Kalimat itu terdengar sederhana ketika diucapkan, tetapi entah mengapa terasa begitu berat ketika benar-benar harus dihadapi.
Selama hampir empat tahun, kampus ini menjadi tempat kami menghabiskan sebagian besar waktu. Kami datang dengan wajah mengantuk di pagi hari, mengeluh tentang tugas, berebut tempat duduk di kantin, belajar bersama menjelang ujian, bahkan beberapa kali tertidur di perpustakaan karena terlalu lelah.
Namun sekarang, semuanya akan segera berakhir. Setelah kelulusan, tidak akan ada lagi alasan untuk bertemu setiap hari.
Tidak ada lagi pesan singkat yang berbunyi, “Kelas jam berapa?”
Tidak ada lagi ajakan mendadak untuk makan setelah kuliah.
Tidak ada lagi perdebatan tentang siapa yang harus mengerjakan bagian tersulit dari tugas kelompok.
Kami akan memiliki kehidupan masing-masing. Dan mungkin, itulah bagian paling menakutkan dari menjadi dewasa. Bukan tentang bertambahnya usia. Melainkan menyadari bahwa orang-orang yang selama ini berjalan di samping kita perlahan akan mengambil jalan yang berbeda.
“Jadi… setelah ini kita bakal jarang ketemu, ya?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut Daniel ketika kami sedang duduk di kantin kampus.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Naya masih menatap layar laptopnya. Dimas sibuk memainkan sedotan di gelas es kopinya. Sementara aku hanya memandang halaman kampus dari balik jendela.
“Kayaknya begitu,” jawab Naya akhirnya.
“Aku bulan depan mulai kerja di Jakarta,” lanjutnya. “Kemungkinan besar bakal sibuk.”
“Aku juga pulang ke Surabaya,” kata Dimas. “Dosenku sudah menawarkan posisi sebagai asisten penelitian.”
Daniel mengangguk pelan, “Kalau aku nerusin usaha Ayah.”
Kemudian ketiganya menatapku. Aku mengangkat bahu. “Aku belum tahu.”
Daniel terkekeh. “Masih belum berubah, ternyata.”
“Apa?”
“Dari semester satu sampai sekarang, kalau ditanya mau jadi apa, jawabanmu selalu belum tahu.”
Aku ikut tertawa kecil. “Memangnya salah?”
“Nggak.”
Daniel bersandar di kursinya. “Cuma lucu aja. Kita dulu masuk kuliah sambil punya banyak mimpi. Sekarang tinggal seminggu lagi lulus, malah sebagian dari kita bingung harus ke mana.”
Aku terdiam. Mungkin dia benar. Dulu kami berpikir setelah lulus semuanya akan menjadi jelas. Kami akan mendapatkan pekerjaan impian, hidup mandiri, memiliki cukup uang, bepergian ke berbagai tempat, dan menjadi orang dewasa yang tahu apa yang sedang dilakukan. Ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ada yang sudah memiliki pekerjaan. Ada yang memilih melanjutkan pendidikan. Ada yang kembali ke keluarga. Dan ada yang masih mencari keberanian untuk memilih, seperti diriku.
Sore itu, kami kembali ke ruang kelas yang sudah hampir kosong.
Daniel tiba-tiba membuka salah satu laci meja paling belakang. “Eh, lihat ini!” Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sudah berdebu.
“Apa itu?” tanyaku.
Daniel meniup debunya hingga membuat kami semua batuk. “Jangan bilang kalian lupa.”
Laki-laki itu membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang dilipat.
Aku mengambil salah satunya. Begitu membukanya, aku langsung tertawa. “Ya ampun.”
Tulisan tangan kami berempat memenuhi kertas itu. Daftar keinginan yang kami buat ketika masih menjadi mahasiswa baru.
Saat itu kami baru mengenal satu sama lain. Kami duduk di kelas yang sama karena kebetulan mendapat kelompok tugas yang sama. Setelah tugas selesai, entah bagaimana kami menjadi dekat.
Kemudian suatu malam, kami membuat daftar berisi hal-hal yang ingin kami lakukan sebelum lulus. Sebagian besar sangat sederhana.
Makan ramen tengah malam. Menonton matahari terbit bersama. Pergi ke pantai. Naik kereta tanpa menentukan tujuan. Menginap bersama. Foto di depan gedung rektorat saat kelulusan.
