Aku selalu percaya bahwa tempat terbaik untuk menulis adalah tempat yang sunyi, di mana pikiran bisa mengalir tanpa gangguan. Itulah sebabnya aku memilih tempat baru di sudut kecil di belakang rumah. Sebuah ruang terbuka yang dikelilingi pohon bambu, jati, kelapa, dan alpukat yang tumbuh liar seperti tak pernah dijamah waktu.
Di pagi hari, tempat itu seperti potongan surga yang jatuh ke bumi. Burung-burung berkicau tanpa jeda, bersahutan seakan membentuk orkestra alami. Tupai-tupai melompat lincah dari ranting ke ranting, seperti penari kecil yang tak kenal lelah.
Dari tempat ini juga aku bisa melihat hamparan sawah hijau membentang, di kejauhan berdiri pegunungan yang tampak biru samar, dan suara kendaraan dari jalan raya menjadi latar yang menenangkan.
Namun, malam mengubah segalanya. Malam pertama aku mencoba menulis di sana, aku datang dengan penuh semangat. Setelah istri dan anakku tertidur, aku membawa laptop dan secangkir kopi hangat. Udara malam terasa sejuk, sedikit lembap, tapi masih nyaman. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya menjadi teman yang tak mengganggu.
Aku mulai menulis. Awalnya, semuanya biasa saja. Sesekali terdengar kendaraan melintas, meski semakin lama semakin jarang. Jalan raya perlahan sepi, seolah dunia di luar sana ikut terlelap. Hanya aku yang masih terjaga.
Lalu, sesuatu berubah. Aku mendengar suara “duk” keras dari arah pohon kelapa. Seperti sesuatu jatuh dari ketinggian. Aku menoleh cepat, mencoba menangkap bayangan di antara gelap, tapi tak ada apa-apa. Hanya daun-daun yang bergoyang pelan.
“Mungkin buah kelapa,” gumamku, mencoba menenangkan diri.
Aku kembali menatap layar.
Beberapa menit berlalu, lalu terdengar suara lain. Pelan, nyaris seperti angin tapi bukan.
Suara itu adalah suara tangisan, datang dari semak-semak bambu.
Aku membeku. Tangisan itu lirih, seperti seseorang menahan sakit. Kadang terdengar seperti anak kecil, kadang seperti perempuan dewasa. Tak jelas. Suaranya bergetar, naik turun, dan terlalu dekat.
Aku menahan napas. Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
“Ini cuma perasaan,” kataku dalam hati, meski tubuhku mulai dingin.
Tapi suara itu tidak berhenti. Justru semakin jelas.
Aku perlahan menoleh ke arah rumpun bambu. Gelap di sana terasa lebih pekat, seperti menelan cahaya. Angin tiba-tiba berhembus, membuat batang-batang bambu berderit saling bergesekan.
Lalu, sesuatu melesat sangat cepat. Seperti bayangan hitam yang terbang dari satu pohon ke pohon lain. Aku hanya sempat melihat sekilas, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhku kaku. Itu bukan burung. Terlalu besar. Tidak wajar.
Laptopku masih menyala, tapi aku tak lagi peduli pada tulisan.
Tangisan itu tiba-tiba berhenti. Sunyi. Sunyi yang terlalu sunyi. Justru itu yang paling menakutkan.
Aku berdiri perlahan. Kakiku terasa berat, seperti ada yang menahan. Saat aku hendak melangkah pergi, terdengar suara di belakangku. Sangat dekat.
Suara itu berbisik tepat di telingaku. Aku tersentak dan menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa.
Tapi aku bisa merasakan sesuatu berdiri di sana. Sangat dekat. Terlalu dekat. Napasnya seperti menyentuh tengkukku. Dingin, basah, dan bukan milik manusia.
Tanpa berpikir panjang, aku meraih laptop dan berlari. Aku tak menoleh lagi. Suara langkah kakiku di tanah terdengar seperti gema yang memantul di kepalaku sendiri. Aku masuk rumah, menutup pintu, dan menguncinya dengan tangan gemetar.
Malam itu, aku tidak berani kembali. Aku pilih berbaring di samping istri dan anakku, mencoba memejamkan mata. Tapi sebelum aku benar-benar tertidur, aku mendengar sesuatu dari luar jendela kamar.
Ketukan pelan, "Tok… tok… tok…"
Lalu, suara yang sama, lebih lirih, lebih dekat.
“Akhhhhhhh.....”
Sejak malam itu, aku tak pernah lagi menulis di belakang rumah saat gelap. Karena aku tahu, tempat itu bukan milikku seorang. Tetapi, ada yang lain, dan ia tahu aku pernah mendengarnya.
Baca Juga
-
Ingin Beli Galaxy S26 FE Lebih Hemat? Ini Cara Dapat Potongan Rp500 Ribu
-
Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?
-
Ponsel Lipat Harga Mulai Rp30 Juta! Apa Saja Kehebatan iPhone Duo?
-
Buku Islam & Kebangsaan: Menemukan Wajah Islam dalam Rumah Kebangsaan
-
Samsung Galaxy S26 FE Hadir di Indonesia, Teman Andalan Anak Muda Wujudkan Ide Kreatif
Artikel Terkait
-
Misteri Lampu Petromax, Siapakah Lelaki Pengantar Makanan Tengah Malam Itu?
-
Perempuan Misterius yang Menyeberang Jalan di Tengah Malam
-
Mengubah Hutan Bambu Jadi Sumber Kehidupan, Langkah Nyata Green Action 2026
-
Awe-Awe Kedua dari Balik Pohon Tua di Tikungan Gumitir
-
Mata yang Mengintip dari Dalam Air
Cerita-misteri
Terkini
-
Sering Capek Padahal Nggak Ngapa-ngapain? Bisa Jadi Otakmu 'Kelebihan Muatan'
-
Tidur Sekasur tapi Rasanya Seperti Teman Sekamar? Kenali 5 Tanda Pernikahan Sedang Sekarat
-
Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom
-
Distraksi Patah Hati: Belajar Melepaskan dan Terluka Sewajarnya
-
Ingin Beli Galaxy S26 FE Lebih Hemat? Ini Cara Dapat Potongan Rp500 Ribu