M. Reza Sulaiman | Puji Astuti
Ilustrasi Gambar Kereta Terakhir Pukul Sembilan Malam (Sumber Gambar Gemini AI/Nano Banana)
Puji Astuti

Pada siang hari, tempat itu dipenuhi langkah kaki terburu-buru, suara pengumuman yang bersahutan, dan orang-orang yang mengejar kereta seolah beberapa detik keterlambatan bisa menentukan nasib mereka.

Namun, setelah pukul sembilan, semuanya terasa lebih lambat.

Tidak benar-benar sepi, tetapi cukup lengang untuk membuat seseorang menyadari betapa lelahnya tubuh mereka sendiri.

Di antara kereta terakhir yang masih beroperasi malam itu, seorang perempuan bernama Linda hampir selalu duduk di kursi yang sama.

Gerbong ketiga dari belakang, di sisi kiri, di kursi dekat jendela.

Ia menyukai tempat itu karena dari sana, ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca ketika kereta melaju melewati bagian kota yang gelap.

Malam itu pun sama.

Linda menjatuhkan tubuhnya ke kursi dan mengembuskan napas panjang. Tas kerjanya diletakkan di pangkuan. Sepatu hak rendah yang dikenakannya sejak pagi terasa seperti dua benda asing yang menempel di kakinya.

Ponselnya tinggal tiga persen. Ia menatap layar sebentar. Ada tujuh pesan dari grup kantor. Tiga email yang belum dibalas. Satu pesan dari ibunya, dan sebuah notifikasi tagihan yang sengaja ia abaikan sejak sore.

Linda mematikan layar.

"Besok saja."

Ia mengatakan itu pada dirinya sendiri. Padahal ia tahu, besok akan membawa masalah yang sama.

Pintu gerbong tertutup. Kereta pun mulai bergerak. Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki masuk dan duduk tepat di seberangnya.

Linda mengenal wajah itu. Bukan karena mereka pernah berkenalan.

Justru karena mereka tidak pernah berkenalan.

Laki-laki itu hampir selalu naik dari stasiun yang sama dengannya. Kemeja putih, celana hitam, tas kerja berwarna cokelat tua, dan wajah yang setiap malam terlihat semakin lelah.

Kadang ia membaca sesuatu dari ponselnya. Kadang hanya menatap kosong ke luar jendela. Bahkan mereka sudah duduk berhadapan selama hampir tiga minggu. Dan tidak pernah sekalipun berbicara.

Malam itu, laki-laki tersebut sedang menatap ponselnya dengan dahi berkerut. Lalu ia menghela napas.

"Kenapa?"

Linda tanpa sadar bertanya.

Laki-laki itu mendongak.

"Hm?"

Linda menunjuk ponselnya.

"Kelihatannya seperti mau meledak."

Untuk pertama kalinya, laki-laki itu tersenyum.

"HP saya."

"Oh."

"Bukan saya."

Linda tertawa kecil.

"Kirain dua-duanya."

Senyumnya semakin lebar.

"Saya Davin."

"Linda."

Itulah percakapan pertama mereka. Tidak penting, tidak istimewa, namun sejak malam itu, keduanya tidak lagi sepenuhnya menjadi orang asing.

***

Seminggu kemudian, Linda lupa membawa pengisi daya.

Ponselnya tinggal dua persen. Ia sudah pasrah ketika Davin tiba-tiba mengeluarkan kabel dari dalam tas.

"Kalau mau, pakai."

Linda menatap kabel itu.

"Kamu enggak takut saya bawa kabur?"

"Kalau dibawa kabur, berarti saya punya alasan buat mengejar kamu."

Linda mengangkat alisnya.

"Kejar sampai mana?"

"Stasiun terakhir."

Linda tertawa.

"Romantis sekali."

"Saya cuma butuh kabel."

"Sayang sekali."

Davin tertawa pelan.

Sejak malam itu, kabel pengisi daya menjadi semacam perjanjian tidak tertulis di antara mereka.

