M. Reza Sulaiman | Rohmatul Hidayah
ilustrasi fanwar (pixabay)
Rohmatul Hidayah

Akhir-akhir ini menjadi penggemar K-pop yang mengikuti banyak grup sekaligus, atau biasa disebut multifandom, terasa menyenangkan sekaligus menguras emosi. Hampir setiap hari lini masa di X, intstagram, dan tiktok dipenuhi perdebatan antarfandom, entah soal rekor penjualan album, jumlah viewers MV, encore, hingga masalah kostum panggung yang dianggap mirip.

Bagi penggemar yang hanya loyal pada satu grup, situasi ini mungkin terasa biasa saja karena mereka berada di satu sisi barisan. Namun bagi penggemar multifandom, posisi ini justru terasa seperti berada di tengah tawuran antarsekolah, di mana kita mengenal dan berteman baik dengan anak-anak dari kedua sekolah yang sedang bertikai.

Contoh fanwar ini bisa dilihat ketika ada dua fandom grup yang berselisih dengan alasan saling membandingkan jumlah viewers streaming MV di youtube, jumlah pendengar lagu di spotify. Adapula perselisihan antar fans yang disebabkan karena jadwal comeback yang berdekatan, beberapa property atau fashion yang mirip dan hal hal lainnya. 

Bagi penggemar multifandom, momen-momen semacam ini bukan menjadi hiburan, melainkan sumber kegelisahan tersendiri, seperti dipaksa memilih pihak, padahal dari awal tidak ada niat untuk bermusuhan dengan siapa pun.

Dilema di Tengah Perseteruan

Jika dicermati kembali, fenomena fanwar ini sebenarnya bukan sekadar debat biasa, melainkan bagian dari budaya kompetitif yang 'mungkin' sengaja dipelihara oleh sebagian oknum penggemar. Ketika satu fandom mulai adem dan malas melayani, selalu ada saja pihak dari fandom lain yang mencari celah untuk memantik kembali perseteruan. Pola ini terus berulang dengan pokok masalah yang diributkan sering kali tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan untuk bertengkar.

Yang membuat situasi ini semakin ironis, dampak dari fanwar yang tidak jelas ujung pangkalnya ini justru seringkali dirasakan langsung oleh para idola yang diperebutkan. Tidak sedikit idol K-pop yang tampak semakin berhati-hati ketika harus berinteraksi dengan idol dari grup lain di depan kamera. Padahal dulu, momen-momen kecil seperti bisik-bisik ringan di panggung penghargaan, konten challenge bersama, atau sekadar saling sapa santai justru menjadi pemandangan yang menyegarkan dan dinantikan penggemar.

Pergeseran sikap para idola ini bukan tanpa alasan. Semakin intens fanwar yang terjadi, semakin besar pula risiko interaksi sekecil apa pun antaridola disalahartikan oleh fans masing-masing, lalu berubah menjadi amunisi baru untuk saling menyerang di media sosial. Akibatnya, banyak idola memilih menjaga jarak demi menghindari kontroversi yang sebenarnya tidak pernah mereka ciptakan sendiri. Padahal, bisa jadi di balik panggung, hubungan antaridola dari grup berbeda bisa jadi jauh lebih akrab dibanding yang terlihat oleh publik, karena industri hiburan Korea Selatan memang kerap mempertemukan mereka dalam berbagai acara bersama.

Kembali pada Esensi Hiburan

Situasi ini pada akhirnya mengingatkan pada tujuan awal seseorang menggemari K-pop, yaitu mencari hiburan dan tempat pelarian yang menyenangkan di tengah rutinitas dunia nyata yang melelahkan. K-pop semestinya berfungsi sebagai ruang pulang untuk mengistirahatkan pikiran, bukan menjadi sumber stres baru akibat perang antarfandom yang seolah tidak pernah reda. Ketika fanwar terus dipelihara, yang rugi bukan hanya sesama penggemar yang saling serang, tetapi juga idola yang justru menjadi korban dari persaingan yang mereka sendiri tidak minta.

Menyukai satu grup semestinya tidak perlu berarti membenci grup lain. Sebagai penggemar multifandom, memiliki banyak pilihan lagu dan kebahagiaan yang berlipat ganda sebenarnya adalah privilege tersendiri, asalkan tidak ikut terseret menambah beban pikiran dengan bergabung dalam fanwar yang pada dasarnya tidak pernah benar-benar memiliki pemenang.