M. Reza Sulaiman | Puji Astuti
Ilustrasi Gambar Aroma Buku dan Aroma Vanila (Sumber Gambar Gemini AI/Nano Banana)
Puji Astuti

Kadang terdengar bunyi berderit dari lantai kayu. Kadang suara tetesan air jatuh dari atap yang bocor. Bahkan pintu depan pun akan berdecit panjang, seolah-olah mengeluh karena harus bekerja lebih keras daripada biasanya.

Namun, bagi Leon, semua suara itu telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Sudah hampir tiga tahun ia menjaga sebuah toko buku bekas yang diwariskan oleh pamannya. Toko itu tidak besar. Rak-raknya berdiri rapat, sebagian telah miring karena dimakan usia. Aroma kertas tua memenuhi setiap sudut ruangan, bercampur dengan debu dan sedikit bau kayu lembap.

Leon menyukainya. Baginya, toko buku itu bukan sekadar tempat menjual buku. Tempat itulah ia menghabiskan sebagian besar hidupnya. Sampai seseorang datang dan mengusik ketenangan yang selama ini ia miliki.

"Mas Leon!"

Leon, yang sedang menyusun novel-novel lama di rak, langsung menoleh. Seorang perempuan berdiri di ambang pintu sambil membawa dua kotak kardus besar. Rambutnya diikat seadanya, dengan beberapa helai jatuh di sekitar wajah. Pipinya sedikit memerah, entah karena kepanasan atau karena baru saja mengangkat kardus berat.

"Ini kardus bahan kue saya letakkan di mana?"

Leon menatap kardus tersebut, kemudian menatap perempuan itu.

"Di mana pun, asalkan bukan di sini."

Perempuan itu mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena ini toko buku."

"Saya tahu."

"Dan itu bahan kue."

"Saya juga tahu."

"Berarti pertanyaan saya sudah terjawab."

Perempuan itu memandangnya selama beberapa detik, lalu menghela napas.

"Kadang-kadang saya heran mengapa pemilik toko buku bisa sepelit ini."

"Ini bukan soal pelit."

"Lalu?"

"Ini soal ruang."

Perempuan itu menunjuk ke arah sudut bangunan yang hanya dipisahkan oleh papan kayu tua.

"Ruang sebelah itu juga bagian dari bangunan ini, bukan?"

"Iya."

"Dan saya menyewanya."

"Iya."

"Berarti saya berhak menggunakan ruang saya."

Leon terdiam. Ia tidak dapat membantah.

Perempuan itu akhirnya tersenyum puas.

"Nama saya Lily."

"Apa?"

"Nama saya. Supaya kita tidak selalu bertengkar tanpa mengetahui nama masing-masing."

Leon menatap tangan yang terulur kepadanya.

"Lily."

"Iya."

"Leon."

"Saya tahu."

"Kalau sudah tahu, mengapa bertanya?"

"Saya hanya ingin memastikan."

Leon mendengus kecil. Lily tertawa. Itulah pertama kalinya Leon mendengar tawa perempuan itu. Dan ia belum tahu bahwa suara tersebut kelak akan menjadi salah satu suara yang paling ia nantikan setiap hari.

***

Masalah pertama muncul tiga hari kemudian. Aroma vanila yang sangat kuat. Aroma manis itu memenuhi toko buku hingga Leon merasa setiap halaman buku yang dibukanya mengandung gula. Ia berjalan menuju pintu yang menghubungkan toko buku dengan ruangan sebelah.

"Lily."

Tidak ada jawaban.

"Lily."

Masih tidak ada.

Leon pun masuk.

Perempuan itu sedang berdiri di depan oven kecil dengan wajah penuh tepung.

"Ada apa?"

"Bisakah aromanya dikurangi?"

Lily menoleh.

"Memangnya aroma bisa dikurangi?"

"Kalau bisa, tolong."

Lily tertawa.

"Ini kue vanila."

"Saya tahu."

"Kalau begitu, memang aromanya vanila."

"Saya juga tahu."

"Lalu apa masalahnya?"

Leon menunjuk ke arah rak buku.

"Pengunjung saya."

Lily memiringkan kepalanya.

"Ada apa dengan pengunjung?"

"Mereka jadi lapar."

Lily terdiam, kemudian tertawa semakin keras.

"Jadi, masalahnya bukan aroma kuenya?"

