Suatu malam, Usman duduk sendirian di ruang tamu rumahnya. Hujan gerimis turun tipis-tipis di luar rumah. Dari dapur terdengar suara ember kecil menampung air bocor yang jatuh dari sela talang.
Laptop tuanya menyala di atas meja jati tua beralaskan marmer putih bercorak samar kehitaman tipis, yang warnanya mulai pudar. Di layar, sebuah artikel tentang “Kutukan Kediri” terbuka setengah terbaca.
Konon, siapa pun yang punya kuasa akan kehilangan kekuasaannya bila melewati Kediri.
Usman tersenyum kecil.
Sudah tiga tahun ia membaca cerita-cerita seperti itu di internet setiap kali pikirannya mulai terlalu penuh. Kadang tentang pesugihan gunung, atau telaga yang dianggap “suci” tempat para elit politik dan artis kungkum. Kadang tentang keraton gaib Laut Selatan, kadang tentang raja-raja Jawa yang takut melintasi kota tertentu. Ia tahu sebagian besar mungkin hanya dongeng yang diwariskan turun-temurun agar hidup terasa lebih misterius.
Akan tetapi, ia selalu beranggapan, seperti kata dosen sejarah filsafat Nusantaranya dulu, seorang profesor lulusan Amerika Serikat, yaitu bahwa “Selalu ada sesuatu di balik mitos manapun.”
Tetapi malam itu, entah mengapa, dadanya terasa sesak ketika membaca nama Kediri.
Ia menutup laptop perlahan.
Lalu ingatannya melayang kembali pada perjalanan tiga tahun lalu.
Tanggal 27 Mei 2023 mereka berangkat dari Yogyakarta menuju Kota Batu, Malang.
Ali duduk di kursi tengah van hitam mereka yang bentuknya menyerupai cockpit pesawat kecil. Ada sandaran tangan di kanan kiri kursi itu, membuat tubuh Ali cukup nyaman selama perjalanan jauh. Annie duduk di sebelahnya sambil sesekali membetulkan posisi kaki Ali yang mulai pegal. Fatimah yang baru berusia dua tahun tidur di pangkuan ibunya sambil menggigiti boneka kelinci yang berpakaian merah muda selayaknya anak perempuan kecil.
Usman menyetir sejak pagi.
Mereka berangkat dari rumah pukul sepuluh pagi, dan sampai di Solo sekitar pukul dua belas siang.
Sebelum masuk tol, mereka sempat berputar-putar hampir lima jam di Solo hanya untuk mencari kartu e-toll. Minimarket demi minimarket kosong. Di SPBU habis. Di gerbang tol antrean kendaraan mengular.
“Udah kayak rebutan sembako ya, Yah,” gumam Annie pelan pada suaminya yang setengah frustrasi.
Usman cuma tertawa kecil di tengah kefrustrasiannya itu sembari memegang setir.
Menjelang sore ia akhirnya membeli kartu itu dari seorang tukang parkir di parkiran sebuah mal. Lima puluh ribu rupiah.
“Baru ada ini, Pak,” kata lelaki itu sambil menyelipkan kartu biru donker campur cerah ke tangan Usman.
Kartu itu kelihatannya masih baru. Isinya tak ada alias kosong. Usman harus membelinya sendiri di gerai minimarket manapun yang menyediakan fasilitas top-up.
Ia tidak menawar, karena tak tahan mendengar keluhan Annie, istrinya, yang sudah lelah berputar-putar tanpa kepastian di Solo.
Hari mulai gelap ketika mereka masuk tol.
Lampu-lampu jalan meluncur panjang di kaca depan mobil. Ali ditugaskan Usman menjadi navigator perjalanan dengan menggunakan fasilitas peta online.
“Ini lurus terus, Yah,” kata Ali tiba-tiba.
“Oke, Li,” jawab Usman menanggapi. Ia paham bahwa di tol memang jalannya lurus terus.