Kadang Linda yang membawa, kadang Davin, dan kadang mereka bertukar charger sambil berbicara tentang hal-hal yang tidak penting.

Tentang kopi yang terlalu pahit. Tentang atasan yang mengirim pesan di luar jam kerja. Tentang harga makan siang yang semakin mahal. Tentang kereta yang terlambat. Dan tentang betapa menyebalkannya hari Senin.

Lalu, perlahan, percakapan mereka mulai berubah.

"Kenapa kamu selalu pulang malam?"

Suatu malam Davin bertanya.

Linda menatap pantulan wajahnya di jendela.

"Kerjaan."

"Setiap hari?"

"Hampir."

"Kamu enggak capek?"

Linda terdiam, kemudian ia tersenyum tipis.

"Capek."

"Terus?"

"Ya pulang."

Jawaban itu membuat Davin terdiam.

Linda menoleh.

"Kenapa?"

"Enggak."

Davin menatap keluar jendela.

"Saya juga begitu."

Tidak ada nasihat, tidak ada kalimat motivasi, dan tidak ada ucapan, kamu harus lebih kuat. Hanya dua orang yang sama-sama mengakui bahwa mereka lelah.

Aneh sekali.

Ternyata kadang-kadang, seseorang tidak membutuhkan solusi. Ia hanya membutuhkan orang lain yang berani mengatakan,

"Saya juga capek."

***

Bulan berikutnya, Linda mengetahui bahwa Davin sedang mencari pekerjaan baru.

Perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan.

"Takut?"

Linda bertanya.

Davin mengangguk.

"Banget."

"Kamu kelihatannya tenang."

"Itu karena saya enggak tahu harus panik seperti apa."

Linda tertawa.

"Ternyata kamu bisa bercanda juga."

"Saya serius."

Mereka tertawa bersama. Namun setelah itu, suasana kembali hening. Kereta memasuki terowongan. Wajah mereka menghilang dari kaca. Dalam gelap, suara roda kereta terdengar lebih jelas.

Linda akhirnya berkata,

"Sebenarnya saya juga takut."

Davin menoleh.

"Takut apa?"

Linda menggenggam tali tasnya.

"Takut hidup saya begini-begini saja."

Ia menarik napas.

"Bangun pagi, kerja, pulang malam, tidur. Besok ulang lagi."

Davin tidak menjawab.

Linda melanjutkan.

"Dulu saya kira kalau sudah dewasa, hidup bakal lebih bebas."

Ia tersenyum pahit.

"Ternyata cuma punya lebih banyak tagihan."

Davin tertawa.

"Dan lebih banyak password."

Linda ikut tertawa.

Tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku kadang kangen jadi anak kecil."

"Kenapa?"

"Karena dulu masalah terbesar saya cuma dimarahi Ibu kalau pulang terlalu sore."

Davin menundukkan kepalanya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Kemudian ia berkata pelan,

"Kalau saya, saya kangen saat belum tahu harga kebutuhan pokok."

Linda tertawa di antara air matanya.

"Parah."

"Realistis."

Malam itu, mereka tertawa cukup lama. Bukan karena hidup mereka lucu. Melainkan karena kalau tidak tertawa, mungkin mereka akan menangis.

***

Waktu terus berjalan. Kereta pukul sembilan malam tetap menjadi tempat pertemuan mereka.

Kadang mereka berbicara, kadang juga tidak.

Ada malam ketika Linda terlalu lelah untuk membuka percakapan. Davin sendiri hanya meletakkan sebungkus permen di atas meja kecil di antara mereka.

Ada malam ketika Davin terlihat murung.

Linda tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menyodorkan earphone sebelah.

"Musik?"

Davin menerimanya.

"Musik."

Mereka duduk dalam diam, mendengarkan lagu yang sama sambil melihat lampu-lampu kota bergerak seperti garis panjang di balik jendela.

Tidak ada yang berusaha memperbaiki hidup siapa pun.

Mereka hanya menemani.

Dan mungkin, itulah bentuk persahabatan yang paling sederhana.