"Masalahnya, mereka membeli buku sambil bertanya apakah saya menjual makanan."

Lily menahan tawa.

"Kalau begitu, kita punya solusi."

"Apa?"

"Kita jual sekalian."

Leon mengerutkan keningnya.

"Menjual apa?"

"Kue."

"Di toko buku?"

"Mengapa tidak?"

"Karena ini toko buku."

"Dan ruang sebelahnya toko kue."

Leon memijat pelipisnya. Entah bagaimana, setiap percakapan dengan Lily selalu membuatnya kehilangan argumen.

***

Seminggu kemudian, sebuah meja kecil diletakkan di dekat pintu penghubung kedua ruangan. Di atasnya terdapat beberapa potong kue vanila dalam wadah transparan. Sebuah kertas kecil ditempelkan di depannya.

'Kue vanila — buatan Lily."

Di bawahnya terdapat tulisan tangan Leon.

"Baca buku, makan kue, dan jangan berisik."

Lily memprotes tulisan itu.

"Kenapa harus ada bagian 'jangan berisik'?"

"Karena ini toko buku."

"Kamu ini obsesif sekali dengan toko buku."

"Karena saya bekerja di sini."

Lily menyilangkan tangannya.

"Kalau begitu, saya juga obsesif dengan kue."

"Silakan."

"Dan saya akan terus membuatnya."

"Silakan."

"Dan suatu hari nanti saya akan memiliki toko kue sendiri."

Leon berhenti menyusun buku. Ia menatap Lily.

"Serius?"

Lily mengangguk.

"Serius."

Senyumnya kali ini berbeda. Tidak seperti ketika mereka bertengkar. Ada sesuatu yang lebih lembut di sana.

"Saya ingin memiliki toko kecil," Ucap Lily. "Bukan toko mewah. Cukup tempat yang hangat, dengan aroma mentega, vanila, dan kopi. Orang-orang dapat duduk sambil menikmati kue."

Leon tersenyum tipis.

"Bagus."

"Bagaimana dengan kamu?"

"Apa?"

"Impianmu."

Leon terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya sulit menjawab. Ia melihat sekeliling. Rak-rak tua, buku-buku bekas, dan meja kasir yang catnya mulai mengelupas.

"Saya..."

Pria itu menghela napas.

"Saya dulu ingin menjadi penulis."

Lily terkejut.

"Kamu?"

"Iya."

"Kamu bisa menulis?"

"Mengapa terdengar seperti penghinaan?"

"Bukan begitu."

Lily tersenyum.

"Mengapa berhenti?"

Leon tidak langsung menjawab.

"Dulu saya pikir memiliki impian itu mudah."

Pria itu menatap buku yang ada di tangannya.

"Yang sulit ternyata percaya bahwa kita pantas mendapatkannya."

Lily terdiam. Untuk pertama kalinya, tidak ada candaan dan tidak ada perdebatan. Hanya suara jam tua yang berdetak di dinding.

"Saya juga sering merasa begitu," kata Lily pelan.

Leon menatapnya.

"Saya takut kue saya tidak cukup enak."

"Saya takut tulisan saya tidak cukup bagus."

"Kalau begitu..."

Lily tersenyum.

"Kita sama."

***

Hari-hari berikutnya berubah. Lily mulai meninggalkan beberapa kue untuk Leon. Pria itu sendiri mulai memberikan buku resep bekas yang ia temukan di antara tumpukan buku lama.

Lily membaca novel ketika menunggu kuenya matang. Sedangkan Leon sendiri menulis ketika toko sedang sepi. Mereka mulai bekerja dalam keheningan yang nyaman. Kadang Lily bertanya tentang tokoh dalam buku. Kadang Leon mencicipi kue baru dan memberikan komentar.

"Terlalu manis."

"Serius?"

"Iya."

Lily mencicipinya sendiri.

"Menurut saya biasa saja."

"Karena lidahmu sudah rusak."

"Berani sekali."

"Tetapi teksturnya bagus."

Lily tersenyum.

"Berarti kamu suka?"

Leon mengangguk.

"Suka."

Aneh. Kata sederhana itu membuat pipi Lily memerah.

***

Namun, tidak semua hari berjalan baik. Suatu sore, Lily menemukan Leon sedang duduk di belakang meja kasir dengan sebuah naskah di depannya. Kertas-kertas itu penuh dengan coretan.