“Nanti Ali kasih tahu ke Ayah ya keluarnya di mana?” ucap Usman pada anak sulungnya itu.
“Oke, Yah,” gumam Ali sambil mengangguk.
Mereka sampai di penginapan Kota Batu sekitar pukul sepuluh malam. Udara dingin menusuk tulang. Dari kejauhan suara musik dari alun-alun terdengar samar tertiup angin.
Untung jalanan dari parkiran ke kamar penginapan sangat bisa diakses oleh kursi roda. Jadi Usman tidak terlalu repot untuk mengangkat Ali dan kursi rodanya.
Empat hari di Batu berjalan biasa saja.
Ali mengikuti acara perpisahan SMP bersama teman-temannya di kawasan penginapan yang terhubung langsung dengan kompleks wisata Jatim Park. Annie berkali-kali memotret anak sulung mereka itu di lorong taman yang dipenuhi bunga warna-warni, di depan kandang-kandang satwa kebun binatang mini, dan di area museum yang lampunya mulai menyala hangat menjelang malam. Sesekali Fatimah bertepuk tangan kecil dan berteriak melihat burung-burung besar yang bergerak di balik pagar besi, sementara Ali tersenyum. Ia kelihatan tenang dari kursi rodanya, walaupun sebenarnya dadanya berdentuman, menunggu pengumuman penerimaan dirinya di sebuah SMA negeri favorit di Yogyakarta.
Usman berjalan mengawasi kedua anaknya itu dari belakang. Mengamati dan menunggu, jika sewaktu-waktu Ali atau Fatimah butuh pertolongannya.
Walaupun sebenarnya dalam hatinya juga berdentuman, memikirkan pekerjaan yang harus ditinggalkannya selama beberapa hari.
Sudah beberapa bulan terakhir suasana kantor terasa aneh. Rapat-rapat mendadak lebih pendek. Pengeluaran mulai dipotong. THR-nya yang seharusnya satu bulan gaji, ternyata hanya dikirim beberapa ratus ribu saja.
Beberapa guru kontrak tidak diperpanjang. Tetapi ia berusaha tidak terlalu memikirkannya.
Ia pula yang disuruh untuk mengabarkan pemberhentian guru-guru malang tersebut. Alasan utamanya adalah mereka kurang bisa bekerja sama dengan tim guru, dan tidak bisa mengikuti ritme kerja yang mulai padat saat masa promosi dan penerimaan siswa baru berlangsung.
Ia masih School Manager saat itu.
Masih punya ruangan sendiri, walaupun tidak besar.
Sebenarnya bukan ruangan sendiri, melainkan ruang bersama dengan kursi kantor yang agak nyaman. Ruangan itu ia tempati dengan lima orang staf dari unit perusahaan yang bergerak di bidang sekolah vokasi.
Usman mengurusi unit perusahaan level prasekolah dan sekolah dasar.
Masih dipanggil “Pak Usman” oleh staf-staf muda yang berada satu ruang bersamanya.
Mereka selalu dibawakan Usman bungkusan wafer atau biskuit cokelat untuk dimakan bersama-sama.
Saat itu, Usman masih percaya hidupnya aman.
Mereka kemudian pulang ke Jogja tanggal 1 Juni.
Kali ini Usman memilih tidak langsung masuk tol. Jalanan lebih lengang. Mereka melewati kota-kota kecil yang mulai menguning diterpa matahari sore, selepas siang yang memanggang.
Ali tertidur di kursi tengah.
Fatimah rewel karena cuaca panas. Untuk itu, Usman harus membesarkan AC mobil supaya lebih dingin.
Sebenarnya mereka hendak melewati jalur yang sama seperti ketika berangkat ke Batu beberapa hari sebelumnya. Usman mengandalkan Google Maps untuk menunjukkan jalan yang harus mereka tempuh.