Aku membaca daftar itu sampai bagian paling bawah. Ada satu kalimat yang membuat tawaku perlahan menghilang.
Jangan sampai kita saling melupakan.
“Berapa yang sudah kita lakukan?” tanya Dimas.
Naya mengambil kertas itu dan menghitung.
“Dua.”
“Dua?”
“Ya. Ramen tengah malam sama menginap.”
Daniel langsung berdiri. “Berarti masih banyak.”
“Terus?”
Daniel menatap kami dengan senyum lebar. “Kita punya tujuh hari.”
Aku mengerutkan kening. “Jangan bilang…”
“Kita selesaikan semuanya.”
Hari pertama, kami makan ramen tengah malam—lagi.
Hari kedua, kami naik kereta tanpa menentukan tujuan. Kami turun di sebuah kota kecil yang tidak pernah kami kunjungi sebelumnya. Kami berjalan tanpa arah, membeli makanan dari pedagang kaki lima, lalu tertawa karena menyadari kami bahkan tidak tahu bagaimana cara kembali ke stasiun.
Hari ketiga, kami pergi ke pantai. Kami tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian seadanya, kamera ponsel, dan uang secukupnya. Kami duduk di pasir sampai matahari hampir tenggelam.
Hari keempat, kami menginap di rumah Naya. Kami berbicara sampai dini hari tentang hal-hal yang selama ini jarang kami ceritakan. Tentang ketakutan, tentang keluarga, tentang kegagalan, tentang orang-orang yang pernah kami sukai, dan tentang masa depan yang ternyata jauh lebih menakutkan daripada yang kami bayangkan.
Hari kelima, kami pergi ke bukit kecil di belakang kota untuk melihat matahari terbit. Kami datang terlalu pagi. Daniel tertidur. Dimas mengeluh kedinginan. Dan Naya sibuk memotret langit.
Sementara aku hanya duduk diam, memandangi warna jingga yang perlahan muncul di balik cakrawala.
“Indah,” bisikku.
“Lebih indah kalau nggak harus bangun sepagi ini,” gumam Daniel.
Kami semua tertawa. Dan saat itu aku berpikir, mungkin kebahagiaan memang sesederhana ini. Tidak perlu sesuatu yang luar biasa. Cukup empat orang yang tepat.
Hari keenam menjadi hari yang berbeda. Kami kembali ke kampus. Tempat itu terasa lebih sepi dari biasanya. Kami berjalan melewati koridor tempat kami pernah berlari ketika terlambat masuk kelas.
Melewati perpustakaan tempat kami menghabiskan malam. Melewati kantin tempat kami pertama kali menjadi teman. Kemudian kami berhenti di depan ruang kelas pertama yang pernah kami gunakan bersama.
“Cepat banget,” kata Naya.
“Apa?”
“Empat tahun.”
Dimas mengangguk.
“Rasanya baru kemarin kita masih bingung cari gedung kelas.”
Daniel tersenyum.
“Dan sekarang kita bingung cari jalan hidup.”
Tidak ada yang tertawa. Karena kalimat itu terlalu benar.
Kami duduk di lantai koridor. Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.
“Aku takut,” kata Naya tiba-tiba.
Kami menoleh.
“Takut apa?”
“Takut kalau setelah ini kita benar-benar berubah.”
Ia menunduk.
“Takut nanti kita terlalu sibuk sampai lupa menghubungi satu sama lain. Terus lama-lama cuma jadi orang yang saling melihat story.”
Daniel tertawa kecil.
“Bukannya itu memang kehidupan orang dewasa?”
“Jangan bercanda.”
“Aku nggak bercanda.”
Ia menatap kami.
“Memangnya kita harus selalu bersama supaya tetap berteman?”
Naya diam.
Dimas tersenyum.
“Orang bisa pergi jauh tanpa benar-benar pergi dari hidup kita.”
Aku menatap ketiganya. Mungkin mereka benar. Selama ini aku mengira persahabatan berarti selalu berada di tempat yang sama. Ternyata tidak.
Mungkin persahabatan adalah ketika seseorang bisa pergi mengejar mimpinya, sementara kita tetap berharap dia berhasil.
Hari ketujuh akhirnya tiba. Hari terakhir sebelum kelulusan.
Kami berdiri di depan gedung rektorat. Tempat yang tertulis di daftar keinginan kami sejak semester pertama. Daniel mengeluarkan kertas lama itu. Sebagian tulisannya sudah memudar. Ia menyerahkannya kepadaku.