***

Suatu Jumat malam, Linda datang terlambat.

Ia berlari memasuki gerbong tepat ketika pintunya hampir tertutup. Napasnya tersengal.

"Selamat malam."

Davin menatapnya.

"Kamu telat."

"Rapat."

"Jam segini masih rapat?"

Linda menjatuhkan dirinya ke kursi.

"Bos saya pikir kita semua punya baterai cadangan."

Davin tertawa.

Lalu Linda menyadari sesuatu. Di tangan pria itu ada sebuah amplop.

"Apa itu?"

Davin tersenyum.

"Saya diterima kerja."

Linda terdiam.

"Serius?"

Davin mengangguk.

"Mulai bulan depan."

Linda spontan tersenyum lebar.

"Selamat!"

"Terima kasih."

Untuk beberapa saat, mereka hanya tersenyum.

Namun kemudian Linda menyadari ada sesuatu yang terasa ganjil.

"Berarti..."

"Iya."

Davin mengangguk.

"Perusahaan barunya beda arah."

Linda menatapnya.

"Jadi kamu enggak naik kereta ini lagi?"

"Mungkin sesekali."

Jawaban itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang seharusnya. Padahal mereka baru mengenal satu sama lain selama beberapa bulan. Padahal mereka tidak pernah membuat janji. Padahal hubungan mereka hanya dibangun dari kursi kereta, kabel charger, obrolan pendek, dan perjalanan pulang.

Namun Linda tiba-tiba menyadari bahwa ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan untuk tinggal selamanya.

Mereka datang hanya untuk menemani satu bagian dari perjalanan.

Dan ketika bagian itu selesai, mereka harus turun di stasiun masing-masing.

***

Malam terakhir, Davin naik kereta itu. Mereka duduk berhadapan seperti biasa tanpa banyak bicara.

Kereta bergerak melewati gedung-gedung tinggi. Lampu kota berkelip di kejauhan.

Linda mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kabel pengisi daya. Ia meletakkannya di depan Davin.

"Ini buat kamu."

Davin menatap benda itu.

"Kenapa?"

"Supaya kamu ingat pernah punya teman yang selalu menyelamatkan HP kamu."

Davin tersenyum.

"Saya kira saya yang selalu menyelamatkan HP kamu."

"Enggak usah merusak momen."

Mereka tertawa.

Sesaat kemudian, Davin memasukkan kabel itu ke dalam tas.

"Terima kasih, Linda."

"Sama-sama."

Pengumuman terdengar. Stasiun mereka semakin dekat.

Linda menatap jendela. Pantulan wajahnya terlihat lebih dewasa dibandingkan beberapa bulan lalu. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa terlalu takut melihatnya.

Mungkin hidup memang akan tetap melelahkan. Tagihan tetap datang, pekerjaan tetap menunggu, dan pagi akan tetap memaksa mereka bangun sebelum tubuh benar-benar siap.

Tetapi setidaknya sekarang Linda tahu sesuatu.

Di tengah kota yang begitu ramai, ternyata ada seseorang yang pernah duduk di seberangnya dan berkata,

"Saya juga capek."

Dan entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat perjalanan pulang terasa sedikit lebih ringan.

Kereta berhenti, dan pintu pun terbuka.

Davin berdiri.

"Sampai ketemu lagi."

Linda tersenyum.

"Sampai ketemu."

Davin melangkah keluar. Pintu kembali tertutup. Kereta bergerak meninggalkan stasiun.

Linda masih menatap tempat Davin berdiri beberapa detik sebelumnya. Kemudian ia bersandar pada kursinya. Ponselnya menunjukkan baterai dua persen.

Linda tersenyum kecil. Kali ini, ia tidak panik. Ia memasukkan tangan ke dalam tas. Masih ada charger. Hadiah dari seseorang yang dulu tidak ia kenal.

Kereta terus melaju menuju stasiun terakhir.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Linda tidak merasa bahwa ia sedang pulang sendirian.