Namun menjelang masuk Kediri, aplikasi itu tiba-tiba bermasalah.
Peta di layar telepon genggamnya beberapa kali berputar sendiri. Jalur yang sebelumnya berwarna biru mendadak menghilang, kemudian muncul kembali dengan arah yang berbeda.
Usman sempat menghentikan mobil di pinggir jalan untuk memastikan rute.
“Kenapa, Yah?” tanya Annie.
“Maps-nya error.”
Ia mencoba membuka kembali aplikasi tersebut. Tidak berhasil. Beberapa kali ia mematikan dan menyalakan data internet, tetapi peta tetap tidak menunjukkan jalur yang seharusnya.
Akhirnya Usman memilih mengikuti jalan yang terbuka di depannya.
Ia tidak tahu bahwa jalan itulah yang kemudian membawa mereka melewati Kediri.
Menjelang Ashar mereka memasuki Kediri.
Usman tidak terlalu memperhatikan kota itu. Hanya lampu merah, papan toko, masjid tua, dan deretan warung di pinggir jalan yang lewat perlahan di balik kaca mobil.
Tetapi entah mengapa suasananya terasa muram baginya.
Padahal langit sedang cerah.
Di lampu merah dekat jembatan, di halaman sebuah minimarket tempat ia berhenti sebentar guna membeli minum untuk keluarganya, Annie dan dua orang anak mereka, telepon genggam Usman bergetar.
Pesan WhatsApp dari HRD.
Usman segera membukanya, tetapi pesan itu tidak bisa terbuka. Sinyal di telepon genggamnya tiba-tiba menghilang.
Ia mencoba beberapa kali.
Tetap tidak bisa.
“Kenapa?” tanya Annie.
“Dari HRD.”
“Kenapa?”
Usman menggeleng pelan.
Ia sebenarnya mulai khawatir. Beberapa hari sebelumnya, ia baru saja membantu mencarikan seorang guru bahasa Inggris native untuk sekolah. Jangan-jangan guru itu tiba-tiba mogok mengajar atau ada persoalan lain yang tidak diketahuinya.
Ia kembali mencoba membuka pesan tersebut.
Tidak bisa.
Usman menghela napas.
“Mungkin soal guru bahasa Inggris native yang kucarikan beberapa waktu yang lalu.”
Lampu hijau menyala.
Mobil kembali bergerak perlahan meninggalkan Kediri.
Baru setelah melewati kota itu, Usman masuk tol lagi.
Malam turun sedikit demi sedikit.
***
Keesokan harinya, selepas Ashar, Usman duduk di ruang meeting kecil di lantai dua kantor pusat perusahaan, yang terletak sekitar beberapa kilometer dari sekolah.
Pendingin ruangan terlalu dingin.
Di depannya, HRD itu—seorang perempuan muda yang usianya jauh di bawah Usman—tampak gugup sambil merapikan jilbabnya berkali-kali.
“Maaf ya, Pak… kondisi perusahaan lagi sulit.”
Usman mendengar sisanya seperti suara dari ruangan lain.
Efisiensi.
Pemangkasan.
Keuangan seret.
Terima kasih atas pengabdiannya.
Kalimat-kalimat itu seperti beterbangan di atas meja selayaknya kertas-kertas tipis yang tak benar-benar bisa ia tangkap.
Saat keluar dari kantor pusat, menjelang magrib yang tidak terlalu panas dan agak gersang, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak tahu harus pergi ke mana.
Untungnya sebuah pesan WhatsApp dari seniornya, seorang pengacara, Pak Sukirman, menyadarkan Usman dari kebingungannya.
Pak Sukirman mengajak bertemu karena kangen sudah beberapa tahun tak bersua.
Bersamanya Usman kemudian menyusun rencana untuk menggugat perusahaan yang telah memperlakukannya semena-mena ini.
***
Tiga tahun sudah berlalu sejak hari itu.