Aku membaca satu per satu daftar tersebut. Hampir semuanya sudah kami coret. Tinggal satu. Foto di depan gedung rektorat saat kelulusan.
“Sudah siap?” tanya Dimas.
Aku mengangguk.
Kami berdiri berdampingan.
Naya memasang kamera dengan timer.
Sepuluh detik.
Sembilan.
Delapan.
Aku memandang mereka.
Tujuh.
Enam.
Aku tiba-tiba merasa ingin menangis.
Lima.
Empat.
Aku tahu setelah hari ini semuanya akan berubah.
Tiga.
Mungkin kami tidak akan lagi duduk bersama setiap minggu.
Dua.
Mungkin percakapan kami akan semakin jarang.
Satu.
Klik.
Satu foto berhasil mengabadikan empat orang yang berdiri berdampingan untuk terakhir kalinya sebagai mahasiswa.
Setelah itu, kami terdiam.
Daniel menatap kami.
“Jadi… selesai?”
Naya menggeleng.
“Daftarnya selesai.”
Dimas tersenyum.
“Persahabatannya belum.”
Aku tertawa sambil menghapus sudut mataku.
Kemudian kami saling berpelukan. Tidak ada janji bahwa semuanya akan tetap sama. Tidak ada janji bahwa kami akan selalu punya waktu. Tidak ada janji bahwa kami tidak akan pernah berubah. Kami hanya berjanji satu hal.
Kalau suatu hari nanti salah satu dari kami berhasil mencapai mimpinya, yang lainnya harus menjadi orang pertama yang ikut bahagia.
Keesokan harinya, kami mengenakan toga.
Aku berdiri di tengah kerumunan mahasiswa yang sibuk mengambil foto bersama keluarga. Di tanganku ada sebuah kertas kecil. Daftar keinginan yang kami buat empat tahun lalu.
Aku membaliknya. Di bagian belakang, ada tulisan yang baru kami tambahkan semalam.
Tidak apa-apa kalau jalan kita berbeda. Tidak apa-apa kalau suatu hari kita jarang bertemu. Yang penting, jangan pernah menganggap perjalanan kita bersama sebagai sesuatu yang sia-sia.
Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi takut dengan masa depan. Aku memang belum tahu akan menjadi apa. Tetapi sekarang aku mengerti bahwa tidak semua orang harus memiliki tujuan yang jelas di usia yang sama.
Ada yang berlari. Ada yang berjalan. Ada yang berhenti sebentar untuk mencari arah. Dan itu tidak membuat perjalanan siapa pun menjadi lebih rendah.
Kami hanya sedang menuju tempat yang berbeda. Ketika upacara selesai, aku melihat tiga sahabatku dari kejauhan.
Naya melambaikan tangan. Dimas tersenyum. Daniel mengangkat kamera.
Aku membalas lambaian mereka.
Kemudian kami mengambil satu foto lagi. Bukan sebagai mahasiswa. Melainkan sebagai empat orang yang pernah tumbuh bersama.
Mungkin setelah ini kami akan menjalani kehidupan masing-masing. Mungkin jarak akan membuat semuanya tidak lagi sama. Namun aku percaya, ada beberapa pertemuan yang tidak pernah benar-benar berakhir.
Sebab sebagian orang tidak ditakdirkan untuk tinggal selamanya di samping kita. Mereka datang untuk menemani satu bagian perjalanan, meninggalkan kenangan, lalu pergi mengejar jalan mereka sendiri.
Dan jika suatu hari nanti kami bertemu kembali, aku berharap kami masih bisa duduk di meja yang sama, tertawa seperti dulu, lalu berkata—
“Ternyata kita sudah berhasil sampai sejauh ini.”
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Mengenal Fakfak, Surga Pala di Papua Barat yang Kini Dikepung Api
-
5 Pilihan Film Bioskop Pekan Ini, Temukan Tontonan Seru Akhir Pekanmu di Sini!
-
All Wishes Come True! Sajikan Kisah Ajaib Pengabul Impian yang Mengharukan
-
Sabet 2 Piala, NCT 127 Raih Posisi Pertama di Music Core Lewat Lagu Blingy
-
Dugaan E-Waste di Batam: Saat Indonesia Jadi Tempat Transit Sampah Dunia