"Apa itu?"

Leon buru-buru menutupnya.

"Bukan apa-apa."

Leon mengambil salah satu lembar yang terjatuh.

"Ini tulisanmu?"

Leon mengangguk.

"Bagus."

"Kamu belum membacanya."

"Saya membaca sedikit."

"Sedikit saja."

"Tetapi bagus."

Leon tersenyum pahit.

"Kalau bagus, mengapa saya tidak pernah berani mengirimkannya?"

Lily terdiam. Ia mengembalikan kertas itu.

"Mungkin karena kamu terlalu sibuk memikirkan apakah orang lain akan menyukainya."

Leon menatapnya.

"Kamu juga begitu."

Lily tersenyum kecil.

"Iya."

Perempuan itu mengambil celemeknya.

"Bedanya, sekarang saya sedang belajar berhenti."

"Berhenti apa?"

"Berhenti takut."

Lily berjalan menuju pintu. Sebelum pergi, ia menoleh.

"Kalau kuemu gagal, saya akan membuatnya lagi."

Lily menunjuk naskah milik Leon.

"Kalau tulisanmu ditolak, kamu kirim lagi."

Leon tertawa pelan.

"Kamu pikir sesederhana itu?"

"Tidak."

Lily tersenyum.

"Tetapi kalau kita tidak mencoba, kita sudah kalah bahkan sebelum mulai."

***

Beberapa bulan berlalu. Bangunan tua itu masih berderit ketika hujan turun. Atapnya masih bocor. Lantainya masih berbunyi setiap kali seseorang berjalan. Namun, ada sesuatu yang berubah.

Di toko buku, sebuah papan kecil tergantung di dinding.

"Toko Buku Bekas — Baca Pelan-Pelan."

Di ruangan sebelah, sebuah papan lain baru saja selesai dipasang.

"Lily Oven — Segera Hadir."

Lily berdiri di depan papan itu sambil tersenyum lebar.

"Akhirnya."

Leon berdiri di sampingnya.

"Sudah yakin?"

Lily mengangguk.

"Iya."

"Takut?"

"Sedikit."

Leon tersenyum.

"Saya juga."

Lily menoleh.

"Kenapa?"

Leon mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya.

"Saya sudah mengirimkan naskah saya."

Lily melebarkan matanya.

"Serius?"

Leon mengangguk.

"Sudah."

"Dan?"

"Belum ada jawaban."

Lily langsung tertawa.

"Berarti sekarang kita sama-sama menunggu."

Leon mengangguk. Mereka berdiri di depan bangunan tua itu. Senja perlahan turun. Aroma vanila keluar dari jendela ruangan sebelah, menyatu dengan aroma buku-buku lama yang memenuhi toko.

Leon menatap Lily.

"Dulu saya tidak menyukai aroma vanila."

Lily tersenyum.

"Sekarang?"

Leon berpikir sejenak.

"Sekarang saya pikir toko buku tanpa aroma vanila terasa terlalu sepi."

Lily menatapnya.

"Kalau begitu..."

Perempuan itu tersenyum malu.

"Berarti kamu sudah terbiasa denganku?"

Leon tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, kemudian membuka pintu toko.

"Besok buatkan saya kue."

"Yang mana?"

"Yang paling enak."

"Kenapa?"

Leon menoleh.

"Karena saya ingin merayakan sesuatu."

"Apa?"

"Karena hari ini kita berdua akhirnya berani mengejar impian."

Lily tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak takut jika mimpinya terlalu besar. Sebab sekarang ia tahu, seseorang akan selalu ada di sisinya. Seseorang yang mungkin pada awalnya terganggu oleh aroma vanila. Namun, pada akhirnya, justru belajar menyukai aroma itu.

Di antara buku-buku lama dan aroma vanila, dua orang yang sempat meragukan diri sendiri akhirnya menemukan keberanian. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi mudah. Melainkan karena mereka tidak lagi berjalan sendirian. Dan mungkin, begitulah cinta tumbuh. Tidak selalu melalui pertemuan yang dramatis.

Kadang, cinta tumbuh perlahan. Di antara rak buku. Di balik pintu toko. Dalam secangkir kopi yang dibagi berdua. Atau melalui aroma vanila yang memenuhi ruangan tua pada sore hari.