Kini Usman mengajar paruh waktu di beberapa kampus. Kadang mengurus website pesantren yang dikelola oleh seniornya, Gus Ramzy, pimpinan salah satu pondok pesantren di Yogyakarta. Kadang menulis artikel yang honornya bahkan tidak cukup untuk membayar listrik bulanan.
Mobil van yang dulu mereka pakai ke Batu sudah dijual, untuk menutup biaya hidup mereka sehari-hari, karena penghasilan bulanannya sangat jauh dari cukup.
Ali kini sudah lulus SMA, dan sedang menunggu wisuda serta pengumuman hasil tes penerimaan mahasiswa baru di beberapa kampus negeri di Yogyakarta.
Fatimah sudah tidak lanjut sekolah lagi, padahal umurnya hampir lima tahun. Karena masih belum bisa berbicara, maka mereka harus membayar asisten pendamping di sekolah tempat Fatimah bersekolah sebelumnya.
Celakanya, asisten pendamping terakhir lalai, hal yang mengakibatkan Fatimah sempat jatuh dari tangga sekolah dan harus dilarikan ke IGD sebuah rumah sakit swasta.
Sejak itu, Usman dan Annie memutuskan untuk hanya menerapi Fatimah di sebuah rumah sakit dekat rumah, supaya ia bisa berbicara dulu.
Sedangkan Annie mulai sering diam.
Kadang di malam hari Usman mendengar istrinya menangis pelan di atas sajadah, ketika mengira semua orang sudah tidur.
Hujan di luar rumah semakin deras.
Usman membuka kembali laptopnya.
Artikel tentang Kutukan Kediri masih terbuka di layar.
Konon siapa pun yang punya kuasa akan kehilangan kekuasaannya bila melewati Kediri.
Usman memandangi kalimat itu lama sekali.
Tiga tahun lalu ia sebenarnya tidak berniat melewati kota itu.
Kalau saja Google Maps tidak tiba-tiba bermasalah, ia mungkin akan melewati jalan yang sama seperti ketika berangkat ke Batu.
Kalau saja sinyal teleponnya tidak menghilang, mungkin ia sudah membaca pesan HRD itu sejak masih berada di Kediri.
Dan kalau saja pesan itu bisa dibukanya saat itu, mungkin ia akan tahu bahwa hidupnya sedang menuju ke mana.
Usman tersenyum hambar.
Ia tidak tahu apakah semua itu hanya kebetulan.
Atau memang ada sesuatu yang sudah menunggunya di kota itu.
Lalu perlahan ia menutup laptop.
Pikirannya sudah lelah dan hampir buntu, mengingat bahwa uang di rekeningnya hanya tinggal lima puluh ribu rupiah saja, sementara hari baru tanggal 17.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Masjid Al-Alawi Banjarmlati, Sokoguru Penjaga Jejak Arsitektur Jawa Kediri
-
Masjid At Taqwa Pare, Lebih Seabad Berdiri Menjaga Jejak Sejarah Kediri
-
KPK Ungkap 3 Moge Gatot Bea Cukai Dibeli Pakai Dana Operasional
-
Bukan Cuma 3 Moge, KPK Juga Sita Duit Rp 2,8 Miliar dalam Kasus Bea Cukai
-
Keluar Pakai Rompi Oranye, Kepala Bea Cukai Kediri Langsung Ditahan KPK
Cerita-misteri
Terkini
-
Niat Cari Hiburan dan Ketawa, Saya Malah Ngantuk Nonton Film Harusnya Horror
-
Berhenti Mengejar Jadi Ibu Sempurna! Buku Ini Mengajarkan Hal Lebih Penting
-
Dari Lemari Pengap Menuju Kebebasan: Membaca The War That Saved My Life
-
Review Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island, Imut dan Gelap
-
The Ramparts of Ice Season 2 Rilis Trailer Perdana, Kisah Cinta Makin Rumit