayu.
Nara tersenyum tipis. Lalu memasukkannya ke dalam buku catatan arsip. Karena sebagai seorang pengarsip, ia tahu satu hal yang tidak pernah diajarkan dalam buku mana pun:
Ada cerita yang memang selesai ketika dibaca. Tetapi ada pula cerita yang baru dimulai setelah seseorang berani membukanya.
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Bukan Sekadar Nyanyi dan Tepuk Tangan: Sisi Lain Perjuangan Menjadi Guru TK
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
-
Desa Les Buleleng Bali Menanam Masa Depan Lewat Konservasi Terumbu Karang
-
Membangun Desa dari Manusianya: Kisah Bli Nyoman dan Desa Sejahtera Astra Les
-
Menelisik Garam Palungan Desa Les: Saat Warisan Leluhur Bertahan di Tengah Modernisasi